PENGGARAPAN LAHAN OLEH MASYARAKAT DI SUAKA MARGASATWA PALIYAN KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Bisro Syabani, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A.,Ph.D
2014 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & DaerahSuaka Margasatwa Paliyan merupakan salah satu kawasan konservasi seluas 434,6 hektar di Daerah Istimewa Yogyakarta yang ditunjuk melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000. Pada saat ditunjuknya kawasan ini menjadi suaka margasatwa, di kawasan ini terdapat sekitar 2.000 orang penggarap lahan yang berasal dari desa-desa sekitar kawasan tersebut (Desa Karangduwet, Karangasem, Kepek dan Jetis). Saat ini permasalahan penggarapan lahan ini masih terjadi di kawasan tersebut. Program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan tersebut menjadi salah satu langkah yang ditempuh Balai KSDA Yogyakarta dan Mitsui Sumitomo Insurance Co.,Ltd untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap hutan, termasuk kegiatan penggarapan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kegiatan penggarapan lahan oleh masyarakat di Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta mengkaji kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan tersebut dalam rangka mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap Suaka Margasatwa Paliyan. Dalam mengkaji dan menemukan faktor-faktor yang berpengaruh dalam kegiatan penggarapan lahan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar Suaka Margasatwa Paliyan, penelitian ini menggunakan pendekatan induktif dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menemukan fakta bahwa penggarapan lahan di Hutan Paliyan (yang sekarang menjadi Suaka margasatwa Paliyan) telah dilakukan sejak tahun 1950-an. Faktor-faktor yang mendorong masyarakat tetap menggarap di dalam kawasan suaka margasatwa adalah: pemenuhan kebutuhan ekonomi, kurangnya kepemilikan lahan garapan, aksesibilitas mudah, faktor sejarah/ budaya, kebijakan pemangku kawasan, dan kondisi tanaman rehabilitasi. Sedangkan faktor pendorong masyarakat berhenti menggarap di dalam kawasan adalah penurunan produktivitas tanaman garapan, keberhasilan kegiatan rehabilitasi lahan, aksesibilitas yang sulit, dan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi. Program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan Balai KSDA Yogyakarta dan Mitsui Sumitomo Insurance Co.,Ltd dalam usaha menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kawasan dan mendorong keluarnya penggarap dari kawasan sejauh ini masih belum maksimal. Jumlah penggarap, luas lahan garapan, intensitas kerusakan kawasan, serta tingkat pendapatan masyarakat masih relatif tetap dibandingkan dua tahun yang lalu saat dimulainya program ini. Manfaat terbesar dari program pemberdayaan masyarakat ini adalah peningkatan pengetahuan dan kapasitas terutama di bidang pertanian
Paliyan Wildlife Sanctuary is a legal protected area of 434.6 hectares, located in Yogyakarta Special Region. At the time this area is stated as wildlife sanctuary, there were 2,000 illegal land tillers of the adjacent villages (Karangduwet, Karangasem, Kepek and Jetis). At the moment, this problem is still exist. Community development program of the adjacent villages is conducted by Yogyakarta KSDA Office and Mitsui Sumitomo Insurance Co., Ltd to reduce local community dependency on forest especially activity of tilling the land. The research aimed to map out illegal utilization of the land by local community in Paliyan Wildlife Sanctuary area, to identify the affected factors and to study the community development activities of the adjacent area to reduce society dependency of Paliyan Wildlife Sanctuary. The research used inductive approach and qualitative descriptive method. The research shows that illegal land utilization at the Paliyan Forest (which now become Paliyan Wildlife Sanctuary) has started since 1950’s. The encourage factors of the community to do working field at the wildlife sanctuary are: to fulfill economy’s needs, the lack of field ownership, easy access, history/ cultural aspect, area authority policy, and the plant condition rehabilitation. The encourage factors to end the society work the field at the Paliyan Wildlife Sanctuary area are: the reducing working plant productivity, field rehabilitation activities success, difficult access, and also the socialization and counseling activities. Community empowerment program developed by the Yogyakarta KSDA Office and Mitsui Sumitomo Co., Ltd program to reduce society dependency on the Paliyan Wildlife Sanctuary area and to prompt the field worker pull out of the area has not yet maximum. The amount of the worker, field width, damage areas intensity, and the society income is relatively constant since the program started two years ago. The biggest benefit of this community empowerment is the knowledge and capacity enhancement especially in agriculture.
Kata Kunci : -