INDUKSI PEMBUNGAAN TANAMAN ANGGREK Phalaenopsis amabilis (L) Blume DENGAN PERLAKUAN BENZILADENIN SECARA IN VITRO
BEKTI SULISTYA UTAMI, Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc
2014 | Tesis | S2 BiologiAnggrek adalah tanaman hias yang ditanam untuk dinikmati bunganya. Salah satu upaya peningkatan pemuliaan tanaman anggrek adalah dengan mengoptimalkan teknik budidaya dengan mempercepat waktu inisiasi pembungaan secara in vitro. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Benziladenin dalam memacu pembungaan anggrek bulan asli Indonesia Phalaenopsis amabilis (L.) Blume secara in vitro. Induksi pembungaan dilakukan dengan penambahan BA (0 , 1, 3, 5, 7 dan 9) ppm. Biji anggrek ditanam pada medium New Phalaenopsis (NP) yang ditambah 15 % air kelapa hingga berumur 8 minggu, kemudian disubkultur pada medium NP cair yang ditambah BA berbagai konsentrasi selama 9 minggu dengan penggojogan. Kultur selanjutnya dipindah pada medium 2 lapis (padat/cair = 4/1(ml)). Kultur dipelihara pada suhu 250C dengan kondisi pencahayaan 6 jam gelap dan 18 jam terang. Pengamatan dilakukan setiap 2 minggu dengan mengukur panjang daun, panjang akar, lebar daun, lebar akar, jarak tumbuh antar daun, menghitung jumlah daun, jumlah akar yang terbentuk. Data dianalisis dengan ANOVA, α 0,05. Deteksi pembungaan dilakukan dengan RT – PCR (Reverse Transcriptation Polymeration Chain Reaction) untuk mengetahui ada / tidaknya akumulasi mRNA pada tanaman hasil perlakuan dengan primer spesifik gen POH1 (Phalaenopsis Orchid Homeobox 1) dan gen PaFT (Phalaenopsis amabilis Flowering Locus T). Gen POH1 adalah gen berfungsi pada fase juvenil untuk inisiasi pembentukan tunas, sedangkan gen PaFT untuk inisiasi pembungaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induksi pembungaan dengan perlakuan BA belum menunjukkan adanya inflorescence/calon bunga, tetapi ukuran panjang daun dan akar, jumlah daun dan akar, lebar daun dan akar serta jarak antar tumbuh daun dengan perlakuan BA 9, rata-rata perkembangan organ vegetatif lebih sedikit dari non perlakuan. Analisis RT – PCR menunjukkan adanya akumulasi mRNA gen juvenil POH1 maupun PaFT yang menunjukkan bahwa gen tersebut teraktivasi dengan intensitas yang tinggi pada tanaman umur 28 MST dengan perlakuan BA berbagai konsentrasi. Sementara pada tanaman non perlakuan dengan umur yang sama hanya mRNA gen POH1 yang terdeteksi. Hal ini menunjukkan bahwa aktivasi gen PaFT telah terinduksi oleh perlakuan BA pada umur 28 MST. Belum munculnya bunga kemungkinan disebabkan adanya faktor lain yang mempengaruhi proses post-transkripsional atau posttranslasional yang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Orchid are ornamental plants that grown cultivated for the flowers. One of the efforts to improve orchid breeding is by optimalizing cultivation techniques through flower forcing. The objective of this study is to accelerate flowering time through to understand the effect of Benzyladenine (BA) on flowering of indonesian wild orchids Phalaenopsis amabilis (L.) Blume using in vitro culture. The flowering induction was carried out by addition BA (0, 1, 3, 5, 7 and 9) ppm growht regulator. The seeds were spreaded on New Phalaenopsis (NP) medium containing 15% coconut milk for 8 weeks, then subcultured in liquid medium NP + BA treated with various concentrations of BA for 9 weeks with shaking. The culture subsequently were transferred on to the 2 layer medium (solid: liquid = 4:1). The culture is maintained on 25â°C with continue lighting. Observations were made by counting the leaf and root length and weight, number of leaf and root formed. The data were analyzed using ANOVA, α 0.05. Flowering detection is done by RT - PCR (Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction) with specific gene of Phalaeonopsis Orchid Hemeobox (POH1) and Phalaeonopsis amabilis Flowering Locus T (PaFT). To determine whether PaFT gene had been activated in analyzed plant or not and for comparison of the efficiency of the RT-PCR the expression of POH1 gene was also performed for POH1 gene (juvenile gene). The accumulation of mRNA was detected for both POH1 and PaFT genes in 28 weeks old plants. On the other hand in nontreatment plants, only POH1 mRNA was detected. These data suggest that BA treatment induced activation of PaFT gene in juvenile stage, but also extend the activation the POH1 as juvenile gene. No flowering can be induced yet, because of redundancy and antagonism between POH1 and PaFT genes might be occurred, or any posttranscription or post translational events happened.
Kata Kunci : Anggrek Phalaenopsis amabilis, Pembungaan, Benziladenin, PaFT, RT-PCR