Laporkan Masalah

MAKNA PERJODOHAN PADA JAMA’AH MUSLIM TARBIYAH KAB. SLEMAN DI.YOGYAKARTA (Studi Pada Perempuan Lajang Berusia Di Atas 30 Tahun)

Lidiawati, Prof. Dr. Sesetiawan

2014 | Tesis | S2 Sosiologi

Mengingat Indonesia dikenal sebagai mayarakat yang masih mengutamakan sistem patriarki dimana ayah lebih berperan terhadap hal apapun yang menyangkut keluarga termasuk urusan perjodohan terhadap anaknya, maka wajar jika sebuah lembaga perjodohan dalam suatu jama’ah dianggap sebagai sebuah fenomena yang tak lazim dalam masyarakat pada umumnya. Sebagaimana dalam jama’ah muslim Tarbiyah dimana perjodohan itu diambil alih oleh pembina (murobbi/murobbiyah) yang selanjutnya diserahkan kedalam sebuah badan formal bernama “Badan Konseling Keluarga Bahagia Sejahtera” yang berada dibawah struktur Partai Keadilan Sejahtera Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini merupakan sebuah fenomena yang dapat menggambarkan kuatnya pengaruh suatu kelompok jama’ah terhadap individu yang tergabung kedalam kelompok jama’ah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengungkapkan bagaimana makna perjodohan dalam kelompok pada jama’ah muslim Tarbiyah dilihat dari pertimbangan dan pengambilan keputusan individu dalam kelompok jama’ah sekaligus melihat bagaimana otoritas para anggota jama’ah perempuan dalam proses perjodohan di BKKBS. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan secara fenomenologis. Informan dalam penelitian ini adalah enam orang yang diobservasi dan diwawancarai secara mendalam dan delapan orang lainnya sebagai informan pendukung. Data dari hasil wawancara tersebut digunakan untuk mengkonstruksi teori interaksi simbolik yang seringkali muncul dalam suatu studi kelompok dan organisasi. Penelitian menunjukkan bahwa makna perjodohan antar anggota tidak hanya dimaknai sebagai suatu pelaksanaan proses pernikahan yang syar’i melainkan juga secara sadar diakui anggota sebagai salah satu upaya strategi dakwah dan kaderisasi politik yang cenderung lebih mengutamakan kepentingan partai. Ada suara pro dan kontra yang muncul dari dalam internal anggota jama’ah tentang proses perjodohan melalui BKKBS.

Indonesian society are well-known as patriarchal society in which fathers contribute more to family matters, including arranging marriages for their children. Hence a congregational matchmaking agency is regarded as unusual. Tarbiyah Muslim congregation is an example of which the matchmaking is arranged by the builder (murobbi/murobbiyah). The arrangement is then submitted into a formal entity called Badan Konseling Keluarga Bahagia Sejahtera (BKKBS) 'Happy Prosperous Family Counseling Agency' under Yogyakarta PKS party structure. This is a phenomenon that describes the strong influence of group to its members. This study aims to reveal the meaning of matchmaking in Tarbiyah Muslim congregation through its member's judgment and decision making as well to see female members' authority in matchmaking process in BKKBS. This study used qualitative research method with a phenomenological approach. There are six informants participating in this study. They were observed and interviewed in depth. In addition, there were eight supporting informants. The interview data were used to construct symbolic interaction theory which often arised in group and organization study. The research showed that participants admitted that matchmaking among members served as an implementation of shar'ie marriage and regeneration strategies for political party interests. There were pro and contra voices arisen from the internal members of the congregation about the matchmaking process in BKKBS.

Kata Kunci : Makna, BKKBS, Jama’ah Tarbiyah, Meaning, BKKBS, Tarbiyah Muslim Congregation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.