DINAMIKA SEDIMEN DAN POTENSI KERENTANAN AIRTANAH DARI PEMBANGUNAN PELABUHAN TANJUNG ADIKARTA KABUPATEN KULON PROGO
MALICHAH KURNIA PRTIWI, Dr. rer. nat. Djati Mardiatno, M.Si
2012 | Tesis | S2 GeografiPembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarta di Desa Karangwuni dan Glagah, Kabupaten Kulon Progo memiliki beberapa potensi masalah yakni diantaranya dinamika sedimen akibat dari pembangunan breakwater berupa Jetties di sekitar muara Sungai Serang untuk menahan hempasan gelombang, serta pengambilan airtanah untuk memenuhi kebutuhan aktivitas pelabuhan, sangat berpotensi menimbulkan kerentanan apabila tidak memperhatikan ketersediaannya. Penelitian ini menggunakan metode digitasi on screen dan overlay peta serta foto udara time series untuk mengetahui dinamika sedimen di sekitar muara Sungai Serang sebelum dan sesudah dibangun Jetties. Metode statis digunakan untuk menghitung kuantitas airtanahnya, kemudian kerentanan airtanah dihitung dengan mencari selisih antara ketersediaan airtanah di dalam akuifer dengan kebutuhan airtanah untuk pelabuhan yang terdapat dalam Laporan Akhir Studi Kelayakan Pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarta. Berdasarkan pada hasil overlay foto udara pada tahun 1981 skala 1 : 30.000, tahun 1997 skala 1 : 10.000, tahun 2001 skala 1 : 20.000, skala 1 : 25.000 tahun 1992, skala 1 : 50.000 tahun 1993 menunjukkan bahwa dinamika sedimen di sekitar muara sungai serang tidak signifikan terjadi yang ditandai dengan sempitnya perubahan luasan sedimen. Namun dilihat dari segi perubahan garis pantainya terjadi akresi yakni dari tahun 1981 hingga 1992. Sedimen di sebelah barat dan timur muara Sungai Serang mengalami akresi pada tahun 1981 hingga 1992 dan cenderung mengalami abrasi dari tahun 1992 hingga tahun 2006 yang terlihat dari perubahan garis pantai dan luasan area sedimennya. Pada saat sebelum dan sesudah dibangun Jetties tidak terjadi perubahan yang signifikan terhadap pola sedimentasi di sekitar Muara Sungai Serang karena proses yang terjadi di muara lebih didominasi oleh faktor hidrooseanografi. Pada tahun 2006 di sebelah timur Jetty memang terjadi sedimentasi yang luasan areanya relatif besar dibanding beberapa tahun sebelumnya dimana hal ini menunjukkan adanya akresi meski sedikit. Di sebelah barat Jetty luasan sedimen tidak mengalami penyempitan yang berarti (abrasi) dibanding beberapa tahun sebelumnya. Kebutuhan air untuk pelabuhan sebanyak 49.616.640 liter/tahun dapat terpenuhi oleh akuifer di sekitarnya, yakni di Desa Glagah dan Karangwuni karena volume total akuifer di kedua desa tersebut adalah 58.916.550.000 m3. Apabila penurapan air untuk pelabuhan ditambah dengan kebutuhan air untuk penduduk dengan total keduanya 233.944.560 liter/tahun maka jumlah tersebut pun masih dapat terpenuhi dari akuifer yang tersedia. Kebutuhan airtanah sejumlah 233.944.560 liter/tahun yang diturap untuk pelabuhan dan kebutuhan domestik penduduk tidak melebihi batas hasil aman yakin 2.073.680.000 m3/tahun yang berarti tidak menimbulkan potensi intrusi air laut di Desa Karangwuni dan Glagah.
The development of Tanjung Adikarta Harbor in Karangwuni and Glagah villages, Kulonprogo District has some physical potential impacts such as sediment dynamics resulting from the construction of breakwater in the form of Jetties around the estuary of Serang River and groundwater tapping to meet the needs of port activity which can lead to vulnerability if it does not pay attention to the availability. This study uses digitized on screen and maps overlay methods as well as time series aerial photographs to determine the dynamics of the sediment around the mouth of Serang River before and after Jetties constructed. The static method is used to calculate the quantity its groundwater, then the vulnerability of groundwater is calculated by finding the difference between the availability of groundwater in the aquifer with groundwater harbor needs contained in the Final Report of the Feasibility Study Development of the Port of Tanjung Adikarta. The aerial overlay photo in 1981 with the scale of 1: 30,000, 1997, scale 1: 10,000, 2001, scale 1: 20,000, scale 1: 25,000 in 1992, scale 1: 50,000 in 1993 showed that insignificant sediment dynamics did not occur around the mouth of Serang River which was characterized by the narrow sediment area change. However, in terms of its shoreline changes, accretion occurred from 1981 to 1992. The sediments in the west and east side of the mouth of Serang River experienced accretion in 1981 to 1992, and prone to abrasion from 1992 to 2006, as seen from the shoreline change and the wide of sediment area changes. At the time before and after Jetties building no significant changes happened in the pattern of sediment around the estuary of Serang River due to processes occurring in the estuary is dominated by hydrooceanographic factors. In 2006 the east of Jetty sediment area of which its width is relatively large compared to the area a few years earlier showed a slight accretion. While in the west side of Jetty sediments area did not experience significant narrowing (abrasion) compared to previous years. Water needs for the harbor, as much as 49,616,640 liters / year can be met by the surrounding aquifer in Karangwuni and Glagah villages because the total volume of the aquifer in both villages is 58,916,550,000 m3. However if the water plastering for port coupled with water needs for the residents with both total 233,944,560 liters / year, then the number still can be met by the available aquifers. The need for groundwater number 233 944 560 liters / year which is plastered for port and domestic population needs does not exceed the safe yield limit that is 2.07368 billion m3/year that means it does not pose a potential seawater intrusion in Karangwuni and Glagah villages.
Kata Kunci : pelabuhan, dinamika sedimen, intrusi air laut, jetty