Laporkan Masalah

PERSIMPANGAN KELAS SOSIAL DAN GENDER DALAM POLIGAMI STUDI NOVEL AYAT-AYAT CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

sulkhan Chakim, Prof. Dr. Lasiyo, MA.,MM.

2013 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan Media

Judul: Persimpangan Kelas Sosial dan Gender dalam Poligami: Studi Novel Ayat- Ayat Cina Karya Habiburrahman El Shirazy. Latar belakang penelitian ini adalah fenomena poligami dan praktiknya dalam masyarakat Islam menjadi isu kontroversial. Karena dipraktikkan oleh berbagai kelompok masyarakat mulai dari kelas sisal rendah hingga atas, poligami muncul dengan berbagai latar belakang dan alasan yang berbeda. Pelaku-pelaku poligami beragam mulai dari orang-orang yang memiliki modal ekonomi dan modal sosial atas hingga para tokoh agama. Pada kenyataannya, poligami menjadi problem serius karena poligami mensubordinasikan perempuan dan sering dianggap sebagai praktik yang legal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi dan kontestasi persimpangan kelas sosial dan gender dalam praktik poligami dalam novel Ayat-Ayat Cinta dengan latar belakang kondisi sosiokultural dan politik masyarakat Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggambarkan representasi dan kontestasi persimpangan dalam kelas sosial dan gender dalam wacana poligami. Framework teoretis yang membangun sistem berpikir dalam disertasi ini adalah agency dan struktur sosial Pierre Bourdieu, teori interseksional Patricia Hill Collins, dan feminis muslim; sementara itu, teknik analisis menggunakan wacana kritis Nourman Fairclough. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) poligami terjadi sebagai cara untuk memecahkan masalah sosial dan keagamaan; 2) persimpangan kelas sosial dan relasi gender terjadi karena kondisi di mana laki-laki tersubordinasi oleh kemiskinan dan kelas sosialnya yang rendah. Sementara itu, dalam kepercayaan Islam, seorang lelaki dipandang sebagai pemimpin karena kelebihan materi yang dimilikinya. Sebaliknya, cerita dalam novel tersebut merepresentasikan kondisi di mana seorang perempuan yang kaya raya berada dalam posisi subordinat karena dia tidak memiliki pilihan lain kecuali poligami, dan karena keyakinan agamanya. Di sisi lain, seorang laki-laki berada dalam posisi tersubordinasi karena struktur hukum yang berlaku dan karena kondisi ekonominya yang lemah. Persimpangan ini mengakibatkan dua kontestasi. Pertama, kontestasi terjadi dalam kasus kesaksian perempuan di pengadilan. Kedua, kontestasi juga terjadi dalam pemaknaan konsep darurat yang meliputi kepentingan individu dan sosial. Isu poligami dalam Ayat-Ayat Cinta tidak lepas dari pengaruh wacana yang berkembang sebelumnya, seperti perubahan hukum keluarga dalam KHI-Inpres dan Counter Legal Draft (CLD)-KHI dan juga perdebatan berbagai ormas Islam di Indonesia. Kontestasi yang diperdebatkan dalam masyarakat meliputi (1) perkawinan beda agama, yang tidak lazim dalam tradisi hukum Islam, tetapi direpresentasikan dalam novel tersebut; (2) kesaksian perempuan merupakan kontroversi dalam hukum pidana Islam; (3) isu kepemimpinan laki-laki.

Title: The Intersection of Social Class and Gender in Polygamy: A Study on Habiburrahman El Shirazy’s Ayat-Ayat Cinta. The background of this study is the phenomenon of polygamy and its practices in Muslim community that become a controversial issue. Practiced by various groups ranging from upper to lower class of society, the polygamy occurs with diverse backgrounds and different arguments. The actors of polygamy vary from strong economic and social capital people as well as religious leaders. In fact, polygamy becomes a serious problem because it subordinates women and is often considered as a legal practice in Islam. This research was aimed at analyzing the representation and constellation of intersection of social classes and gender in the practice of polygamy as well as the interrelation of polygamy discourse in Ayat- Ayat Cinta with the background of socio-cultural and political condition of Indonesian community. This is a qualitative research describing the representation and struggle for intersection in social classes and gender in the practice of polygamy. Theoretical framework building the thinking system of this dissertation is Pierre Bourdieu’s agency and social structure, Patricia Hill Collin’s intersectional theory, and the Muslim feminism; analysis technique is Nourman Fairclough’s critical discourse. The research findings are as follows: 1) polygamy occurs as a way of solving various social and religious problems; 2) intersection of social class and gender relation occurs due to a condition in which a man is subordinated by his poverty and low social class. In Islamic belief, a man is viewed as a leader for his material advantages he has. In contrast, the story of the novel represents a condition in which a really wealthy woman is in her subordinate position because of the religious belief. Besides, a woman is in a subordinate position because she has no other choice except polygamy for her religious belief. On the other hand, a man is in subordinate position because of the existing law structure and his low economic condition. This intersection results in two contestations. First, contestation occurs in relation to being witness for a woman to win a legal case in the court. Second, contestation occurs in the interpretation of emergency that includes individual and social interests. Polygamy issue in Ayat-Ayat Cinta is not free from the influence of previous discourse such as the changes of family law in KHI-Instrution and Counter Legal Draft (CLD)-KHI as well as debates of various Islamic organization in Indonesia. Contestations of polygamy that are debatable in the society includes: (1) interfaith marriage found in the novel, which is not common in Islamic legal tradition; (2) the female witness issues, an unusual case in the context of Islamic law; (3) male leadership issues.

Kata Kunci : Persimpangan, kelas sosial, gender, dan poligami.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.