Laporkan Masalah

POLA ARUS, TRANSMISI GELOMBANG, PILING-UP DAN PROFIL STABIL PANTAI DI BELAKANG PEMECAH GELOMBANG AMBANG RENDAH BERCELAH IMPERMEABLE

IBNU DARMAWAN, Prof. Ir. Radianta Triatmadja, Ph. D.

2013 | Skripsi | TEKNIK SIPIL

Permasalahan erosi pantai telah mendapatkan perhatian luas dan serius dari pemerintah maupun masyarakat, karena dampak kerugian yang ditimbulkan berakibat langsung bagi kehidupan masyarakat. Pemecah gelombang ambang rendah (PEGAR) tipe geotextile tube (geotube) merupakan alternatif bangunan pelindung pantai berpasir terhadap erosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi lebar celah antar segmen terhadap karakteristik gelombang (transmisi dan piling-up), rip-current, pola pergerakan sedimen dan profil pantai stabil pada area terlindung di belakang pemecah gelombang ambang rendah (PEGAR). Penelitian dilakukan dengan model fisik di laboratorium Hidraulika Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada. Uji model fisik (PEGAR) dilakukan dengan variasi lebar celah 25 cm, 50 cm, dan 125 cm. sedangkan parameter lainnya (Rc/hs = 0, Ho = 8,9 cm dan To = 1,4 detik). Karakteristik sedimen berasal dari pasir Pantai Krakal dengan (d50 = 0,8 mm) dan Gs = 2650 kg/m 3 , model ditempatkan pada kolam gelombang berukuran 9 m x 7 m dengan kemiringan pasir di belakang struktur pada surfzone adalah 1 : 5,88 dan dikenai gelombang reguler kostan sampai profil pantai pasir di belakang struktur mendekati stabil. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan Surfer 9. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh variasi lebar celah yang semakin besar pada pemecah gelombang ambang rendah adalah: gelombang transmisi semakin besar, piling-up semakin kecil, perbedaan antara hasil analisis dengan pengukuran rip-current semakin besar dan koefisien debit (Cv) semakin kecil, area pergerakan sedimen di belakang celah semakin besar, slope pantai pada surfzone semakin landai, profil erosi di belakang struktur maupun celah semakin besar. Lebar celah maksimum agar struktur bawah air (PEGAR) masih berfungsi sebagai penahan sedimen adalah pada saat nilai parameter non-dimensi Lo/Lg ≥ 23,577 dan Lg/Lb ≤0,44.

The problem of coastal erosion has gained widespread and serious attention from government and society, as a direct result their impact cause losses both material and casualties. Submerged breakwater of geotextile tube (geotube) type is an alternative to coastal protection structure against erosion. This research aims to determine the effect of gap width variation to the waves characteristic (transmission and piling-up), rip-current, sedimen transport pattern and stable shore profile behind submerged breakwater. The Research carried out with physical model in the Hydraulics laboratory of Civil and Environmental Engineering, UGM. Physical model of submerged breakwater was conducted with variations of gap 25 cm, 50 cm and 125 cm. while the other parameter (Rc / hs = 0), Ho = 8,9 cm, To = 1,4 sec sediment variety are Krakal Beach (D50 = 0,8 mm), Gs = 2650 kg/m 3 . The model wave basin with dimension 9 m x 7 m, the initial slope of sand behind structure at surfzone is 1 : 5,88 and constant regular wave deploy until sand profile behind structure approaching stable condition. Data analysis use software Microsoft Excel and Surfer 9. Results of the research showed that the effect of increasing gap width between segmen geotube: wave transmission has increased, piling-up has decreased, deviate value between rip-current analysis and measured rip-current has increased however head loss coefficient (Cv) has decreased, the area of sand movement behind structure has increasingly widespread, beach slope on the surfzone has decreased, errosion profile behind the structure and the gap have increased. Maximum gap width when submerged breakwater has the function to maintain acretion at Lo/Lg ≥ 23,577 and Lg/Lb ≤ 0,44.

Kata Kunci : pemecah gelombang ambang rendah, geotextile tube, profil pantai


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.