EFEKTIVITAS SUHU DAN LAMA PERENDAMAN BIBIT EMPAT KULTIVAR BAWANG MERAH (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) PADA PERTUMBUHAN DAN DAYA TANGGAPNYA TERHADAP PENYAKIT MOLER
ENI KAENI, Ir. Toekidjo, M.P.
2014 | Skripsi | PEMULIAAN TANAMANPenyakit utama pada budidaya bawang merah adalah penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae, sehingga diperlukan usaha pencegahan maupun pengendalian terhadap penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas suhu dan perlakuan perendaman bibit sebagai pretreatment. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2013, di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dalam penelitian ini digunakan metode percobaan yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diteliti yaitu empat kultivar bibit bawang („Tiron‟, „Crok‟, „Trisula‟, dan „Kuning‟) dan perlakuan perendaman masing-masing tiga kali ulangan (perendaman bibit dengan air steril sebagai kontrol tanpa dan dengan inokulasi Fusarium oxysporum f.sp. cepae pada tanah, air panas yang bersuhu 45 o C dan 50 o C dalam waktu 15 dan 30 menit, fungisida (1 ml/1 liter), dan pupuk hayati cair (10 ml/2 liter). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan perendaman terbaik berbeda-beda pada setiap kultivar. „Kuning‟ dan „Crok‟ dengan perlakuan air panas 50 o C selama 15 menit, „Trisula‟ dengan perendaman air panas 45 o C selama 15 menit. Kultivar „Tiron‟ memiliki ketahanan terhadap serangan penyakit moler. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang merah setelah diperlakukan perendaman yaitu normal, sehingga perlakuan-perlakuan dapat digunakan akan tetapi disesuaikan dengan kultivar yang akan ditanam.
Moler caused by Fusarium oxysporum f.sp. cepae, one of fungal diseases that infects bulb of shallot. The presence of this pathogen is highly destructed, so that to decrease the impact of moler disease it urgently required to preventing the spread and contamination of the disease especially on the planting fields. The aim was to find the best bulb soaking treatment .The research was conducted at the glass house of Agriculture Faculty, Gadjah Mada University, Yogyakarta, from February to June 2013. The research used dual factor arranged in Completely Randomized Design (CRD). The factors were (1) four cultivars are„Tiron‟, „Crok‟, „Trisula‟, and „Kuning‟ and (2) Soaking bulb treatment; positive control with Fusarium oxysporum f.sp. cepae innoculation on soil and negative control without Fusarium oxysporum f.sp. cepae innoculation on soil, bulb soaking in hot water at 45 o C and 50 o C, each for 15 and 30 minutes, fungicide (1 ml/1 litre) and diluted biofertilizer (10 ml/2 litre).The result revealed that the best soaking bulb treatment were different based on different cultivar. For the „Kuning‟ and „Crok‟ cultivars by treatment with 50°C hot water for 15 minutes, and for the „Trisula‟ cultivar by treatment with 45°C hot water for 15 minutes. „Tiron‟ has resistance to Moler disease. Growth and development of the shallot crop after soaking can be considered normal, so the treatments can be used to protect the crop from moler disease, but it‟s consider to the cultivar that planted.
Kata Kunci : bawang merah, Fusarium oxysporum f.sp. cepae, perendaman bibit, moler