DONGENG UNTUK MENINGKATKAN COPING KOGNITIF PADA SURVIVOR ANAK PASCA ERUPSI MERAPI
Silvia Eka Mariskha, Prof. Dr. Sofia Retnowati, MS. Psi.
2014 | Tesis | S2 Magister Profesi PsikologiWilcoxon Bencana alam merupakan stressor paling nyata yang menuntut individu bereaksi di luar batas kemampuannya, tak terkecuali anak-anak. Reaksi anak pasca bencana sangat dipengaruhi oleh reaksi orang disekitarnya, tahap perkembangan kognitif dan strategi copingyang dimiliki. Penggunaan coping maladaptif pasca bencana membuat anak rentan mengalami PTSD, karenanya diperlukan usaha membangun coping adaptif yang berfokus pada kognitif dengan metode yang dekat dengan keseharian anak, salah satunya melalui dongeng. Penelitian merupakan validasi modul mendongeng, didesain dalam bentuk quasi experiment, melibatkan 7 orang siswa SMP yang berusia 11-13 tahun. Reaksi pasca bencana diukur dengan skala Indeks Reaksi Pasca Pasca Bencana untuk Anak (IRPBA) sedangkan coping kognitif yang digunakan diukur dengan menggunakan skala coping kognitif. Efektivitas metode dan pengaruh intervensi dianalisa dengan menggunakan teknik non-parametrik, SignedRank. Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya perubahan skor pretest ke posttest baik pada pengukuran skala IRPBA (z=-1.612 ; p>0.05) maupun skala coping kognitif (z=-1.014 ; p>0.05). Hal ini bermakna bahwa tidak ada pengaruh dongeng dalam meningkatkan coping kognitif pada anak survivor merapi.
Natural disaster is the most obvious stressor that requires individuals to react beyond their limits, including the children. Post-disaster reactions of the children are strongly influenced by the reactions of people around them, the stage of cognitive development and their coping strategy. The use of post- disaster coping maladaptive makes children susceptible to PTSD, hence require efforts to build copingadaptive that focuses on the cognitive with method that close to the children life, one of them is story telling. The research was designed in the form of quasi experiment, involving 7 junior high students, aged 11-13 years. Post-disaster reaction was measured by Indeks Reaksi Pasca Bencana untuk Anak (IRPBA) scale, whereas the use of cognitive coping was measured by coping Kognitif scale. Effectiveness of intervention and the effect of the intervention were analyzed using non–parametric technique, Wilcoxon SignedRanks showed no different between pretest and posttest scores by using IRPBA scale ( z = -1.612 , p < 0.05 ) or coping cognitive scale ( z = -1.014 p < 0.05 ). This means that there is no influence of storytelling in improving coping cognitive of Merapi children survivor.
Kata Kunci : PTSD, coping kognitif, quasi experiment, erupsi Merapi, Dongeng