VALIDITAS KLINIK GENERAL HEALTH QUESTIONNAIRE-12 SEBAGAI INSTRUMEN SKRINING GANGGUAN INSOMNIA PRIMER DI PUSKESMAS
Novita, Rahmat Hidayat, S. Psi, M. Sc, Ph. D
2014 | Tesis | S2 Magister Profesi PsikologiGangguan tidur merupakan salah satu dari tujuh gangguan dengan prevalensi tinggi di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Salah satu jenis gangguan tidur yang paling banyak ditemukan adalah gangguan insomnia primer. Tingkat prevalensi gangguan insomnia primer adalah 6%, akan tetapi sebagian besar pasien yang mengalaminya belum dapat terdeteksi oleh tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas klinik GHQ-12 sebagai instrumen skrining gangguan insomnia primer yang efisien pada setting layanan kesehatan di Puskesmas. Hasil wawancara klinis berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV Text Revision (DSM-IV-TR) yang dilakukan oleh psikolog terlatih digunakan sebagai standar emas hasil skrining. Subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 227 pasien dewasa usia 18-60 tahun dari sepuluh Puskesmas di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Prevalensi pasien yang mengalami gangguan insomnia primer adalah 0,44%. Hasil uji psikometrik menunjukkan bahwa data penelitian reliabel untuk dianalisis (koefisien Alpha Cronbach = 0,945) dan GHQ-12 adalah instrumen yang unidimensi berdasarkan Principal Component Analysis. Koefisien validitas konkuren (r = 0.16) dan hasil uji diagnostik (AUC = 58%; sensitivitas = 100%; spesifisitas = 55,3%; LR+= 2,24; dan LR- = 0) menunjukkan bahwa GHQ-12 tidak dapat menjadi instrumen skrining gangguan insomnia primer di Puskesmas.
Sleep disorder is one of the seven highest prevalence disorders in primary care (Puskesmas). Primary insomnia is sleep disorder’s subtype which frequently diagnosed. Despite it’s prevalence, which is 6%, most of patient with primary insomnia were unidentified. This research is aimed to test the clinical validation of GHQ-12 as an efficient screening tool for primary insomnia in primary care setting. The result of clinical interview based on Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV Text Revision (DSM-IV-TR) held by trained psychologists is used as gold standar. There were 227 adult subjekts age 18-60 from ten Puskesmas’s in Sleman dan Yogyakarta, Yogyakarta Province. There were 0.44% patient diagnosed have primary insomnia. Psychometric tests showed the datas were reliable to be analyzed (Alpha Cronbach = 0.945) and GHQ-12 is unidementional instrument based on Principal Component Analysis. Concurrent validity coefficient (r = 0.16) and diagnostic test (AUC = 58%; sensitivity = 100%; specivicity = 55.3%; LR+= 2.24; and LR-= 0) showed that GHQ-12 can’t be screening instrument for primary in Puskesmas.
Kata Kunci : GHQ-12, gangguan insomnia primer, layanan kesehatan dasar, validitas klinik, skrining.