OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM LIMA CERITA RAKYAT INDONESIA : ANALISIS KRITIK SASTRA FEMINIS
BETA MUSTAUDA AMALA, Drs. Rudi Ekasiswanto, M.Hum.
2014 | Skripsi | SASTRA INDONESIAKarya sastra merupakan salah satu sarana yang mampu merefleksikan suatu realitas sosial yang ada, salah satunya ialah realitas yang berkaitan dengan kehidupan laki-laki dan perempuan. Berkaitan dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan, terdapat konstruksi sosial yang meletakkan keduanya pada posisi yang berbeda. Perempuan kerapkali mendapatkan perlakuan yang berbeda dan mendapatkan pembatasan-pembatasan pada ranah kehidupan tertentu. Perlakuan terhadap perempuan tersebut disebabkan oleh adanya sistem patriarki. Sistem patriarki meletakkan perempuan pada posisi yang tidak menguntungkan dan terpinggirkan. Bahkan, sistem patriarki mampu membuat perempuan kehilangan dirinya sebagai subjek individu yang mandiri dan utuh. Sebaliknya, ia meletakkan perempuan dalam posisi sebagai objek yang bergantung pada kehadiran laki-laki sebagai subjek. Bentuk objektivikasi perempuan dalam karya sastra dapat dilihat dalam berbagai cerita rakyat yang ada di Indonesia. Sebagai cerita yang memuat berbagai adat istiadat dan pemikiran lokal tertentu yang diwariskan secara turuntemurun, cerita rakyat menjadi salah satu sarana yang sarat dan kaya untuk melihat bentuk-bentuk objektivikasi perempuan yang kerap keberadaannya tidak disadari oleh pembaca. Skripsi ini akan membahas objektivikasi perempuan dalam lima cerita Indonesia, yaitu “Putri yang Berubah Menjadi Ular†(Sumatera Utara), “Putri Mambang Linau†(Riau), “Putri Tujuh†(Riau), “Ning Rangda†(Kalimantan Selatan), dan “Dewi Luing Indung Bunga†(Kalimantan Selatan). Pembahasan menyangkut bentuk objektivikasi perempuan yang terepresentasikan di dalam identifikasi tokoh, aspek kebahasaan, dan aspek alur peristiwa cerita. Berdasarkan analisis yang dilakukan tersebut, ditemukan adanya objektivikasi perempuan di dalam lima cerita rakyat yang diteliti.
Literature is widely known as one tool that reflects social reality, one of them is the relationship between man and woman. Related to that relationship, by observing literatures, we could see that there are some social constructions that divide both of them into different position. Woman is often treated differently and is put into a restricted life with fewer rights. This way of treating to woman is caused by a patriarchy system Patriarchy system makes border in woman’s life, puts woman in disadvantage position and even takes away woman’s rights as an independent individual subject. Just the opposite, this system gives woman a position as object that depend on man’s existence as a subject. This kind of objectification, in literatures, can be seen in some Indonesian’s folklores. Folklore, as a story that contains traditions, cultures and local thoughts and has been bequeathed for generations, has become a valuable heritage to observe many kinds of objectification of woman. Surprisingly, even by the reader, the objectification of woman is hardly to be known. This research will study the objectification of woman in five indonesian’s folklores, viz., “Putri yang Berubah Menjadi Ular†(North Sumatera), “Putri Mambang Linau†(Riau), “Putri Tujuh†(Riau), “Ning Rangda†(South Kalimantan), dan “Dewi Luing Indung Bunga†(South Kalimantan). This research of the objectification of woman will be represented in identification of characters, aspect of language and the aspect of plot. Based on the analyses that has been done, the objectification of woman has been found in five folklores above.
Kata Kunci : objektivikasi, perempuan, objek, pasif, cerita rakyat, patriarki.