POLITIK IDENTITAS DALAM IKLAN POLITIK DI PILKADA DKI JAKARTA 2012
MUHLIS, Dr. Kuskridho Ambardi, MA.
2014 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Ilmu KomunikasiPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan politik identitas yang dilakukan oleh Foke-Nara dan Jokowi-Ahok di iklan politik mereka dalam keikutsertaannya di Pilkada DKI Jakarta 2012. Tiga elemen identitas yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah identitas agama, identitas etnis, dan identitas gender. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Sumber data berasal dari iklan politik Jokowi-Ahok dan iklan politik Foke-Nara yang pernah dipublikasikan di Koran Kompas dan Koran Sindo, periode tanggal 24 Juni 2012 – 7 Juli 2012 dan 14-16 September 2012. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisis semiotika Barthes. Secara praksis analisis semiotika Barthes ingin menjelaskan makna denotasi dan makna konotasi dari penanda identitas dalam iklan politik Foke-Nara dan Jokowi-Ahok. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Foke-Nara dan Jokowi-Ahok memperlakukan identitas secara berbeda dalam keikutsertaannya di Pilkada DKI Jakarta 2012. Iklan politik Foke-Nara menyasar umat Islam dan masyarakat Betawi. Secara denotasi iklan politik pasangan tersebut menunjukkan identitas ke-Islaman dan ke-Betawiannya sedangkan secara konotasi memunculkan pesan bahwa pasangan ini didukung oleh umat muslim dan masyarakat Betawi. Iklan Foke-Nara yang memuat isu gender ikut melestarikan wacana lama, yaitu posisi perempuan inferior atau pekerja domestik berbeda dengan iklan politik Jokowi-Ahok yang mendobrak wacana lama. Perempuan setara dengan laki-laki dan mereka berhak bekerja di wilayah publik. Iklan politik Jokowi-Ahok tidak secara spesifik menyasar satu agama tertentu melainkan terbuka. Untuk identitas etnis, iklan politik Jokowi-Ahok berusaha menjadi bagian dari masyarakat Betawi. Hal ini tidak lain karena pasangan ini sering dianggap sebagai pendatang di Jakarta.
This research is to explain the politic of identity by Foke-Nara and Jokowi-Ahok on their political advertising during their participations of Governor Election 2012 of DKI Jakarta. Three elements of identity become focus in this research. They are religion identity, ethnic identity, and gender identity. This is qualitative research. Datum resources come from Foke-Nara’s political advertising and Jokowi-Ahok’s political advertising ever published in Kompas News Paper and Sindo News Paper, the period of June 24, 2012 to July 7, 2012 and September 14 to 16, 2012. Datum analysis technique used in this research is Barthes’ semiotic analysis. Practically Barthes’ semiotic analysis will examine denotation means and connotation means of identity signifier on Foke-Nara’s political advertising and Jokowi-Ahok’s political advertising. The research result shows that Foke-Nara and Jokowi-Ahok treated identity in different ways in their participations in Governor Election 2012 of DKI Jakarta. Foke-Nara’s political advertising were targeting Muslims and Betawi people. In denotation meaning Foke-Nara’s political advertising show their Islamic and Betawi identity while in connotation meaning it raises the message that these candidates were supported by Muslims and Betawi people. Foke-Nara’s political advertising containing gender issues help to preserve old discourse, namely the inferior position of women or domestic workers different from Jokowi-Ahok’s political advertising break old discourse. Women are equal to men and they have right to work in public areas. Jokowi-Ahok’s political advertising did not specifically target a particular religion but rather open. For ethnic identity, Jokowi-Ahok’s political advertising tried to become part of Betawi people. This is because these candidates were often regarded as newcomers in Jakarta.
Kata Kunci : Politik Identitas, Iklan Politik, Foke-Nara, Jokowi-Ahok, dan Pilkada, Politic of identity, Political Advertising, Foke-Nara, Jokowi-Ahok, and Governor Election