Laporkan Masalah

Strategi-strategi Komunitas Dokumenter Dalam Membangun Infrastruktur Perfilman Dokumenter Indonesia

ALVIAN MAHARDHIKA, Longgina Novadona Bayo, SIP, MA.

2014 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)

Film Dokumenter? Pertanyaan tersebut lebih ditujukan mengajak para pembaca sekalian untuk sejenak berimajinasi tentang frase tersebut. Apa yang ada di benak anda ketika membaca frase tersebut? Setiap hari kita, tanpa sadar, menonton film dokumenter. Saat kita menyalakan televisi dan menikmati acara semacam liputan berita, gosip, atau acara flora fauna, sebenarnya itu adalah salah satu jenis dokumenter. Saya pernah juga menanyakan pertanyaan tersebut kepada beberapa orang kawan dan mendapatkan jawaban yang bermacam-macam pula. “Film membosankan”, “film penyuluhan” adalah jawaban yang paling sering muncul. Penjawab tersebut tidak lah salah. Mereka hanya kurang memahami film dokumenter, karena memang kurang tersedianya akses untuk bisa lebih memahami film dokumenter. Selama ini yang lebih akrab dengan penonton adalah film dokumenter model penyuluhan dan propaganda, karena sebagai salah satu media audio-visual, film dokumenter memiliki efeksitivitas yang mengagumkan dalam mempengaruhi penontonnya. Sehingga media ini banyak digunakan sebagai alat propaganda suatu rezim, maupun alat gerakan sosial. Kekuatan film dokumenter terletak dari faktualitas adegan-adegannya. Bahkan predikat sebagai “film penyuluhan” dan “film membosankan” lahir dari faktualitas tersebut. Namun apakah media film dokumenter harus selamanya berkutat dengan stigma-stigma itu? Masalah stigmatisasi ini adalah akibat dari terlalu dominannya salah satu pendekatan yang digunakan dalam film dokumenter dalam waktu yang sangat lama. Dominasi salah satu pendekatan pada perfilman dokumenter Indonesia adalah media ini menjadi kehilangan salah satu aspek penting dalam sinema, yaitu keindahan. Banyak film dokumenter kita yang abai terhadap aspek ini karena terlalu fokus pada pesan yang ingin disampaikan. Perlu sebuah usaha keras agar film dokumenter bisa lepas dari stigma-stigmanya selama ini, dan perlu adanya infrastruktur untuk mewujudkan usaha-usaha tersebut. Infrastruktur di sini bukanlah berwujud gedung bioskop khusus film dokumenter atau proyek pengadaan alat-alat untuk memproduksi film lainnya, namun lebih merujuk kepada kemudahan akses bagi masyarakat luas agar lebih mudah menikmati dan mempelajari film dokumenter. Dari infrastruktur ini lah film dokumenter akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas, sehingga perlahan-lahan bisa mengikis stigma yang selama ini sudah melekat. Tulisan ini menyajikan usaha-usaha sekelompok orang yang menamakan diri mereka Komunitas Dokumenter dalam membangun infrastruktur perfilman dokumenter di Indonesia. Semoga bermanfaat.

-

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.