Laporkan Masalah

PEMANFAATAN DATA GEOMETRI SUNGAI UNTUK ANALISIS PETA DAERAH GENANGAN BANJIR SEBELUM DAN SETELAH DIBANGUN FLOODWAY PLANGWOT-SEDAYU LAWAS (Studi Kasus Wilayah Sungai Bengawan Solo Bagian Hilir)

NOVIANINGRUM EKARINA SUDARYANTO, Ir. Waljiyanto, M.Sc.

2014 | Tesis | S2 Teknik Geomatika

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Peristiwa banjir sering timbul jika curah hujan tinggi yang menyebabkan aliran debit di sungai besar sehingga melebihi kapasitas tampang sungai. Di Indonesia banjir merupakan bencana alam yang biasa terjadi setiap tahunnya. Oleh karena itu sangat dibutuhkan suatu program pengendalian terhadap banjir. Floodway (jalan banjir) adalah salah satu cara untuk mengendalikan terjadinya banjir. Diharapkan dengan dibangunnya floodway dapat mengurangi daerah genangan banjir. Dalam penelitian ini mengkaji seberapa efektifkah pembangunan floodway terhadap perubahan genangan banjir di wilayah sungai. Studi kasus dalam penelitian ini adalah floodway yang dibangun di Wilayah Sungai Bengawan Solo bagian hilir. Pada penelitian ini dipilih 8 (delapan) titik pengukuran untuk pengolahan data. Pemilihan titik ini mempertimbangkan cakupan daerah sebelum dan setelah dimana floodway Plangwot-Sedayu Lawas dibangun. Pengolahan data untuk mengetahui perubahan daerah genangan banjir setelah ada floodway dengan mengunakan software HEC RAS dan ArcView 3.1. Proses pengolahan data penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) skenario model hidraulika, yaitu model hiraulika sebelum ada floodway (tahun 1994) dan setelah ada floodway (tahun 2011) dengan kala ulang (Q) 10 tahunan, Q20 tahunan dan Q50 tahunan. Secara umum antara tahun 1994 sampai dengan tahun 2011 (dalam kurun 17 tahun) terjadi pengurangan daerah genangan banjir. Hal tersebut terlihat dari berkurangnya daerah genangan banjir pada penggunaan lahan di daerah setempat. Pada Q10 tahunan terjadi pengurangan daerah banjir seluas 543,71 hektar, yaitu dari luas total daerah genangan 14.341,28 hektar pada tahun 1994 menjadi 13.797,57 hektar pada tahun 2011. Pada Q20 tahunan terjadi pengurangan daerah banjir seluas 5.322,78 hektar, yaitu dari luas total daerah genangan 19.382,71 hektar pada tahun 1994 menjadi 14.059,93 hektar pada tahun 2011. Pada Q50 tahunan terjadi pengurangan daerah banjir seluas 5.893,36 hektar, yaitu dari luas total daerah genangan 20.406,87 hektar pada tahun 1994 menjadi 14.513,51 hektar pada tahun 2011. Pengurangan luas daerah genangan banjirmenunjukkan bahwa floodway Plangwot-Sedayu Lawas dinilai masih efektif untuk pengendalian banjir di Bengawan Solo bagian hilir.

Flood is an event when the land is submerged by water. Events of flood often arise when heavy rainfall occur, which increase the discharge flow and exceeds the capacity of the river. Flood is an annual disaster happen across Indonesia. Hence it is needed a course to control over flood. Floodway (designed canal for flood) is one way to control flood. It is expected that building a floodway will decrease the inundated area. This study aimed to review how effective a floodway construction to the changing inundated area of the river area. Case study of the floodway constructed in the downstream of Bengawan Solo river basin. This research use eight (8) measurement points for data processing. The point selection based on the coverage area before and after the construction of the Plangwot-Sedayu Lawas floodway. Data processing use to know the changing of the inundated area after construction of the floodway use HEC RAS and ArcView 3.1 software. This data processing was divided into 2 (two) scenarios of hydraulics model, the hydraulic model before (1994) and after the construction of floodway (2011), with flood return period (Q) of 10 years, Q20 and Q50. In general, between 1994 to 2011 (within the period of 17 years) there has been a reduction in flood inundation area. This is evident from the reduction in flood inundation areas on land use in the local area. A reduction on the Q10 (a 10 years flood return period) flood area cover 543.71 hectares, from the total inundation area of 14.341.28 hectares in 1994 to 13.797.57 hectares in 2011. A reduction on the Q20 (a 20 years flood return period) flood area cover 5.322.78 hectares, from the total inundation area of 19.382.71 hectares in 1994 to 14 059.93 hectares in 2011. A reduction on the Q50 (a 50 years flood return period) flood area cover 5.893.36 hectares, from the total inundation area of 20.406.87 hectares in 1994 to 14.513.51 hectares in 2011. The reduction in the flood inundation area, indicates that floodway Plangwot-Sedayu Lawas effectively considered for flood control on the downstream of Solo River Basin.

Kata Kunci : Geometri, Floodway, Hec GeoRas, Peta Daerah Genangan Banjir


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.