PEMAKNAAN MASKULINITAS (Kajian Sosiologis Tentang Pemaknaan Maskulinitas Laki-Laki Di Kota Surakarta)
AGUNG WIBOWO, Dr. Partini, SU.
2013 | Tesis | S2 SosiologiBudaya Jawa menyediakan pemahaman bagi laki-laki di Kota Surakarta tentang bagaimana bersikap dan harus menjadi seorang laki-laki. Laki-laki sebagai individu dalam menunjukkan identitas maskulinitasnya berupaya membangun citra diri berdasarkan ruang interaksi di mana dirinya berada. Penelitian ini akan menjelaskan pemaknaan maskulinitas laki-laki di Kota Surakarta sebagai bagian dari relasi gender dan kategori usia dari perspektif interaksionisme simbolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pemaknaan maskulinitas yang diwujudkan dalam simbol, sikap dan perilaku, (2) dimensi-dimensi yang mempengaruhi pemaknaan makulinitas, (3) perubahan pemaknaan maskulinitas laki-laki. Penelitian ini di desain sebagai penelitian kualitatif interpretatif, berdasarkan kasus tunggal pemaknaan maskulinitas oleh laki-laki di Kota Surakarta. Unit analisis dalam penelitian ini adalah laki-laki. Pemilihan informan berdasarkan sampel bertujuan dengan menggunakan strategi pengambilan sampel variasi maksimum. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dipandu oleh panduan wawancara dan observasi. Validasi data menggunakan trianggulasi sumber. Strategi analisis data dalam penelitian ini menggunakan verstehen untuk mengungkapkan makna dengan pendekatan logika induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan maskulinitas yang diwujudkan dalam simbol, sikap dan perilaku laki-laki di Kota Surakarta tidak tunggal, beragam dan bervariasi, dipengaruhi dimensi-dimensi internal maupun dimensi eksternal. Pemaknaan maskulinitas dalam perspektif interaksionisme simbolik sangat tergantung dengan subyek dan ruang interaksi yang sedang dihadapi. Maskulinitas hegemonik melalui konstruksi maskulinitas budaya Jawa, dipelihara oleh media dan negara dengan mengutamakan konstruksi patriarkhi. Perubahan pemaknaan maskulinitas karena adanya momentum peralihan perjalan kehidupan laki-laki, yaitu momentum memiliki pacar dan pernikahan. Laki-laki yang belum menikah, memposisikan diri sebagai individu bebas ketika menunjukkan maskulinitasnya, sedangkan laki-laki yang sudah menikah melekatkan citra dirinya dengan peran dan posisi laki-laki sebagai kepala rumah tangga ketika menunjukkan maskulinitasnya.
Javanese culture provides understanding to the men in Surakarta, how to behave and to be a man. Man, as an individual, in showing off his identity of masculinity attempts to build self-image based on interaction space in which he resides. This research explained the interpretation of hegemonic masculinities in Surakarta as the part of gender-to-age category relation from symbolic interactionism perspective. This study aimed (1) to find out the interpretation of masculinities manifested in man symbol, attitude, and behavior, (2) the dimensions affecting masculinity interpretation, (3) the transition of masculinity interpretation. This research was designed as a qualitative research, based on single case of masculinity interpretation by man in Surakarta. The analysis unit in this research was man. Technique of collecting data employed was in-depth interview with interview and observation guide. The data validation was done using source triangulation. The result of research showed that masculinity interpretation manifested in man symbol, attitude, and behavior in Surakarta was not singular. The dynamic of masculinity interpretation in symbolic interactionism perspective indicated the dominant subjectivity, meaning that masculinity interpretation was highly dependent on subject and interaction space he was encountering. Javanese culture affected the masculinity interpretation. Hegemonic masculinity was manifested through Javanese Culture’s masculinity construction maintained by media and state by emphasizing on patriarchic construction. Having girlfriend and marriage is the momentum of the man’s life journey transitioning affecting the masculinity interpretation. The notmarried man’s masculinity suggested that his masculinity was positioned as free individual, while the married one indicated the attachment of individual to the role and position of man as the head of household.
Kata Kunci : maskulinitas, pemaknaan, interaksionisme simbolik, budaya Jawa, transisi maskulinitas.