Laporkan Masalah

KOMODIFIKASI DALAM ASPEK PRODUKSI PESAN PERGELARAN WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA ANALISIS WACANA KRITIS PAKELIRAN GARAP SEMALAM LAKON “MAKUTHARAMA” SAJIAN KI PURBO ASMORO

RUDY WIRATAMA, Drs. Widodo Agus Setianto, M.Si.

2013 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Wayang kulit purwa adalah seni pertunjukan yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Sebagai sebuah bentuk media komunikasi tradisional, pertunjukan wayang memiliki dua sisi yang ditampakkan kepada masyarakat, yakni sisi spiritual yang berbicara tentang moralitas dan etika, serta sisi profan yang memuat lebih banyak unsur hiburan ragawi. Seiring dengan dinamika masyarakat yang berjalan pesat, nilai-nilai dan tatanan yang berubah menuntut pertunjukan wayang kulit purwa untuk bergerak menyesuaikan diri dengan keadaan zaman. Solusi untuk mencapai kesebangunan ini dapat dicapai, salah satunya dengan cara komodifikasi pesan. Komodifikasi dalam pertunjukan wayang kulit purwa dilakukan oleh dalang sebagai produsen utama pesan, yang secara implisit mengemban dua tanggung jawab, yakni sebagai pengatur lalulintas pesan dalam semesta simbolik wayang yang berubah menjadi komoditas kebudayaan, juga mempertahankan jatidirinya sebagai seorang komunikator yang menyampaikan nilai-nilai spiritual dalam pertunjukan. Konsekuensi logis dari komodifikasi yang berupa keputusan untuk berkompromi, mengikuti arus atau mempertahankan bangunan nilai yang telah lama dianut ini nampak salah satunya dalam rekaman audiovisual lakon Makutharama oleh Ki Purbo Asmoro, yang dijadikan materi Paket Pendidikan Wayang oleh Yayasan LONTAR pada tahun 2013. Dalam penelitian ini, akan dibahas tentang bagaimana dalang sebagai produsen pesan bertindak menghadapi dan bahkan menjadi bagian dari komodifikasi pesan itu sendiri, sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan pertunjukan dengan sukses bagi audiensnya.

Wayang kulit purwa is a kind of performing arts which has deeply rooted in the life of Javanese society. As a mean of traditional communication media, wayang show has two sides which appeared in community: the spiritual side which deals with morality and ethics, and also the profane one which contains more entertainment. Along with the rapid dynamics of society, the immediately changed values and norms demanded wayang kulit show to adapt itself with the contemporary condition. One of a solution to reach the conformity between the two is message commodification. Commodification in wayang performances was done by a dalang as a main message producer, who has responsibilities in regulating the messages in wayang’s symbolic universe which has changed into a cultural commodification, and also maintained his former role as a communicator who transmits the spiritual values in the performance. The logical consequence of commodifications i.e. the decision of compromizing, maintaining or changing values which occured inside the puppet performance, including the performance of Makutharama by Ki Purbo Asmoro, which audiovisual record used by LONTAR Foundation in 2013 as a material for Wayang Educational Package. In this research, we will talk about how the dalang as message producer acts facing the commodification, or even become the part of the commodification itself, as an effort to keep the performance successful to the audience.

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.