Laporkan Masalah

KAPASITAS MASYARAKAT DALAM MEREDUKSI RISIKO BANJIR ROB DI KAWASAN KEPESISIRAN KOTA SEMARANG

RIZKI KIRANA YUNIARTANTI, Dr.rer.nat Djati Mardiatno, S.Si, M.Si

2014 | Tesis | S2 Geografi

sebagai Kota Semarang kawasan kepesisiran dengan dampak perubahan iklim yang sangat urgensi. Peningkatan muka air laut di kawasan kepesisiran terus meningkat. Perilaku mitigasi sebagai respon terhadap dampak perubahan iklim yang juga diketahui sebagai bagian adaptasi dan ketahanan (resilience) perubahan iklim yang terjadi dalam beberapa periode (Lee, 2011). Penelitian ini bertujuan untuk 1. Merumuskan sensitivitas kerentanan sektoral di Kota Semarang yang dibedakan menjadi empat, yaitu sektor ekonomi, sosial, infrastruktur perkotaan, dan pemberdayaan masyarakat dan 2. Merumuskan perilaku mitigasi sebagai respon proteksi dan adaptasi melalui alternatif mereduksi risiko perubahan iklim dengan mempertimbangkan masa lalu, saat ini, dan masa depan. Metode analisis Penelitian ini menggunakan metode studi kuantitatif. yang digunakan dalam penelitian ini adalah skoring, deskriptif kualitatif, tabulasi silang, dan sistem informasi geografis. Metode skoring akan digunakan untuk menilai sensitivitas kerentanan yang mengidentifikasi sejauh mana kerentanan di kawasan kepesisiran. Deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis perilaku mitigasi yang telah dilakukan oleh masyarakat. Tabulasi silang digunakan untuk menganalisis preferensi mitigasi bencana masyarakat Kota Semarang. Sistem Informasi Geografis digunakan untuk menilai kesesuaian preferensi mitigasi masyarakat. Berdasarkan hasil analisis, Kota Semarang memiliki tiga tipologi sensititivitas kerentanan,yaitu Tinggi (1980-2010), Tinggi (1980-1990)-Rendah (2000-2010), dan Tinggi (1980-2000)-Rendah (2010). Perilaku mitigasi bencana di kawasan kepesisiran menggunakan strategi protektif dan akomodatif sebagai bentuk adaptasi. Pada tahun 1980 hingga 2000 bentuk mitigasi bencana lebih ke hard infrastructure, sedangkan pada tahun 2010 telah mengkombinasikan soft- hard infrastructure. Adaptasi bukan lagi sebagai bentuk mitigasi dengan batasan wilayah dan sektoral, tetapi membentuk ketahanan perkotaan (City Resilience) yang mengkerucut pada 3 aspek, yaitu alternatif livelihood, konektivitas pembangunan kepesisiran, dan bentuk mitigasi bencana.

Semarang city is coastal area that tidal flood as a result of climate change is inceasing. Tidal flood in Semarang City is also triggered by land subsidence in average 0-1 cm/year and 8-9 cm/year (ACCCRN, 2010).Measurement of vulnerability level is needed to determine the vulnerability degree. Vulnerability will be associated with disaster risk, hazard, and capacity. Disaster risk is an interaction between vulnerability level and hazard. Hazard is inclined nature process, while vulnerability level can be reduced by increasing of capacity. This research aims at assess vulnerability level that associated with hazard and risk. Vulnerability level is assessed in 5 periods, namely 1980, 1990, 2000, 2010, 2020. Vulnerability level based on the indicators that have been defined, namely economic, social-community empowerment, and urban infrastructure. To reduce tidal flood impact is reflected in adaptation and resilience that will be described in 5 periods. This research uses positivistic approach through real and apparent measure.The technique consist of scoring, qualitative descriptive, cross tab, and geographic information system. Output in this research are assess vulnerability level and adaptation in five periods. The result of these studies can be considered in structuring the adaptation and resilience. Adaptation and resilience are realized as process of selection alternative to reduce tidal flood risk in the future that pays attention to the changing of vulnerability, capacity, and hazard risk. Adaptation and resilience are also interpreted as transition of alternative choosing to reduce risk in certain time range.

Kata Kunci : Climate change, tidal flood, vulnerability level, adaptation, and resilience


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.