AKSI KEKERASAN MASYARAKAT LOMBOK TERHADAP PENYEBARAN ISU PENCULIKAN DI PULAU LOMBOK, NTB TAHUN 2012
Irja Padriano, S. STP, DR. Poppy S. Winanti, MPP., M.Sc.
2014 | Tesis | S2 Magister Perdamaian & Resolusi Konflik21 Oktober 2012, berawal dari tersebarnya isu penculikan lewat pesan sms/bbm dan dari mulut ke mulut di Lombok, muncul kerusuhan yang sadis dan brutal masyarakat Lombok terhadap terduga pelaku penculikan, mengakibatkan 5 (lima) korban tewas di 4 (empat) tempat berbeda di Pulau Lombok. Patut dipertanyakan, mengapa aksi kekerasan masih kerap menjadi propaganda popular masyarakat Lombok ditengah munculnya bahaya laten konflik sara antara masyarakat Lombok-Sasak dengan masyarakat Hindu-Bali hingga saat ini. Teori Johan Galtung tentang segitiga kekerasan menyebutkan bahwa kekerasan langsung yang terlihat dipengaruhi oleh kekerasan tersembunyi baik secara struktural maupun kultural. Dalam menganalisa dan menemukan penyebab fenomena-fenomena aksi kekerasan di Lombok, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif analitik dengan mengandalkan wawancara semi terstruktur dan observasi di lapangan dalam pengumpulan data. Berdasarkan fakta di lapangan, jika dikaitkan dengan 4 (empat) konsep kekuasaan yang diungkapkan oleh Galtung, maka kekerasan di Lombok telah bermetamorfosis menjadi budaya, disebabkan oleh dendam lama dan prasangka yang berawal dari konflik Lombok-Sasak dengan Hindu-Bali sejak zaman pendudukan Kerajaan Bali. Berkembangnya stigma kafitui (musuh bebuyutan) terhadap masyarakat Hindu-Bali, bergesernya patron adat ke patron agama yang beralih pola kepemimpinan kepartaian, serta didukung dominasi kapitalisme asing, maka memunculkan rasa imperialisme masyarakat Lombok-Sasak terhadap superioritas masyarakat Hindu-Bali di Lombok. Energi-energi ketegangan konflik tersebut perlu diurai dari waktu ke waktu. Butuh peran aktif dan dukungan patron adat dan institusi pendidikan, serta keberpihakan pemerintah tentunya dalam setiap tahapan rekonsiliasi.
October 21,2012, started from the spread of abduction issue through short message/bbm and word to mouth in Lombok, there are sadistic and brutal riots of Lombok society to the suspect of abduction, resulting in five deaths in four different places in Lombok Island. Questionable, why violence is often a popular propaganda Lombok society amid the emergence of a latent sara danger conflict between Lombok society-Sasak and Hindu society-Bali today. Johan Galtung on triangle theory states that violence directly visibled is affected by hidden violence structurally and culturally. In analyzing and finding the violence phenomena cause in Lombok, author uses description qualitative analytical methods relying on semi-structured interviews and observations in the field data collection. Based on facts on the field, if associated with four concept of power expressed by Galtung, violence in Lombok has morphed into a culture, caused by old revange and prejudices from Lombok-Sasak and Hindu-Bali conflict since Bali Monarchy occupation. The development of kafitui stigma (mortal enemies) against Hindu society-Bali, shifting traditional patron to religious patron are switching patterns to leadership party, and supported by foreign capitalism domination, then bring an imperialism sense of Lombok society-Sasak to the superiority of Hindu society-Bali in Lombok. Strain conflict energies need to be revealed from time to time . It takes active role, traditional patrons support, educational institutions and government concern in every reconciliation stage.
Kata Kunci : Aksi Kekerasan, Segitiga Kekerasan, Kekerasan Menjadi Budaya, Imperialisme Terhadap Superioritas.