Laporkan Masalah

MANAJEMEN DISTRIBUSI DAN BUDAYA BERBAGI KONTEN NETLABEL (Studi Kasus Pengembangan Budaya Berbagi Dalam Distribusi Konten Musik Netlabel Di Indonesia)

Arif Kusumawardhani, Dr. Kuskrido Ambardi, M.A.

2014 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Ilmu Komunikasi

Dalam dunia media, perubahan yang ditandai oleh satu titik aktif menjadi penanda kemunculan era baru. Ilmu komunikasi sebagai pembelajar media perlu untuk mengkaji agar pemikiran dan pengetahuan tidak stagnan dan terus berkembang. Media baru yang direpresentasikan oleh HP, games dan internet menjadi titik perubahan dari era sebelumnya. Dalam bidang musik, internet menjadi salah satu titik perubahan dari era fisik ke era digital yang kemudian mengarah ke budaya berbagi. Internet label atau Netlabel adalah sebuah bentuk kreatif dari adanya literasi internet yang terjadi di masyarakat. Lahir secara komunal, berkembang dari komunitas hingga tempat tak terbatas menjadi sebuah alternatif dari sistem industri musik yang telah berjalan selama puluhan tahun dengan dasar undang-undang hak cipta. Penelitian ini mengambil fokus pada 6 netlabel yang menjadi bagian dari Indonesian Netlabel Union, yaitu Yesnowave (Yogyakarta), Inmyroom (Jakarta), Hujan rekords (Bogor), Mindblasting (Kutoarjo), Stoneage records (Tangerang) dan Kanaltigapuluh (Malang). Netlabel tersebut menjadi representasi dalam perkembangan netlabel di Indonesia dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Netlabel menjadi salah satu media baru berplatform internet dengan pengelolaan yang berbeda dengan organisasi tradisional. Penelitian ini telah melihat bagaimana manajemen media dalam mendistribusikan musik melalui budaya berbagi oleh berbagai netlabel di Indonesia sebagai media non profit dan budaya berbagi yang diterapkan. Jenis penelitian deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka dengan teknik purposive sampling dalam penentuan informan. Dari 6 netlabel dan 1 wadah yang diteliti menunjukkan bahwa dinamika netlabel yang bergerak dari kantong komunitas masing-masing kota mempunyai variasi yang cukup tinggi. Dalam organisasi ada yang dipimpin oleh individu yang berpengaruh atau dijalankan secara bersama-sama. Manajemen yang dijalankan juga tidak terstruktur, bahkan tidak mengalami sebuah divisi atau pos layaknya organisasi tradisional. Pola distribusi netlabel sangat tergantung terhadap koneksi internet dan pemenuhan waktu dari masing masing pelaku. Karena netlabel bukan menjadi kegiatan utama, sehingga kebanyakan kegiatan yang dilakukan berjalan dan bersifat santai namun tetap sesuai dengan idealisme masing-masing. Budaya berbagi menjadi sebuah terobosan sekaligus pelajaran bagi pelaku netlabel ataupun audiens yang mengakses. Bahwa era media berbasis internet dengan sifat berbagi yang seringkali dimanfaatkan untuk kepentingan illegal mampu ditunjukkan dengan cara positif dengan adanya netlabel dengan lisensi creative commons sebagai jalan tengah dari copyright dan copyleft. Rilisan-rilisan tersebut meskipun disebar secara gratis namun tetap dilindungi dan dihargai meskipun belum tentu dengan sebuah materi. Secara lingkup luas peran Indonesian Netlabel Union menjadi jejaring yang mampu mengoptimasi pertumbuhan netlabel sebagai bagian kecil dalam kancah musik di Indonesia. Keberadaan netlabel sesungguhnya memiliki multi esensi dan fungsi. Ia bisa menjadi penjawab atas gerahnya permainan industri musik yang tidak memihak pada musik alternatif di luar mainstream. Ia juga bisa menjelma menjadi model yang peka jaman dengan memanfaatkan jaringan internet untuk proses distribusi dan promosi. Dan yang terpenting adalah bahwa keberadaan netlabel lewat metadata dan arsip yang tersimpan dalam sebuah perpustakaan digital mampu menjadi jembatan bagi sebuah ingatan akan karya seni khususnya musik yang pernah terangkum dan terilis. Sebuah komunikasi menjadi sebuah pengikat dan tanpa sebuah arsip maka masa depan belum tentu ada.

In the world of media, changes marked by one active point become the sign of the emergence of a new era. The comunication sciences, as a learner of the media, need to conduct a study in order to keep intelligence and knowledge progressive and developing. The new media represented by cellualr telephones, games and the internet has become the point of transition from the old to the new era. In the music industry, the internet has become one of the points of transition from the physical era to the digital era, which subsequently leads to the culture of sharing. The internet label or Netlabel is a creative form of the internet literacy happening in society. It being born communally and developed from communities to unlimited space has become an alternative in the music industry that has existed for tens of years on the basis of copyright laws. This research focused on 6 netlabels that are part of Indonesian Netlabel Union, namely Yesnowave (Yogyakarta), Inmyroom (Jakarta), Hujan rekords (Bogor), Mindblasting (Kutorjo), Stoneage records (Tangerang) and Kanaltigapuluh (Malang). These netlabels established themselves as the representatives of netlabel development in Indonesia through the activities they had organized. Netlabel became one of the internet-based new media managed differently from traditional organizations. This research observed how the media management in the distribution of music through the culture of sharing was conducted by numerous netlabels in Indonesia as non-profit media and applied sharing culture. This research was performed using the descriptive qualitative research and case-study methods. The data were collected by observation, interviews, documentation and library study with purposive sampling technique applied in information selection. Observation on the 6 netlabels and 1 vessel chosen as subject matters showed that the dynamics of netlabels that journeyed from the pocket communities in each town are highly varied. Some were led by influential individuals, some were run communally. Furthermore, their managements were unstructured; they did not even apply division systems like the more traditional organizations. Netlabels’s distribution patterns were heavily dependent on internet connection and the allocated time of the netlabel activist. Due to the fact that netlabels were not their main occupation, most activities were organized and held casually, although they still adhered to the idealism of each netlabel. The culture of sharing became a breakthrough and a lesson at the same time for both the netlabel activists and the audience. The fact that the internet-based media era with the nature of sharing are often used for illegal interests could be rebuffed in a positive way, namely netlabels with creative commons license as a middle ground for copyright and copyleft. These releases were distributed free of charge while still protected and valued, even though not always in material forms. The Indonesian Netlabel Union acted as a network that was able to optimize the growth of netlabels as a small part of Indonesian music industry. The existence of netlabels was multi-essential and multifunctional. It could become the answer to the music industry’s stifling games that did not agree with alternative music outside of the mainstream. It could also transform into an agesensitive model by using the internet network in the process of distribution and promotion. The most important matter is that the existence of netlabel through metadata and archive stored in a digital library was able to bridge for a concept of works of art, specifically music that had been compiled and released. Communication could become a bond, and without archive there is no guarantee that the future will be

Kata Kunci : Media baru, Netlabel, Budaya berbagi, Konten, Distribusi, Musik


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.