Laporkan Masalah

HUBUNGAN KADAR TIMBAL DALAM DARAH DENGAN NEUROPATI PERIFER PADA REMAJA JALANAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (DIY)

AILEEN HIDAYAT, Prof. Dr. dr. Hj. Sri Sutarni Sudarmadjie, Sp.S (K)

2014 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER

Latar Belakang: Timbal merupakan salah satu polutan utama yang dihasilkan oleh aktivitas pembakaran bahan bakar minyak kendaraan bermotor. Timbal dapat terakumulasi di udara, masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pencernaan atau pernafasan menuju sistem peredaran darah dan menyebar ke berbagai jaringan menyebabkan gangguan sistem saraf, ginjal, sistem reproduksi, saluran cerna, dan anemia. Dampak negatif ini menyebabkan penurunan kualitas hidup penderitanya. Remaja jalanan merupakan kelompok yang berisiko tinggi terpapar timbal. Dilatarbelakangi dengan pemaparan diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan kadar timbal dalam darah dengan neuropati perifer pada remaja jalanan di DIY. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kadar timbal dalam darah dengan neuropati perifer pada remaja jalanan di DIY. Metode: Data penelitian diambil dari remaja jalanan yang berada dalam naungan Yayasan Pinggir Jalan (Girlan) Nusantara di DI Yogyakarta. Sampel penelitian merupakan remaja jalanan berusia 17-24 tahun, jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 55 orang. Diagnosis gangguan neuropati perifer dengan menggunakan mTNS dan kadar timbal dalam darah dianalisis oleh Laboratorium Kesehatan Daerah Yogyakarta. Data dianalisis menggunakan analisis bivariat dan univariat untuk mengetahui hubungan diantara variabel-variabel yang diamati. Hasil: Dari 55 subyek remaja jalanan, didapatkan sebanyak 52 remaja menderita neuropati perifer dan 3 remaja tidak menderita neuropati perifer. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa keluhan sensorik hampir ditemukan pada semua subyek (43 remaja), diikuti dengan hasil abnormal pemeriksaan reflek (35 remaja) pemeriksaan gangguan sensorik (28 remaja), pemeriksaan gangguan motorik (12 remaja), dan keluhan motorik (6 remaja). Analisis bivariat antara kadar timbal dalam darah dengan total skor mTNS menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna (p=0,998 ; r=0,000) namun hasil analisis didapatkan hubungan yang bermakna antara variabel kadar timbal dalam darah dengan refleks (p=0,011; r=-0,339). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar timbal dalam darah dengan neuropati perifer pada remaja jalanan di DIY.

Background: Lead is one of the main pollutants produced by burning fossil fuels activity of motor vehicles. Lead can accumulate in the air, into the human body through the digestive or respiratory tract towards the circulatory system and spread to various tissues causing impairments on the nervous system, kidneys, reproductive system, gastrointestinal tract, and anemia. These negative impacts caused a decrease in the quality of life of sufferers. Street adolescents are one of the high-risk groups of lead exposure. Motivated by the above presentation, we are interested in knowing the relationship of blood lead levels in adolescents with peripheral neuropathy in the street adolescents in DIY. Objective: To determine the relationship of blood lead levels with peripheral neuropathy in street adolescents in DIY. Methods: Data were taken from the street adolescents under the auspices of Yayasan Pinggir Jalan (Girlan) Nusantara in Yogyakarta. The study sample was 17-24 years old street adolescents, both men and women. This study uses cross-sectional study with a sample size of 55 people. The diagnosis of peripheral neuropathy disorders using Mtns and blood lead levels were analyzed by the Regional Health Laboratory of Yogyakarta. Data were analyzed using univariate and bivariate analyzes to determine the relationship between the observed variables. Results: Of the 55 street adolescents, 52 adolescents suffered from peripheral neuropathy and 3 adolescent did not suffer from peripheral neuropathy. The test results showed that sensory symptoms were found in almost all subjects (43 adolescents), followed by abnormal reflex examination results (35 adolescents), abnormal sensory examination results (28 adolescents), abnormal motor examination results (12 adolescents), and motor symptoms (6 adolescents). Bivariate analysis between blood lead levels with a total score of MTNs showed no significant relationship (p = 0,998; r = 0,00), but within the analysis results we found a significant association between blood lead levels variable and reflex symptoms (p=0,011; r =-0,339 ). Conclusions: There was no significant correlation between blood lead levels in street adolescents with peripheral neuropathy street in DIY.

Kata Kunci : timbal, remaja jalanan, neuropati perifer


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.