Laporkan Masalah

Proses, Dampak, dan Formulasi Indeks Spasial Perembetan Daerah Kekotaan Yogyakarta

Djaka Marwasta, S.Si.,M.Si., Prof. Dr. H. Hadi Sabari Yunus, M.A.

2014 | Disertasi | S3 Geografi

Pemahaman mengenai tingkat perembetan fisik kekotaan di daerah bukan perkotaan merupakan inti dari penelitian disertasi ini. Tujuan utama dari penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi proses perembetan daerah kekotaan Yogyakarta secara spasial dari tahun 1985 sampai dengan 2010; (2) mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap proses perembetan kota secara spasial; (3) mengkaji dampak perembetan daerah kekotaan secara spasial terhadap kondisi sosio-ekonomi dan kultural masyarakat daerah perembetan; dan (4) memformulasikan indeks spasial perembetan daerah kekotaan berdasarkan proses dan dampak perembetan kota. Metode penelitian yang digunakan untuk mencapai berbagai tujuan tersebut adalah penelitian survei analitis dengan teknik pengambilan data menggunakan sampel area dan rumah tangga, serta mengaplikasikan teknik analisis kuantitatif di dalam analisis datanya. Lokasi penelitian meliputi seluruh Kota Yogyakarta dan sebagian wilayah administrasi Kabupaten Sleman dan Bantul yang secara fisikal merupakan daerah kekotaan. Sebanyak 400 sampel rumah tangga dipilih secara acak proporsional pada seluruh zona kekotaan sebanyak 24 zona. Beberapa hasil penting dalam penelitian ini adalah: (1) proses perembetan daerah kekotaan Yogyakarta secara spasial berlangsung stabil dalam intensitas rendah sampai tahun 1985-an, mengalami peningkatan intensitas sampai menjelang 1990an, meningkat sangat tajam pada periode 1990-1995 dan periode 1995-2000, serta mengalami sedikit pelandaian laju pada periode 2000-2005 dan periode 2005-2010. Fluktuasi intensitas perembetan tersebut dipengaruhi terutama oleh faktor kondisi pertumbuhan ekonomi wilayah. Tipe perembetan yang lebih dominan adalah tipe memadat dan linier, sedangkan arah perembetan terbesar terjadi ke arah timur laut; (2) faktor-faktor yang berpengaruh kuat terhadap proses perembetan daerah kekotaan secara spasial di daerah penelitian adalah faktor keberadaan pelayanan publik, faktor aksesibilitas, faktor karakteristik pemilik lahan, dan karakteristik lahan. Faktor keberadaan pelayanan publik merupakan faktor paling menonjol, karena keberadaannya cenderung memicu munculnya permukiman baru dan fungsifungsi kekotaan yang lain; (3) proses perembetan daerah kekotaan menghasilkan dampak terhadap lingkungan fisik, ekonomi, dan sosial penduduk di daerah perembetan. Semakin tinggi intensitas perembetan tipe terisolasi dan tipe linier berlangsung di suatu tempat, semakin besar dampak negatif yang ditimbulkan terhadap lingkungan fisik, ekonomi, dan sosial; dan (4) penelitian ini menghasilkan formulasi indeks spasial perembetan kekotaan (ISPK) dalam bentuk rumus matematika sederhana. Kelas dari ISPK sebagai indikator tingkat pengendalian perkembangan fisik kota, dan ambang batas toleransi perembetan kota ditentukan secara simultan dari nilai ISPK dengan kepadatan bangunan dan jarak jangkauan lahan terbangun kekotaan. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan ISPK tersebut, Kota Yogyakarta memiliki nilai indeks sebesar 0,56 dan termasuk kategori sedang. Angka tersebut sudah mendekati nilai ambang batas kelas tinggi sehingga perlu dilakukan pengendalian secara serius.

Understanding the urban sprawl rate that takes place in non urban built up areas is the main idea of this research. The aims are: (1) to identify spatially the urban sprawl process of Yogyakarta City during 1985-2010; (2) to examine some factors which are significanly influencing the sprawling process; (3) to investigate spatial impacts of urban sprawl on socio-economic condition; and (4) to formulate the urban sprawl spatial index based on process and impacts. This research used analitical survey methods with sampling techniques and applied quantitative data analysis. Research location is administrative areas of Yogyakarta City and some subdistricts of Sleman dan Bantul regencies that indicated as urbanized areas. Four hundred households are choosen as research samples based on urban zonal units. The urban zonal units are determined by the distance and direction from city center, and there are 24 zones. The most important findings of this research are: (1) Yogyakarta’s urban sprawl process occured on low intention and relatively stable up to 1985’s, slightly ascended gradually during 1985-1990, extreemly increased in 1990-1995 and 1995-2000 periods, and a little bit declined in the period 2000-2005 and 2005-2010. The fluctuation of sprawling process are depended on the regional economic condition. Infill and linear type of sprawling are the dominant features, and the most dominant sprawled process took place in the north-east direction;(2) factors that influenced urban sprawl process are the availability of public facilities, accessibilities, land owner characteritics, and land characters. The spatial planning and developer’s initiatives factors do not determine the sprawling process significanly. Public facilities are the most prominent factor; (3) urban sprawl processes have impacted the socio-economic and physical environment. The more intensive leap frogging type, the more significant impact on the socio-economic and physical environment; and (4) this research also finds out the formulation of spatial urban sprawl index (abbreviated as SUSI) in a simple mathematical equation. The figure of SUSI indicating the level of sprawl, and the tolerable SUSI threshold is determined by engaging building density and within the range of existing built up areas.Based on the application of SUSI, this study also finds out that Yogyakarta City has the SUSI as 0,56 and is classified as medium level. Nevertheless, actually this SUSI number is close to the threshold of high level sprawl, hence, it is very important to control the further sprawl intensity. Integrated serious efforts among stakeholders should be done in order to manage the uncontrolled sprawl in the future.

Kata Kunci : Perembetan Daerah Kekotaan, Proses Perembetan, Dampak Perembetan, Indeks Spasial Perembetan Kekotaan (ISPK)


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.