SIMULASI 1-D BANJIR AKIBAT KERUNTUHAN BENDUNGAN DENGAN PROGRAM HEC RAS 4.1.0. Studi Kasus Embung Tambakboyo Kabupaten Sleman – Propinsi D.I. Yogyakarta
Jimmy Charles RN, Dr. Ir. Adam Pamudji Rahardjo, M.Sc.
2014 | Tesis | S2 Teknik SipilBerdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2010 tentang Bendungan, maka setiap bendungan yang berpotensi menyebabkan bencana diharuskan untuk mempunyai Rencana Tindak Darurat (RTD) untuk melakukan tindakan yang diperlukan apabila terdapat gejala kegagalan bendungan atau terjadi kegagalan bendungan. Salah satu embung yang berada di daerah perkotaan adalah Embung Tambakboyo yang terletak di meandering Sungai Tambakbayan di desa Tambakboyo, kelurahan Wedomartani, kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Embung tersebut memiliki luas genangan 56.062.61 m2 dan debit tampungan 366,881.81 m3, kontruksi tubuh embung terbuat dari pasangan batu dan pondasi beton tulangan mengambang (reinforcement concrete floating fondation) memiliki dengan elevasi mercu + 147 m dengan ketinggian muka air maksimal 9 m dari dasar embung. Berdasarkan data teknis dan lokasi embung tersebut, dimana pada hilir embung terdapat pemukiman padat maka dipandang perlu untuk dilakukan analisa keruntuhan embung. Simulasi pemodelan keruntuhan Embung Tambakboyo dilakukan dengan model simulasi 1 – D menggunakan sofware HEC RAS 4.1.0. Data masukan berupa data Hidrograf Banjir didapatkan dari Design Note Embung Tambakbayan berupa debit maksimum banjir (Probable Maximum Floods, QPMF) dengan nilai QPMF sebesar 327.981 m3/s. Untuk penelusuran banjir, observasi dilakukan terhadap muka air maksimum dan penelusuran banjir ke hilir dengan titik pengamatan utama yaitu Embung Tambakboyo (Sta. 13+691) dengan elevasi mercu + 147 m dan menerus sampai pertemuan sungai dengan kali opak (Sta. 0+000) sepanjang 13,691 km. Hasil simulasi program HEC RAS 4.1.0 terhadap keruntuhan Embung Tambakboyo dengan QPMF mennghasilkan 1) debit akibat keruntuhan embung sensitif terhadap paramater waktu keruntuhan dan kurang sensitif terhadap parameter kemiringan rekahan, 2) sensitivitas koefisien kekasaran manning berpengaruh pada elevasi muka air maksimum yang dihasilkan, 3) pengaruh pembendungan di hilir dapat meningkatkan muka air maksimum di hilir jembatan dan menyebabkan limpasan pada tanggul embung tambakboyo 4) penelusuran banjir dilakukan dengan hasil simulasi kondisi elevasi maksimum banjir dengan hasil simulasi akhir dan analisa berupa Qpeak = 1.205,16 m3/s, hmax banjir dari 3,18 m sampai 11,32 m, waktu tempuh lidah banjir total 2 jam 56 menit dan waktu tempuh puncak banjir total 4 jam 31 menit. luasan genangan tiap cross section maksimal = 1415,91 m2 dan minimal 27,94 m2. Dari hasil tersebut didapatkan data masukan untuk pembuatan peta genangan banjir akibat keruntuhan embung tambakboyo kondisi tertentu
Based on the Indonesian Government Regulation No. 37 on 2010 about Dams, then any dam could potentially lead to catastrophic are required to have Emergency Action Plans (EAP) in case to take the necessary action if there is any failure or dam failure occurs. One of the storage that be analyze located in urban areas are Embung Tambakboyo. It located in Tambakboyo meandering river in the Subvillage Tambakboyo, Village Wedomartani, Ngemplak Subdistrict, Sleman District, Yogyakarta Province. The reservoir has an area of inundation 56.062,61 m2 and 366,881.81 m3 of bin discharge, dam body construction made by fondation floating concrete reinforcement type has spillway elevation + 147 m with a maximum water level of 9 m from the bottom of the reservoir . Based on the technical data and the location of the reservoir, where the downstream ponds are densely is necessary to do the dam breach analysis. Embung Tambakboyo dam breach simulation model done by 1-D model simulation using the HEC RAS software 4.1.0 vesion. Input data is obtained from flood hydrograph data from Design Note of Embung Tambakboyo. It analysis based on rainfall analysis data which generates the maximum rainfall that may occur in estimating maximum discharge used as the maximum flood discharge ( Probable Maximum Floods , QPMF ) with a value of QPMF = 327,981 m3/s. For flood routing analysis, observations made to the maximum water level and through to the downstream as the main observation point is Embung Tambakboyo (RS 13+691) with spillway elevation + 147 m , constantly flooding until the confluence with the Opak river (RS 0+000) throughout 13.691 km . Dam breach simulation results of Embung Tambakboyo with program HEC RAS 4.1.0 and QPMF as an input is 1) discharge due to dam breach sensitive for breach time parameters and less sensitive to the slope of the fracture parameters, 2) the sensitivity of Manning roughness coefficient affects to the maximum water surface elevation generated, 3) the effect of damming on downstream can increase the maximum water level in the downstream bridge and cause runoff on embankment dam Tambakboyo 4) flood routing is done with the results of simulating the conditions of maximum flood elevation at the end of the simulation results and analysis in the form of Qpeak = 1.205,16 m3/s, hmax flood from 3,18 m to 11,32 m, travel time total of the initial flood path is 2 hours and 56 minutes, travel time total of the flood peak is 4 hours 31 minutes. Inundation area of each cross section maximum = 1.415,91 m2 and minimum of 27,94 m2. The results obtained from the input data for flood inundation map-making as a result of the collapse of the dam Tambakboyo certain conditions.
Kata Kunci : Tambakboyo, HEC RAS, Keruntuhan Embung