Laporkan Masalah

EVALUASI KINERJA PINTU AIR MANGGARAI UNTUK PENGENDALIAN BANJIR JAKARTA PUSAT

Mursid, Prof. Dr. Ir. Bambang Agus Kiromoto

2014 | Tesis | S2 Mag.Pengl.Sarana Prasarn

DKI Jakarta terletak di wilayah pesisir utara Pulau Jawa bagian barat, sebagian dari wilayah terletak di bawah elevasi muka air laut pasang. Jakarta setiap musim hujan sering mengalami banjir akibat meluapnya beberapa sungai yang melintasi wilayah kota salah satunya Sungai Ciliwung. Pintu Air Manggarai terletak di sebelah hilir Sungai Ciliwung, merupakan pintu air yang berfungsi untuk mengendalikan aliran Sungai Ciliwung ke Banjir Kanal Barat dan ke Sungai Ciliwung Lama. Pintu Air Ciliwung Lama tidak pernah dibuka setiap banjir besar terjadi, hanya dibuka pada waktu tertentu sewaktu debit kecil sebagai aliran pemeliharaan sungai dan penggelontoran saja. oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi kinerja kedua pintu air tersebut, sehingga sewaktu banjir besar dapat dioperasikan untuk mengurangi beban aliran ke Banjir Kanal Barat, serta untuk pengendalian banjir wilayah Jakarta Pusat. Dalam penelitian ini dilakukan analisa hidrologi dan analisa hidrolika. Dalam analisa hidrologi menggunakan data hujan harian rata-rata DAS Ciliwung dengan titik kontrol Jembatan Kalibata, hidrograf banjir dihitung menggunakan metode hidrograf satuan sintetik Nakayasu. Analisa hidrolika dilakukan menggunakan bantuan softwere HEC-RAS 4.1.0. Dalam analisa hidrolika terdiri dari dua simulasi, pertama simulasi kalibrasi model Sungai Ciliwung Hilir pada kondisi eksisting berdasarkan kejadian banjir pada tanggal 4 Februari 2007 (Q 2007) dan kedua simulasi diskenariokan dengan beberapa kala ulang banjir dengan skema kedua yaitu pemodelan pertama bercabang ke Sungai Ciliwung Lama. Setiap kondisi banjir yang diskenariokan dilakukan beberapa variasi simulasi tinggi bukaan Pintu Air Ciliwung Lama antara tinggi 0,50 m sampai bukaan 8,00 m dengan interval bukaan 0,50 m. Setiap hasil simulasi dievaluasi untuk mendapatkan tinggi bukaan pintu maksimum yang alirannya tidak menimbulkan banjir sepanjang alur Sungai Ciliwung Lama. Dari hasil analisa hidrologi untuk hujan maksimum harian digunakan distribusi Log Perarson III dan nilai maksimum hidrogaf satuan diperoleh sebesar 3,34 m3/dt. Muka air banjir hasil simulasi analisa kalibrasi model hidrolika dibandingkan dengan hasil pengukuran m.a.b pada titik pengamatan dilapangan sewaktu kejadian banjir tahun 2007 diperoleh perbedaan m.a.b yang relatif kecil yaitu dibawah 10%. Hasil evaluasi simulasi tinggi maksimum bukaan Pintu Air Ciliwung Lama sesuai dengan banjir tahun Q 2007 dan kala ulang 2, 5, 10, 20, 50 dan 100 tahun diperoleh tinggi maksimum/aman bukaan pintu yaitu masing-masing 4,00 m, 2,50 m, 1,50 m, 1,50 m, 1,00 m, 1,00 m, dan 1,00 m. Dengan dioperasionalkan Pintu Air Ciliwung Lama pada tinggi bukaan maksimum/aman tidak terjadi penurunan elevasi m.a.b pada titik pengamatan Jembatan Kalibata, MT Haryono, Casablangka dan Bukitduri, sedangkan pada titik pengamatan Jembatan Slamet Riyadi, Manggarai, Pintu Air BKB dan RS 0000 Pasar Rumput terjadi penurunan muka air banjir yaitu antara 0,28 m sampai 0,74 m.

Located in the northern coastal region of the western part of Java Island with most of the area is below sea tide level, Jakarta always suffer from flood during rainy season. The flood is an overflowing river that cross several areas of the city, one of them is Ciliwung River. Manggarai Flood Gate is located on the downstream side of Ciliwung River that control the water flow of Ciliwung River to West Flood Canal and to the Ciliwung Lama River. The flood gate on Ciliwung Lama is cannot be opened during major flood. It is only opened for certain times when there is a small discharge flow for river maintenance and discharge. Therefore, it is necessary to evaluate performance of the two flood gates to reduce the burden of West Flood Canal, also for flood control in Central Jakarta area. This research conducts analysis of hydrology and hydraulics. The hydrologic analysis uses average daily rainfall data of Ciliwung Catchment Areas with control point at Kalibata Bridge, flood hydrograph is calculated with Nakayasu synthetic unit hydrograph methods. Hydraulics analysis is performed with HEC - RAS 4.1.0 software. The hydraulics analysis consists of two simulations, i.e. (1) Simulation model calibration of Ciliwung River downstream area on the existing condition based on flood on February 4, 2007 (Q 2007), and (2) The simulation is performed in several periods with second scheme, that is the first model branches out to the Ciliwung Lama River. Each flood scenario has several simulation variations on gate elevation height of Ciliwung Lama’s flood gate from 0.50 m to 8.00 m, with 0.50 m openings intervals. Each simulation results are evaluated to obtain the maximum gate elevation height that will not cause flood along the Ciliwung Lama River The hydrologic analysis result for maximum daily rainfall is using Log Pearson III distribution and maximum hidrogaf unit value is 3.34 m3/sec. Flood water level (m.a.b) from hydraulics model calibration analysis simulation result is compared to the m.a.b test result on observation point in 2007, and the result shows that the difference of m.a.b. is relatively small, which is below 10 %. The evaluation of simulation result on maximum gate elevation height height at Ciliwung Lama shows that based on flood in Q2007 and period of 2, 5, 10, 20, 50 and 100 years, the maximum height for gate elevation on Ciliwung Lama is 4,00 m, 2.50 m, 1.50 m, 1.50 m, 1.00 m, 1.00 m, and 1.00 m. The operational of maximum gate elevation on flood period at the observation points of Kalibata Bridges, MT Haryono Bridge, Casablanca Bridge and Bukitduri Bridge shows that it does not decrease the flood water level, while at the observation points of Slamet Riyadi Bridge, Manggarai Bridge, BKB flood gate and RS 0000 Pasar Rumput shows decrease on flood water level between 0.28 m to 0.74 m.

Kata Kunci : kalibrasi model, simulasi bukan pintu, maksimum operasional pintu


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.