Laporkan Masalah

NAMANYA JUGA PROYEK UJI COBA: Teknologi Kepengaturan dan Unintended Outcomes pada Aktivitas Demonstrasi REDD+ di Kalimantan Tengah

Manggala Ismanto, Dr. Pujo Semedi H.Y., MA.

2014 | Tesis | S2 Antropologi

Dalam tesis ini saya mencoba melihat bagaimana koneksi antara entitas lokal dan global terjadi, antara masyarakat Desa Petak Puti dan aktivitas demonstrasi (DA) REDD+. Kedua entitas ini bertemu ketika wacana global mengenai perubahan iklim muncul. Entitas tersebut akhirnya saling bergesekan, mempengaruhi dan berkelindan sehingga menghasilkan apa yang dikatakan sebagai unintended outcomes. Untuk mempelajari aspek lokal, saya menelusuri secara historis bagaimana masyarakat Desa Petak Puti bertransformasi. Mata pencaharian saya gunakan sebagai pintu masuk untuk melihat cara masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya. Perubahan atau transformasi agraria pun terjadi di daerah ini, bermula dari sistem dualisme ekonomi (subsisten dilengkapi dengan cash crop) menuju sistem tunggal tanaman komersil berorientasi pasar. Selain itu, masyarakat juga memiliki pengalaman dalam berhadapan dengan intervensi kepengaturan terkait pengelolaan hutan dan gambut seperti Proyek PLG, CKPP, GN-RHL, DAK DR, serta HTR yang menawarkan perbaikan bagi lingkungan dan juga masyarakat. Kemudian dalam ranah global saya mencoba melacak teknologi kepengaturan lingkungan, dalam hal ini kepengaturan terhadap iklim. Saya melihat perjalanan bagaimana perubahan iklim menjadi wacana yang dibentuk secara global, kemudian menghasilkan regime dan juga apparatus-aparatus intervensi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Setelah itu proyek aktivitas demonstrasi REDD pun lahir sebagai respon dari regime global environmental governance dimana negara dunia ketiga menjadi site utama untuk mengurangi emisi karbon dunia, yang sebenarnya lebih banyak dihasilkan oleh negara industri. Ketika kedua entitas ini (masyarakat petak puti dan KFCP) bertemu dalam dalam agenda mengatasi perubahan iklim, muncul gesekan-gesekan yang terjadi akibat beragam kepentingan di Desa Petak Puti. Pembentukan institusi baru berbenturan dengan kepentingan elite pemerintah desa. Kemudian, program reforestasi ternyata berujung pada ketimpangan insentif antar warga. Selain itu, potensi konflik lahan kemungkinan besar terjadi akibat efek hadirnya program mata pencaharian alternatif yang mengenalkan penanaman karet bibit unggul.

In this thesis I try to see how the connections between local and global entities occured, between the villagers of Petak Puti and demonstration activities (DA) of REDD +. Both of these entities met when the global discourse on climate change appear. Those entity eventually influenced and intertwined so as to produce what is arguably known as an unintended outcomes. To study the local aspect, I trace historically about how Petak Puti’s villagers Puti transformed. I use livelihood as an entrance to see how people adapt to their environment. Agrarian transformation ensued in this area, starting from the system of economic dualism (subsistence also with a cash crop) toward a single system of market-oriented in commercial crops. In addition, the community also has experience in dealing with governmentality interventions related to the management of forests and peatland, such as Mega Rice Project, CKPP, GNRHL, DAK DR and HTR which offers improvement for the environment and also population. and also presents some problems. Later in the global sphere I tried to trace the technology of governmentality in environment, in this case the governmentality of climate. I see how the journey of climate change discourse globally established, then producing regime and also the apparatus of interventions to overcome these problems. After that, REDD demonstration activity project was born as a response to global environmental governance regime in which third world countries become the main site to reduce global carbon emissions, which is actually produced by industrialized countries. When these two entities (Petak Puti People and KFCP) meet in the global agenda to mitigate climate change, emerging friction occurs due to a variety of interests in the Petak Puti village. The establishment of new institutions collide with the interests of the village government’s elite. Then, it turns out reforestation program lead to inequality among people from the incentives that offered. In addition, the potential for land conflicts likely to occur due to the effect of the presence of alternative livelihood programs which introduced rubber seeds.

Kata Kunci : koneksi lokal-global, teknologi kepengaturan, respon masyarakat, unintended outcomes, dan DA REDD, local-global connection, technology of governmentality, society’s responses, unintended outcomes


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.