Laporkan Masalah

PENGARUH PEMBERIAN GARAM EPSOM TERHADAP HASIL DAN KUALITAS BENIH EMPAT KULTIVAR WIJEN (Sesamum indicum L.) DI LAHAN PASIR PANTAI

DANIK RAHMAWATI, Dr. Ir. Taryono, M.Sc.

2014 | Skripsi | PEMULIAAN TANAMAN

Luas areal pertanaman wijen di Indonesia mengalami penurunan karena digunakan untuk budidaya tanaman pangan. Keberadaan lahan pasir pantai yang belum termanfaatkan secara optimal dapat menjadi alternatif areal budidaya wijen. Salah satu kekurangan lahan pasir pantai adalah ketersediaan sulfur dan magnesium sangat rendah, padahal unsur tersebut sangat penting bagi tanaman penghasil minyak dari biji. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian garam epsom terhadap hasil dan kualitas benih wijen. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai Samas Bantul, Yogyakarta menggunakan rancangan petak terbagi dengan 4 blok sebagai ulangan. Perlakuan petak utama adalah takaran garam epsom terdiri dari 0 (kontrol); 76,92; 153,85; dan 230,77 kg/ha. Perlakuan anak petak adalah kultivar wijen yaitu Sumberrejo1, 2, 3, dan 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh garam epsom tergantung kultivar wijen. Penambahan pupuk garam epsom pada kultivar Sumberrejo-1 dapat meningkatkan gaya berkecambah, gaya berkecambah setelah benih diperlakukan dengan metanol, dan indeks vigor. Pada Sumberrejo-2 meningkatkan jumlah polong, volume akar, berat basah dan kering brangkasan, gaya berkecambah, gaya berkecambah setelah benih diperlakukan dengan metanol, dan indeks vigor. Penggunaan garam epsom dapat meningkatkan tinggi tanaman 14 MST, umur panen, jumlah cabang, jumlah polong, daya hasil, dan gaya berkecambah pada kultivar Sumberrejo-3; sedangkan pada Sumberrejo-4 hanya meningkatkan berat kering akar. Pengaruh garam epsom pada kultivar Sumberrejo-3 mengikuti pola kuadratik dengan penambahan 139 dan 140 kg/ha garam epsom mampu menghasilkan jumlah cabang dan polong yang optimal, sedangkan penambahan 148,5 kg/ha garam epsom pada kultivar Sumberrejo-1 mampu menghasilkan benih dengan indeks vigor optimal.

The area of sesame cultivation in Indonesia has declined due to land use change to food crop cultivation. The existence of coastal area which is not yet optimal used can be an alternative as sesame cultivation area. The weakness of sandy coastal area is the availability of sulfur and magnesium, however these elements are very important to oil seed crop. This study aims to determine the effect of sulfur and magnesium application as epsom salt fertilizer on the yield and seed quality of sesame. This research was done in coastal area of Samas, Bantul, Yogyakarta and arranged according to split plot design with four blocks as replications. The main plot were epsom salt dosages i.e. 0 (control); 76,92; 153,85; and 230,77 kg/ha, while the sub plot were sesame cultivars i.e. Sumberrejo-1, 2, 3, and 4. The results showed that influence of epsom salt application is visible among sesame cultivars. The application of epsom salt fertilizer on Sumberrejo1 can increase the percentage of seed germination, percentage of seed germination after methanol treatment, and vigor. Under Sumberrejo-2, it can increase the number of pods, root volume, fresh and dry plant weight, percentage of seed germination, percentage of seed germination after methanol treatment, and vigor. The epsom salt application can increase plant height 14 WAP, number of branches, harvest time, number of pods, seed yield, and percentage of seed germination of Sumberrejo-3; while under Sumberrejo-4 it only increases the dry root weight. The influence of epsom salt on Sumberrejo-3 cultivar follows quadratic model with 139 and 140 kg/ha epsom salt is capable of producing optimum number of branch and pods. Application of 148,5 kg/ha epsom salt on Sumberrejo-1 cultivar is able to produce an optimum seed vigor.

Kata Kunci : garam epsom, kualitas benih, wijen


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.