Laporkan Masalah

NGRINGKÊS Adaptasi Garap Pertunjukan Hiburan Jêmblungan Desa Samiran Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali

Galih Suryadmaja, Dr. GR. Lono Lastoro S, MA

2014 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Di dalam perubahan, seni pertunjukan memiliki konsep yang berbeda. Perubahan itu salah satunya terjadi pada Jêmblungan. Kesenian yang sebelumnya digunakan sebagai media penyebaran agama (dakwah) dalam perkembangannya telah digunakan sebagai media hiburan. Di dalam perubahan ini, Jêmblungan turut menyesuaikan (beradaptasi) terhadap perubahan yang terjadi dengan mengimplementasikan ngringkês untuk mengubah garap pertunjukannya. Pada penelitian ini, memahami fenomena Jêmblungan itu dibatasi pada persoalan (a) Bagaimana ngringkês sebagai bentuk adaptasi garap Jêmblungan; (b) Unsur-unsur sajian apa saja yang di-ringkês (mengalami peringkasan); (c) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi ngringkês; dan (d) Mengapa ngringkês menjadi pilihan adaptasi garap Jêmblungan. Di dalam memahami fenomena yang terjadi pada Jêmblungan, penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggali berbagai data lapangan dalam menjelaskan mengenai persoalan yang terjadi. Perolehan data lapangan itu kemudian diolah dan dituliskan dengan metode deskriptif analisis. Ngringkês sebagai adaptasi garap pertunjukan Jêmblungan diimplementasikan dengan memadatkan dua unsur sajian, yaitu penyaji dan durasi. Pemadatan pada sisi penyaji diimplementasikan dengan mengurangi jumlah penyaji dari sekitar 30-35 orang menjadi 12-15 orang. Pemadatan sisi durasi meliputi pemadatan pada sajian pertunjukan dan sajian balak. Implementasi ngringkês dalam pertunjukan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah asumsi pelaku dalam memahami konsep hiburan, sedangkan keberadaan penanggap merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi implementasi ngringkês. Perubahan garap pertunjukan dalam implementasi ngringkês ini berimplikasi pada perubahan makna pertunjukan, yaitu terjadinya pelebaran makna dakwah.

In the change, the performing arts have a different concept. It is one of had happened on Jêmblungan. Previously it's used as a medium for the spread of religion (da'wah), in its development has been used as a medium of entertainment. Within this change, Jêmblungan also adjust (adapt) from the changes that occur with implement ngringkês to change garap of the performing arts. In this study, to understand the Jêmblungan's phenomenon is limited to the issue (a) How ngringkês as a form of adaptation of garap Jêmblungan; (b) The elements of what is di-ringkês (compacted); (c) what are the factors that affect ngringkês, and (d) Why ngringkês being adaptation options of Jêmblungan. In understanding the phenomena that occur in Jêmblungan, this study used qualitative methods to explore a variety of field data in describing the problem that occurred. Field data was then processed and written to the descriptive-analysis method. Ngringkês as garap Jêmblungan's adaptation have been implemented with compaction on the two of performing arts elements, on the actors and duration. Compaction of the actors side implemented by reducing the amount of about 30-35 people to be 12-15 people. Compaction of the duration side of performing arts include compaction on all of the show and balak. Ngringkês implementation had influenced by two factors, that is internal and external factors. Internal factors is the assumption of actors in understanding the concept of entertainment, while the presence of users are the external factors that affect the ngringkês implementation. Garap changes in the ngringkês implementation it have impact on the changes in the meaning of the performing arts, that is widening the meaning of da‟wah.

Kata Kunci : Jêmblungan, Perubahan, Dakwah, Hiburan, Ngringkês, Garap, Adaptasi Pertunjukan, dan Pemadatan.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.