PROSES PENEMUAN MAKNA HIDUP MAHASISWA DIFABEL NETRA DI UIN SUNAN KALIJAGA
PIHASNIWATI, Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam, SU.
2014 | Tesis | S2 PsikologiTujuan penelitian ini adalah untuk memahami proses penemuan makna hidup mahasiswa difabel netra di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Responden pada penelitian berjumlah empat orang. Dua orang menempuh studi di program S1 Fakultas Tarbiyah dan dua orang menempuh studi di program pasca sarjana pada jurusan Hukum Islam dan jurusan Kependidikan Islam. Ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi penghayatan hidup tak bermakna di awal tuna netra, tema-tema kebermaknaan hidup, sumber makna hidup, konteks yang menyertai, tantangan menjangkau dan menjalani pendidikan hingga perguruan tinggi, serta bagaimana peran spiritualitas dalam proses penemuan makna hidup. Proses penemuan makna hidup difabel netra dapat digambarkan berdasar tahapan pengalaman yang dilalui dari pengalaman pertama tunanetraa hingga pengalaman menjangkau pendidikan tinggi. Setiap tahapan memuat nilai-nilai penghayatan, nilai-nilai kreatif, nilai-nilai bersikap, dan nilai-nilai pengharapan, yang disebut sebagai sumber makna hidup. Proses penemuan makna hidup berlangsung dalam tahapan berikut : Tahap derita (diwakili pengalaman derita dan penghayatan hidup tak bermakna); Tahap penerimaan derita (mulai terjadi saat berbaur dengan sesama difabel netra di lembaga ketunanetraan); Tahap pengenalan dan pengembangan potensi diri (melalui eksplorasi minat studi, seni, dan olahraga hingga mengikuti perlombaan dan meraih prestasi); Tahap pembukaan diri-inklusif (melalui pengalaman di sekolah inklusi); Tahap perluasan diri (melalui pengalaman di perguruan tinggi dan berorganisasi); Tahap penemuan makna hidup (mengalami proses refleksi yang kaya terhadap perjalanan hidup); dan Tahap pengembangan makna hidup (komitmen dalam kegiatan yang ditekuni, ingin mengabdi, memiliki cita-cita dan orientasi masa depan). Satu responden menemukan makna hidup melalui sistem nilai piramidal (pyramidal value system) dan tiga responden menemukan makna hidup melalui sistem nilai paralel (parallel value system). Responden yang menemukan makna hidup melalui sistem nilai paralel memiliki kestabilan emosi dan sikap yang lebih matang dibandingkan dengan responden yang menemukan makna hidup melalui sistem nilai piramidal. Spiritual merupakan aspek sentral yang mengaktifkan proses penemuan dan pengembangan makna hidup.
The purpose of the research is to understand the meaning of life finding process of visually handicapped students at UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. The research applies phenomenology qualitative approach. The respondents consist of four visually handicapped students at UIN Sunan Kalijaga. Two of them are studying at Faculty of Tarbiyah dan the two next are finishing their study of Law Magister Program and Islamic Education, respectively. There are found some factors affecting the meaningless living the life at early age of blindness, meaning of life themes, meaning of life sources, accompanying contexts, challenges to pursue and enjoy a college life, and role of spirituality in meaning of life finding process. Meaning of life finding process of visually handicapped students can be described base on experience phases passed as from their first blindess’ experience to the experience to pursue a college life. Each of those stages has living values, creative values, values to behave, and expectation values which are called as meaning of life sources. Meaning of life finding process is as follows: Suffering phase (represented by suffering experience and meaningless living the life); Suffer-acceptance phase (begins on their initial contacts with other visually handicapped individuals at their relevant institutions); Self-opening phase (through their experience at inclusion schools; Self-expanding phase (through their experience at university); Meaning of life finding phase (when they experience various reflections toward life journey); and Meaning of life development phase (when they have commitment in their focused activities, have a desire to devote, have their goal and future orientation). One respondent finds her meaning of life through pyramidal value system and three respondents find their meaning of life through parallel value system. The respondents who find meaning of life through parallel value system have more mature emotional stability and behaviour compared to the respondent finding meaning of life through pyramidal value system. Spirituality is the central aspect which activates the finding and development processes of meaning of life.
Kata Kunci : Kebermaknaan hidup, mahasiswa difabel netra, proses penemuan makna hidup, sistem nilai piramidal, sistem nilai paralel, spiritualitas, meaning of live, visually handicapped students, meaning of life finding process, pyramidal value system, paralel value s