Laporkan Masalah

HUBUNGAN ANTARA JENIS KELAMIN DENGAN SINDROMA METABOLIK SERTA KOMPONEN-KOMPONENNYA (Analisis Data Riskesdas Indonesia Tahun 2007)

KRISNAWATY BANTAS, Prof. Hari Kusnanto Yosef, SU, DrPH,

2014 | Disertasi | S3 Kedokteran Umum

Salah satu penyebab kematian yang utama di Indonesia adalah karena penyakit kardiovaskuler. Sindroma metabolik (SM) dan masing-masing komponennya (obesitas abdominal, hiperglikemia, dislipidemia, hipertensi) merupakan factor-faktor penting untuk perkembangan penyakit kardiovaskuler. Terdapatnya perbedaan berdasarkan Jenis Kelamin pada kejadian dari SM dan masing-masing komponennya dapat member konribusi terhadap terjadinya perbedaann Jenis Kelamin dalam perkembangan penyakit kardiovaskuler. Penelitian-penelitian di negara-negara Barat mengungkapkan adanya miskonsep tentang penyakit kardiovaskuler, dimana terdapat anggapan bahwa penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit kaum pria, sehingga para wanita kurang merasa takut dengan penyakit tersebut. Fakta epidemiologi menunjukkan adanya peningkatan insiden penyakit jantung koroner pada para wanita, para dokter lebih lamban dalam memberikan terapi pencegahan mendiagnosis, merujuk dan menyediakan pengobatan untuk kondisi infark miokard, dan lebih sedikit dalam menginvestigasi faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskuler pada para wanita. Kampanye publik dan media, membuat para wanita secara dominan terfokus pada kanker payudara dibandingkan penyakit kardiovaskuler, walaupun angka mekamitian karena penyakit kardiovaskuler lebih tinggi dianding karena kanker payudara. Selama ini, Indonesia belum mempunyai suatu penelitian berskala nasional yang mengevaluasi prevalensi dan risiko SMm dan komponen- komponennya berdasarkan Jenis Kelamin. Walaupun, jenis kelamin merupakan faktor risio penyakit kardiovaskuer yang tidak dapat dimodifikasi, penelitian prevalens dan risiko SM dan komponen-komponennya berdasarkan Jenis Kelamin menjadi penting karena informasi yang didapat dari penelitian tersebut akan dapat bermanfaat utuk perencanaan pada program penanggulangan penyakit kardiovaskuler berbasis gender. Menggunakan data sekunder dari Riset Kesehatan Dasar Indonesia 2007, penelitian dilakukan di 33 Provinsi, yang terdiri dari 438 kabupaten/kota di Indonesia. Disain peneltian potong lintang digunakan dalam penelitian ini. Populasi terdiri dari 13.262 pria dan wanita yang tidak sedang hamil, yang tinggal di area urban. Data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi logistik multilevel, dan parameter-parameter dalam model uji statistik diestimasi dengan menggunakan software Lisrel 87 versi LisWin32. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jenis kelamin dalam prevalensi SM dan masing-masing komponennya. Prevalensi SM, Obesitas abdominal, Hiperglikemia 2 jam PP, Hipokolesterolemia HDL lebih tinggi pada wanita dibanding pria. Prevalensi Hipertensi lebih tinggi pada pria dibanding wanita. Terdapat juga prebedaan jenis kelamin dalam risiko SM dan komponen- komponennya. Risiko SM dan Hipertensi berdasarkan jenis kelamin tidak bersifat independen, tapi dimodifikasi oleh umur, pendidikan dan status perkawinan dari individu. Risiko Obesitas abdominal berdasarkan jenis kelamin juga dimodifikasi oleh umur, pendidikan dan konsumsi serat perkapita dalam ruah tangga. Risiko hiperglikemia 2 jam PP berdasarkan jenis kelamin, dimodifikasi oleh umur dan pendidikan dari individu. Sedangkan risiko hipokolesterolemia-HDL berdasarkan jenis kelamin tidak dimodifikasi oleh kondisi lain, wanita mempunyai risiko Hipokloesterolemia HDL yang lebih tinggi dibanding pria. Kesimpulan, didaerah perkotaan Indonesia wanita lebih berpeluang mempunyai SM, Hiperglikemia 2 jam PP, Hipokolesterolemia HDL dibanding pria, sementara pria lebih berpeluang untuk mempunyai Hipertensi.

One of the main cause of mortality in Indonesia is cardiovasculer disease CVD). Metabolic syndrome (MS) and each of its components (abdominal obesity, hyperglycemia, dyslipidemia, hypertension) are important factors for the development of CVD. The existence of sex difference in MS and each of its components may contribute the sex difference in the development of CVD. Studies in western countries revealed that there were misconcepts about CVD, where there was a presumption that mostly CVD was the disease of men, so that women were less affraid of this disease. Epidemiological facts showed that there was an increased in incidence of coronarry heart disease in women, doctors were slower to start the prevention therapy, to diagnosis, to refer and provide the treatment for MI condition, and fewer to investigate the CVD risk factors, in women. Public and media campaigns, made women dominantly focused on breast cancer, than CVD, even the mortality rate of CVD is greater than of breast cancer. During this time, Indonesia has not had yet a nationaly large study which evaluate the prevalence and the risk of MS and each of its components by sex. Although, sex is an unmodified risk factor for CVD, research of the prevalence and risk of MS and each of its components by sex is important due to the informations which will be obtained from this study can be useful for planning in the CVD control program based on sex Using a secondary data from “the Riset Kesehatan Dasar Indonesia 2007”, study was conducted in 33 Provinces, consisted of 438 districts/cities in Indonesia. Cross-sectional design was used in this study. Polulation study consisted of 13.262 men and non-pregnant women, who lived in urban areas. Data were analized by using multilevel logistic regression, and the parameters in the statistical test model were estimated by software of Lisrel 87 version LisWin32. The result of the study showed that there was sex difference in the prevalence of MS and each of its compnents. The prevalence of MS, abdominal obesity, 2-hours PP hyperglycemia, HDL-hypocholesterolemia was higher among women than men. Prevalence of hypertension was higher in men than in women. There was sex difference in the risk of MS and its components. The risk of MS, and hypertension by sex was not independent, but it was modified by individual age, educational level and marital status. The risk of abdominal obesity by sex was modified by individual age, educational level and porsion of fiber consumption per capita in the household. The risk of 2-hours PP hyperglycemia by sex was modified by individual age and educational level. The risk of HDLhypocholesterolemia by sex was not modified by any other condition, women were higher at risk having HDL-hypocholesterolemia than men

Kata Kunci : Sindroma metabolik, Obesitas abdominal, Hiperglikemia 2 jam PP, Hipokolesterolemia HDL, Hipertensi, Jenis kelamin, Indonesia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.