PILKADES DAN JARINGAN KEKERABATAN Studi Kasus Desa Susukan Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang Jawa Tengah
Dyah Rahayuningtyas, Dr. Bambang Hudayana
2014 | Tesis | S2 AntropologiPilkades (Pemilihan Kepala Desa) merupakan peristiwa politik lokal sebagai salah satu wujud dari demokrasi yang ada di dalam pemerintahan Indonesia. Kepala Desa merupakan jabatan yang cukup berharga di kalangan masyarakat desa. Di beberapa wilayah, pilkades sering menjadi arena persaingan antar elit desa secara kelompok atau individu. Elit desa tersebut beradu kekuasaan dan kekuatan untuk dapat memengaruhi masyarakat dengan mengandalkan dua kekuatan yakni kekuatan materi dan non materi. Kekuatan materi terdiri dari kepemilikan tanah dan ua ng, sedangkan kekuatan non materi terdiri dari jaringan lokalitas, jaringan sosial-keagamaan, dan jaringan kekerabatan. Studi kasus dalam tesis ini melihat peran jaringan kekerabatan dalam kontestasi pilkades di Desa Susukan, Kecamatan Comal, Pemalang-Jawa Tengah. Di desa tersebut pilkades berlangsung cukup ketat karena diwarnai oleh persaingan para elit desa. Pilkades ini juga menunjukkan peran jaringan kekerabatan yang ternyata memiliki kekuatan cukup penting. Kemenangan yang terletak pada kekuatan jaringan kekerabatan (dengan jumlah dan pengaruh besar di masyarakat serta kemampuan mengorganisir jaringan tersebut), ternyata menjadi kekuatan yang cukup penting dan mengalahkan kekuatan materi. Kondisi yang cukup kontras melihat sistem demokrasi yang mengandalkan kemenangan berdasarkan akuntabilitas, kualitas dan kapabilitas para calon berhadapan dengan kekuatan jaringan kekerabatan untuk memenangkan pemilihan. Namun, pada pelaksanaannya sistem demokrasi ini dapat berjalan beriringan dengan politik paternalistik yang telah berkembang terlebih dahulu di masyarakat Jawa. Penelitian tesis ini dilakukan di Desa Susukan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang-Jawa Tengah. Metode penelitian diawali dengan observasi partisipasi sebelum pilkades, menjelang dan pada saat berlangsungnya pilkades, serta setelah pilkades. Metode lain yang dilakukan adalah wawancara yang bersifat terbuka namun tetap terfokus pada pembahasan tesis. Hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dengan data bersifat kualitatif yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan studi pustaka
Pilkades (village headman election) is a phenomenon of local politic as a form of democracy in Indonesian government. Village headman is a precious position among the villagers. In some area, pilkades often becoming an arena of competition between elite, both in a group and individual. That elites were fought for power and strength in order to affect society based on two forces: basic power of material and non material. Basic power of materials consist of land ownership and possession of money, while basic power of non materials consist of locality, social-religious, and kinship networks. This study observed the role of kinship networks in Pilkades contestation in Susukan Village, Comal Distric, Pemalang-Central Java. This study showed that pilkades was quite tight as characterized by elite competition. The election showed that the role of kinship networks has a significant power. The winner was laid his power and authority in large amount of kinship networks. In fact, kinship networks showed a significant power to defeat material power. It showed a contrast between democracy system which the winner hold on accountability, quality, and capability, and paternalistic system which the winner hold on the power of kinship networks. They were faced one and other. However, a democracy system can walk s together with paternalistic system which was risen first in Javanese society. This study was done in Susukan Village, Comal Distric, Pemalang-Central Java. The metods of the riset were observation participation (before, during, and after pilkades), and interview with open questions (but still focus on the topic). The result of the riset was analized with descriptif analysis on qualitative data which come from observation, interview, and literature.
Kata Kunci : demokrasi, pilkades, basis kekuatan material dan non material, persaingan elit, jaringan kekerabatan