Laporkan Masalah

KEMITRAAN STAKEHOLDERS DALAM PENGELOLAAN OBYEK WISATA ZIARAH MAKAM AULIA GUNUNGPRING MUNTILAN

Dwi Warti Purnomo W, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D; Ir. Didik Kristiadi, MLA., M.Arch.UD,

2014 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Saat ini ziarah kubur telah berkembang menjadi suatu kegiatan pariwisata, yang disebut dengan wisata ziarah. Objek tujuan wisata ziarah biasanya makam tokoh yang berjasa atau terkenal semasa hidupnya. Salah satu objek wisata ziarah tersohor yang terdapat di Kabupaten Magelang ialah Makam Aulia Gunungpring, Muntilan. Dibandingkan objek lain di Kabupaten Magelang dengan daya tarik wisata yang relatif lebih menarik, Makam Aulia Gunungpring memiliki fasilitas dan pelayanan lebih lengkap serta bisa memberikan kenyamanan kepada pengunjungnya. Keberhasilan tersebut tentunya melibatkan kerjasama berbagai pihak. Berdasarkan pemikiran tersebut, penulis melakukan penelitian mengenai kemitraan di objek wisata ziarah Makam Aulia Gunungpring. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dilakukan secara eksploratif. Sumber data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi serta dianalisis secara induksi. Sebagai lokasi penelitian ialah Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Temuan di lokasi penelitian menunjukkan bahwa wisata ziarah merupakan salah satu jenis wisata alternatif yang bisa dikembangkan di Indonesia. Majunya industri pariwisata di Makam Aulia Gunungpring merupakan hasil peran aktif seluruh stakeholders, sebagian besar merupakan stakeholders lokal,meliputi Yayasan KR. Santri, Pemdes Gunungpring, BKM Mandiri, pedagang, Kelompok Sadar Wisata Adiluhung, Yayasan Muslimat NU, dan Pondok Pesantren Darussalam. Adapun stakeholders tingkat kabupaten yang berperan ialah Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Sumberdaya Mineral, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Ada beberapa stakeholders yang melakukan kemitraan. Kemitraan yang terbentuk meliputi kemitraan kolaboratif (Pemdes Gunungpring-Yayasan KR. Santri), kemitraan konsultatif (BKM Mandiri-DPU dan ESDM), kemitraan kontribusi (Pemdes Gunungpring-pedagang, Pemdes Gunungpring-Muslimat NU, Muslimat NU-pedagang), dan kemitraan operasional (Pemdes Gunungpring-Distanbunhut). Kemitraan tersebut memberikan dampak positif bagi perkembangan objek wisata, yakni meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana sehingga menaikkan tingkat kunjungan wisatawan. Secara umum seluruh stakeholders merasa puas dengan hasil kerjasama ini. Keberhasilan kemitraan di objek wisata Makam Aulia Gunungpring dipengaruhi oleh aspek alam (keberadaan bukit dan makam Gunungpring serta kondisi lokasi dan status tanah), aspek manusia (kualitas Sumber Daya Manusia dan kepemimpinan), serta aspek sosial budaya (kharisma tokoh yang dimakamkan dan rasa cinta desa).

Today, pilgrimage has become important alternative tourism activity which called pilgrimage tour. The destination of this tour is ussually a famous or meritorious figures graveyard. One of the famous pilgrimage object in Magelang Regency is Aulia Gunungpring Graveyard, Muntilan. This object has more facilities and services that are able to make visitors feel comfort. This research used qualitative descriptive method. The data were collected by interviews, observations, and documentation. The research shows that pilgrimage tour is a potential alternative tourism activities in Indonesia. The succes promotion of Aulia Gunungpring Graveyard as important tourism object is caused by full participations of all stakeholders in that area. The stakeholders consist of KR. Santri Foundation, The Government of Gunungpring Village, BKM Mandiri (community self-supporting), trader, Adiluhung Tourism Awareness Group, Muslimat NU Foundation, Darussalam Islamic Boarding School, DPU and ESDM (Public Works and Mineral Source Energy Service), Distanbunhut (Agriculture Plantation and Forestry Service), and also Disparbud (Tourism and Cultural Service) of Magelang Regency. There were able to established effective partnership. The partnership consist of collaborative partnership (Gunungpring Village Government–KR. Santri Foundation), consultative partnership (BKM Mandiri–DPU and ESDM), contributive partnership (Gunungpring Village Government–trader, Gunungpring Village Government–Muslimat NU Foundation, Muslimat NU-trader), and operational partnership (Gunungpring Village Government-Distanbunhut). Such partnership brought a positive effect in the form of quantity and quality. In general, all stakeholders satisfied with such partnerships.

Kata Kunci : wisata ziarah, stakeholders, kemitraan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.