Laporkan Masalah

KAJIAN PRODUKTIVITAS GETAH, RENDEMEN DAN KANDUNGAN GONDORUKEM - TERPENTIN Pinus merkusii Jungh. et de Vriese PROVENANS ACEH DAN RAS LAHAN JAWA MELALUI PENYADAPAN METODE BOR

Agus Sukarno, Ir.,MP., Prof.Dr.Ir. Mohammad Na’iem, M.Agr.Sc.

2014 | Disertasi | S3 Ilmu Kehutanan

Pinus merkusii Jungh. et de Vriese merupakan tanaman asli Indonesia yang sebaran alaminya di Sumatera yaitu Aceh, Tapanuli dan Kerinci. Materi penelitian terdiri dari tusam ras lahan Jawa dan provenans Aceh. Penyadapan getah menggunakan metode bor. Analisis data menggunakan regresi linier, one way anova, dan variabilitas di antara individu diestimasi dengan menggunakan parameter repitabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, produksi getah tusam ras lahan Jawa (g/2 lubang bor/1 hari), kelas umur III (36,5) meningkat pada kelas umur IV (62,9) dan menurun pada kelas umur V (24,6). Produksi getah pada kelas umur VI (38,3) hampir sama dengan kelas umur III. Produksi getah tusam provenans Aceh (g/ lubang bor/1 hari) adalah 21,1; 18,0 dan 14,4, berturut-turut untuk subpopulasi Jantho, Blangkejeren, dan Takengon. Nilai repitabilitas produksi getah berkisar dari 0,57 sampai 0,74 mengindikasikan bahwa produksi getah berada pada kendali genetik yang cukup kuat. Pohon yang bergetah tinggi mempunyai jumlah saluran getah lebih banyak dibandingkan dengan pohon yang bergetah sedikit. Kelas umur berpengaruh secara nyata terhadap rendemen gondorukem. Lama penyimpanan getah sampai dengan 20 hari tidak berpengaruh terhadap rendemen gondorukem dan terpentin. Rendemen terpentin (%) tusam provenans Aceh adalah 15,3, 16,0 dan 19,6 berturut-turut untuk subpopulasi Jantho, Blangkejeren dan Takengon. Sifat fisik terpentin dan gondorukem telah memenuhi standart kualitas SNI 01-5009.12-2001. Warna gondorukem yang dihasilkan warna extra (X). Komponen terpentin tusam provenans Aceh adalah α-pinene (73,3-87,2%), delta-3 carene (7,3-19,1%). Komponen dalam jumlah kecil (< 3%) adalah β-pinene, camphene, myrcene, sabinene dan limonene. Sabinene tidak ditemukan di ras lahan Jawa dan Blangkejeren, sedangkan limonene tidak ditemukan di Takengon. Komponen gondorukem yang ditemukan terdiri dari kelompok asam abietat, asam pimarad dan asam labdan. Asam merkusik (labdan), hanya tampak pada sub-populasi Takengon dan Jantho. Hasil penelitian dapat dipergunakan sebagai dasar pertimbangan oleh Perum Perhutani kedepan. Penyadapan getah metode bor sebagai alternatif metode penyadapan getah secara praktek di lapangan dan subpopulasi Jantho untuk mendapatkan perhatian secara khusus sebagai materi sumber benih tusam produksi getah tinggi.

Pinus merkusii Jungh. et de Vriese plantation of Java land race and three subpopulations from Aceh provenance (Jantho, Takengon and Blangkejeren) were tapped for obtaining oleoresin yield using borehole method. Data using linear regression analysis, one way ANOVA, and variability between individuals are estimated using the parameter repeatability. The results showed that, pine oleoresin production Java land races (g holes-2tree-1day-1), age class III (36.5) increased in age class IV (62.9) and decreased in age class V (24.6). The oleoresin yields on age class VI (38.3) was almost the same as the age class III. The oleoresin yields Aceh provenance (g hole-1tree-1day-1) were 21.1; 18.0 and 14.4, respectively, for the subpopulation Jantho, Blangkejeren, and Takengon. The oleoresin yields repeatability values ranging from 0.57 to 0.74 indicating that the oleoresin production under strong genetic control. Trees that have a high number of channels oleoresin sap more than a little gummy trees. Age classes influence on the yield gum rosin. Oleoresin storage time up to 20 days did not affect the yield of gum rosin and turpentine. Turpentine yield (%) Aceh provenance was 15.3, 16.0 and 19.6 respectively for the subpopulation Jantho, Blangkejeren and Takengon. The physical properties of turpentine and gum rosin has met quality standards ISO 01-5009.12-2001. The resulting color gum rosin extra color (X). Turpentine Aceh provenance component were α-pinene (73.3 to 87.2%), delta-3 carene (7.3 to 19.1%). Other minor components (<3%) were β-pinene, camphene, myrcene, sabinene and limonene. Sabinene not found in Blangkejeren and Java land races, while limonene was not found in Takengon. Gum rosin components were found to be composed of a group abietat, pimarad and labdan. Merkusik acid (labdan), just look at the subpopulations Jantho and Takengon. The results can be used as a basis for future consideration by Perum Perhutani. Borehole method as an alternative method of sap in practice in the field and a subpopulation Jantho to get special attention as a source of seed material of pine high production oleoresin.

Kata Kunci : Pinus merkusii, bor, getah, repitabilitas, α-pinene.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.