EVALUASI EFEKTIVITAS PELATIHAN DEPRESI DAN ANSIETAS BAGI DOKTER UMUM DAN ANGKA CAKUPAN LAYANAN KESEHATAN JIWA PUSKESMAS DI SLEMAN, YOGYAKARTA
IKA NURFARIDA, dr. Mahar Agusno, SpKJ(K); Dra. Yayi Suryo Prabandari, MSi., Ph.D.
2014 | Tesis | S2 Ked.Klinik/MS-PPDSMenurut WHO, sekitar dua per tiga pengunjung layanan primer menunjukkan satu gejala psikiatrik dan seperempatnya mendapatkan diagnosis gangguan psikiatrik berdasarkan ICD X. Gangguan jiwa yang paling banyak ditemukan di layanan primer adalah gangguan depresi (10%) dan gangguan ansietas menyeluruh (8%). Namun gangguan depresi yang terdiagnosis oleh dokter umum di layanan primer hanya sebesar 1%. Prevalensi gangguan mental emosional di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 9,6%. Angka cakupan layanan kesehatan jiwa puskesmas di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2007 hanya sebesar 1,57% dari jumlah kunjungan puskesmas, sedangkan angka cakupan layanan kesehatan jiwa puskesmas di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2011 rata-rata 1,76% dari jumlah kunjungan puskesmas. Cakupan layanan kesehatan jiwa puskesmas yang rendah ini antara lain disebabkan karena dokter umum di puskesmas masih mengalami kesulitan dalam mendiagnosis gangguan jiwa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuasi eksperimental dengan tujuan untuk mengetahui hasil evaluasi pelatihan dan mengetahui angka cakupan layanan kesehatan jiwa sebelum dan sesudah intervensi pelatihan menggunakan “Modul Pelatihan Depresi dan Ansietas Bagi Dokter Umumâ€. Didapatkan rating di atas cut off point pada 80% kuesioner evaluasi pelaksanaan pelatihan. Peningkatan bermakna nilai pretest dan posttest pada soal modul sebesar 45,8 vs 70,2 (p = 0,026). Peningkatan tidak bermakna nilai pretest dan posttest pada soal modifikasi sebesar 61,5 vs 64,1 (p = 0,476). Angka kesepakatan kappa dalam melakukan diagnosis depresi antara subjek penelitian dan petugas interater sebesar 0,221 (p = 0,001), angka kesepakatan kappa dalam melakukan diagnosis ansietas sebesar 0,190 (p = 0,001), dan angka kesepakatan dalam melakukan diagnosis psikotik sebesar kappa = 0,794 (p = 0,001). Peningkatan rata-rata angka cakupan layanan kesehatan jiwa semua puskesmas, namun tidak bermakna dari 1,68% menjadi 1,98% (p = 0,24). Peningkatan jumlah puskesmas yang dapat mencapai target SPM ≥ 3%, pada 9,5% puskesmas menjadi 19%. Peningkatan angka cakupan layanan kesehatan jiwa pada saat dilakukan interater sebesar 43%. Kecenderungan penurunan angka cakupan sesudah bulan kedua pada 76% puskesmas yang melaporkan peningkatan angka cakupan layanan kesehatan jiwa sesudah intervensi.
According to WHO, arround two third patients in primary care showed psychiatric symptoms and quarter is diagnosed psychiatric disorder base on ICD X. The mental disorders which most commonly found in primary care are depressive disorder (10%) and general anxiety disorders (8%). However depressive disorder which diagnosed by general practitioner in primary care is just 1%. The prevalence of mental emotional disorders in Daerah Istimewa Yogyakarta is 9.6%. The rate of mental health coverage in primary care in Daerah Istimewa Yogyakarta in 2007 only 1.57% of total visits, while the rate of mental health coverage primary care in the district of Sleman, Daerah IstimewaYogyakarta in 2011 in an average 1.76% of the rate of primary care visits. Coverage of mental health services in primary care is low because the general practitioners in primary care are still experiencing difficulties in diagnosing the mental disorders. This study was designed with quasi-experimental research design. The aims of the study were to evaluate of training and to determine the rate of mental health coverage before and after intervention with \\"Depression and Anxiety Training Modules for General Practitioners\\". There were 80% of the training evaluation questionnaire achieve rating above the cut-off point. Significantly increase the result of pretest and posttest on subject module with value of 45.8 vs. 70.2 (p = 0.026). There was an increasing result from pretest to posttest on subject modification with amount of 61.5 vs. 64.1 (p = 0.476). Kappa agreement rate of diagnosis of depression among subjects research and interater officer of about 0.221 (p = 0.001), kappa agreement rate of diagnosis of anxiety was 0.190 (p = 0.001), and rate of diagnosis of psychotic agreement by kappa = 0.794 (p = 0.001). The increase the rate of mental health coverage all of primary healthcare are from 1.68% to 1.98% (p = 0,24). The increase the number of primary healthcare which achieve the SPM target ≥ 3%, are from 9.5% to 19% primary healthcare. The increase the rates of mental health coverage when interater by 43%. Mental health coverage tends to decrease after the second month in 76% of primary healthcare.
Kata Kunci : pelatihan – cakupan layanan – puskesmas