Laporkan Masalah

KORELASI RESILIENSI DENGAN DEPRESI PADA NARAPIDANA WANITA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS II A BANJARMASIN

Noorsifa, dr. Budi Pratiti, Sp.KJ

2013 | Tesis | S2 Ked.Klinik/MS-PPDS

Tindak kriminalitas yang makin meningkat menyebabkan semakin banyak penghuni lembaga pemasyarakatan. Lembaga pemasyarakatan (lapas) merupakan tempat narapidana menjalani hukuman berdasarkan keputusan pengadilan dan merupakan tempat yang penuh dengan tekanan. Istilah lapas/penjara sudah menyebabkan perasaan takut dan stigma yang tidak menyenangkan bagi penghuninya. Lapas dapat menjadi pemicu terjadinya gangguan jiwa pada narapidana. Narapidana wanita memiliki risiko lebih besar untuk mengalami depresi dibandingkan dengan narapidana pria. Depresi adalah satu salah gangguan jiwa yang dialami narapidana selama di lapas selain gangguan psikosis dan gangguan kepribadian. Dalam menghadapi situasi-situasi yang penuh tekanan dalam hidup serta perubahan kehidupan yang dialami, narapidana wanita harus dapat menyesuaikan diri agar tetap bertahan dengan kondisi tersebut. Kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan kehidupan yang menekan ini disebut dengan resiliensi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional dengan tujuan untuk mengetahui adanya korelasi antara resiliensi dengan depresi pada narapidana wanita di lembaga pemasyarakatan Klas II A Banjarmasin. Subyek penelitian adalah narapidana wanita di lembaga pemasyarakatan klas II A Banjarmasin. Sampel diambil dengan cara purposive sampling. Perkiraan besar sampel penelitian sebanyak 38 sampel. Sampel diambil di lembaga pemasyarakatan Banjarmasin selama bulan November 2013. Instrumen penelitian yang digunakan adalah data pribadi, Beck Depression Inventory dan Skala Resiliensi dari Connor dan Davidson. Data penelitian dianalisis dengan uji chisquare, uji Contingency Coefficient (CC) dan regresi logistik. Depresi didapatkan pada 12,5% subyek penelitian. Resiliensi tidak memiliki hubungan bermakna dengan kejadian depresi (p = 0,642).

Criminal action in society is showing an increasing trend, resulting in an increase of convicts in correctional facility. Correctional facilities is a place where inmates serve their term according to court decisions and is a place considered as stressful. The term of correctional facility/prison has led to fear and stigma that is pleasant for the inmates. Prison may trigger mental disorders in inmates. Female inmates are at greater risk for depression than male inmates. Depression is a common mental disorder identified in inmates, besides psychotic disorders and personality disorders. In the face of situations in life as well as stressful life changes experienced, female inmates should be able to adapt to survive in these conditions. The ability to adjust to changes in life that is called by pressing the resilience. The design for this study was a cross sectional to assess the correlation between resilience and depression in female inmates in Banjarmasin class II A correctional facility. Subjects were female inmates in Banjarmasin class II A correctional facility. Purposive sampling was used in the study. At total of 38 samples were required for study. Subjects were recruited in Banjarmasin correctional facility in November 2013. The instruments used in the study were personal data, Beck Depression Inventory and resilience scale of the Connor Davidson. Data were analyzed with chi-square test, Contingency Coefficient (CC) and logistic regression. Depression was found in 12.5% of the subjects. Resilience does not have a significant relationship with the occurrence of depression (p = 0.642).

Kata Kunci : resiliensi-depresi-narapidana wanita-lembaga pemasyarakatan, resilience, depression, female inmates, correctional facility


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.