Laporkan Masalah

Hubungan antara Tingkat Keteraturan Kontrol dengan Tingkat Ketaatan Pengobatan pada Penderita Gangguan Psikotik Fase Awal di Yogyakarta

RENATA ULI AVIOLA, Dr. dr. Carla R. Marchira Sp.KJ

2014 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER

Latar Belakang: Sekitar 3% dari populasi orang akan mengalami episode psikotik. Episode awal biasa terjadi pada masa remaja atau dewasa awal, waktu yang krusial dalam pengembangan identitas diri. Kurangnya pengertian mengenai gangguan psikotik menyebabkan keterlambatan dalam mencari bantuan padahal fase awal ini mempengaruhi outcome jangka panjang penyakit. Pengobatan untuk gangguan psikotik merupakan tugas yang menantang. Masalah psikososial yang kompleks menyebabkan pemulihan yang tidak sempurna. Pasien dengan gangguan psikotik merupakan kelompok risiko besar untuk tidak taat pengobatan. Untuk itu dibutuhkan suatu pendekatan preventif, contohnya, dengan terapi keteraturan. Tujuan: Melakukan identifikasi hubungan antara tingkat keteraturan kontrol dengan ketaatan pengobatan pada pasien gangguan psikotik fase awal di Yogyakarta. Metode: Cross-sectional secara sewaktu dari Oktober 2010 hingga Maret 2011. Didapatkan 100 subjek berasal dari RSUP Dr Sardjito, RSJ Ghrasia, RSK Puri Nirmala, RSUD Wates, RSUD Bantul dan RSUD Gunungkidul. Keteraturan kontrol dan ketaatan pengobatan diperoleh dari laporan caregiver berupa lembar ketaatan pengobatan. Kemudian dilakukan uji statistic dengan koefisien kontingensi. Hasil: Sebanyak 77,8% subyek yang tidak taat pengobatan juga tidak kontrol, lalu 66,6% subyek yang tidak taat pengobatan, tidak teratur kontrol. Hasil statistik menunjukkan nilai p=0,000 dan CC=0,841. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara keteraturan kontrol dengan ketaatan pengobatan pada pasien gangguan psikotik fase awal dengan kekuatan hubungan yang bersifat sangat kuat.

Background: Approximately 3% of people will experience a psychotic episode. First-episode occurs in adolescence or early adult life, crucial time for self development. Lack of understanding of psychotic leads to delay in seeking help besides this first-episode impact long-term outcome of the disease. Treatment for psychotic disorder is a challenging task. Complex psychosocial problem cause imperfect recovery. Patient with psychotic disorder is a major risk group for medication non-adherencee. Therefore preventive approach should be implemented, for example using clinical appointment regularity treatment may be useful. Objective: To identify the relationship between adherence with clinical appointment and medication adherence on patient with first-episode psychotic in Yogyakarta. Method: Cross-sectional data analysis between the period of October 2010 and March 2011. A number of 100 test subjects from RSUP Dr. Sardjito, RSJ Gharasia, RSK Puri Nirmala, RSUD Wates, RSUD Bantul and RSUD Gunungkidul were gathered. Adherence with clinical appointment and medication adherence were reported by caregiver in medication adherence form. Then statistical analysis were done using coefficient contingency. Result: There were 77,8% medication non-adherence subject which were also not adherence with clinical appointment, then 66,6% medication non-adherence subject, not adherence with clinical appointment regularly. Statistical result indicated p-value =0,000 and CC=0,841. Conclusion: There is a significant relationship between adherence with clinical appointment and medication compliance in patient with first-episode psychotic with the correlation’s degree is very strong.

Kata Kunci : Skizofrenia, Psikotik fase awal, Keteraturan kontrol, Ketaatan pengobatan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.