Laporkan Masalah

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENGEMBANGAN SISI DARAT TRANSPORTASI UDARA (Studi Kasus Terminal Penumpang Bandar Udara Juwata Tarakan)

HERU NUGROHO, Prof. Ir. Sigit Priyanto, M.Sc., Ph.D.

2013 | Tesis | S2 Mag. S. & T.Transportasi

Kecenderungan masyarakat Indonesia untuk terbang ditandai dengan meningkatnya jumlah penumpang dan jumlah penerbangan yang memerlukan daya dukung dari kesiapan infrastruktur transportasi udara. Penyediaan, kepemilikan, pengoperasian dan pemeliharaan prasarana dan sarana transportasi selama ini masih didominasi oleh Pemerintah dan BUMN, yang tarif pelayanannya cenderung di bawah harga. Hal itu terjadi karena kebijakan tarif yang diambil lebih menekankan pertimbangan politis daripada pertimbangan finansial. Infrastruktur transportasi udara merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, juga sebagai multiplier effects, yang akan mendorong pertumbuhan pada sektor-sektor vital lainnya Penelitan ini dilakukan untuk mengetahui analisis kelayakan investasi pengembangan infrastruktur transportasi udara khususnya pengembangan terminal penumpang bandar udara Juwata di Tarakan, menggunakan metode Benefit Cost Analysis dengan parameter nilai yang digunakan adalah NPV, IRR, BCR dan Payback Period. Penumpang di bandar udara Juwata akan mencapai 1.217.491 orang pada tahun 2021. Dengan rumus Y=55.832,25x–111.619.482,44 dan R²=0.95 berdasarkan metode trend linear projection. Penumpang pada jam sibuk 609 orang, sehingga membutuhkan luas bangunan 9.666,26 m2 berdasarkan metode JICA. Dan 11.322,75 m2 berdasarkan metode SKEP No. 347/XII/1999. Eksisting saat ini seluas 3.168 m2 maka perlu pengembangan terminal penumpang. Berdasarkan SKEP No. 120/VI/2002, metode Benefit Cost Analysis digunakan untuk menganalisis kelayakan finansial yang menghasilkan nilai : NPV = Rp. 361,754,475,800.00; BCR = 1.897041; IRR = 27.146542%; Payback Period = 10 tahun.

Tendency to fly Indonesian society marked by the increasing number of passengers and number of flights that require the air transport infrastructure readiness. Provision, ownership, operation and maintenance of infrastructure and facilities for this is still dominated by government, the rates tend to be underpriced services. It happened because the tariff policy taken emphasizes political, rather than financial considerations. Air transport infrastructure is a driver of economic growth and development, as well as the multiplier effect, which will encourage the growth of other vital sectors. This research was conducted to determine the feasibility analysis of the development of air transport infrastructure investment in particular the development of the airport passenger terminal Juwata in Tarakan, using Benefit Cost Analysis method with the parameter values used are the NPV, IRR, BCR and Payback Period. Passengers at airports Juwata will reach 1,217,491 people in 2021. With the formula Y = 55.832,25x – 111.619.482,44 and R² = 0,95 based on linear trend projection method. Passengers at peak hours 609 people, thus requiring a building area of 9.666,26 m2 based methods JICA and 11.322,75 m2 based method Skep No.347/XII/1999. Existing area of 3.168 m2 at this time it is necessary to the development of the passenger terminal. Based Skep No.120/VI/2002, Benefit Cost Analysis method is used to analyze the financial feasibility of producing value : NPV = Rp. 361,754,475,800.00; BCR = 1.897041; IRR = 27.146542%; Payback Period = 10 years.

Kata Kunci : Kelayakan Investasi, Benefit Cost Analysis, NPV, BCR, IRR, Payback Period


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.