Laporkan Masalah

PENGEMBANGAN KRITERIA PERINGATAN BENCANA ALIRAN LAHAR DINGIN DI WILAYAH KALI GENDOL GUNUNG MERAPI

Ernowo Ary F, Prof. Dr. Ir. Djoko Legono

2014 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Pasca erupsi Gunung Merapi tahun 2010 menyebabkan bencana lahar dingin di kawasan lereng gunung berapi tersebut. Mengingat bahaya dan dampak yang diakibatkan oleh aliran lahar dingin ini, perlu dikembangkan suatu kriteria peringatan bencana aliran lahar dingin dengan metode sederhana yang memanfaatkan keterbatasan data dan parameter yang ada. Salah satu metode yang paling memungkinkan dengan melakukan analisis data curah hujan untuk dapat memprediksi kejadian aliran lahar dingin di alur Kali Gendol. Metode analisis yang dilakukan adalah dengan menggunakan penetapan curah hujan standar untuk peringatan dan evakuasi yang digunakan untuk prediksi bencana sedimen berdasarkan Guidelines for Development of Warning and Evacuation System Against Sediment Disasters in Developing Countries yang diterbitkan oleh Ministry of Land, Infrastructure and Transport (MLIT) Infrastructure Development Institute – Japan, 2004 yaitu dengan menyusun critical line, warning line dan evacuation line berdasarkan grafik korelasi working rainfall (mm) dengan intensitas curah hujan (mm/jam). Pada penelitian ini dapat disusun critical line (CL) yang dapat digunakan untuk prediksi terjadinya aliran lahar dingin berdasarkan karakteristik hujan, yaitu working rainfall dan intensitas hujan. Selanjutnya dapat disusun warning line (WL) dan evacuation line (EL) sebagai dasar untuk menentukan curah hujan standar untuk peringatan (R1) dan curah hujan standar untuk evakuasi (R2). Nilai R1 diperoleh sebesar ± 6 mm dan R2 sebesar ± 29 mm. Nilai R1 dan R2 sangat dipengaruhi oleh kelengkapan data hujan dan kejadian aliran lahar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan untuk pengembangan kriteria sistem peringatan dini bencana lahar dingin di lereng Gunung Merapi, khususnya di wilayah Kali Gendol.

After the eruption of Mount Merapi in 2010 led to the lahar flow disaster on the region of the volcano slopes. Given the dangers and impact caused by the lahar flow, it needs to develop a warning criteria for lahar flow disaster with a simple method that use the limited of existing data and parameters. One of method which is most likely to perform is analysis of rainfall data to predict occurence of lahar flow in Gendol River. The method of analysis is done by using a setting of standard rainfall for warning and evacuation used for the prediction of sediment disasters based on Guidelines for the Development of Warning and Evacuation System Against Sediment Disasters in Developing Countries, published by the Ministry of Land, Infrastructure and Transport (MLIT) Infrastructure Development Institute - Japan, 2004 by setting the critical line, warning line and evacuation line based on correlation graph between rainfall intensity (mm/h) with working rainfall (mm). In this research can be arranged the critical line (CL) which can be used to predict the occurrence of lahar flow based on the rain characteristics namely working rainfall and rainfall intensity. Furthermore it can be established the warning line (WL) and the evacuation line (EL) as a basis for determining the standard rainfall for warning (R1) and standard rainfall for evacuation (R2). The value of R1 obtained ± 6 mm and for R2 ± 29 mm. The value of R1 and R2 is strongly influenced by availability of rainfall data and occurrence of lahar flow. The results of this research expected can be used as input for the warning criteria development of early warning system lahar flow disaster on the slopes of Mount Merapi, particularly in the area of Gendol River.

Kata Kunci : lahar dingin, critical line, curah hujan standar, Kali Gendol.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.