Laporkan Masalah

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP BISNIS WARALABA MINIMARKET DI DUSUN PRAYAN KULON, SOROPADAN, SLEMAN

ERIZA FEBRIANSYAH, Dr. Rini Rachmawati, S.Si., M.T.

2014 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH

Pembangunan minimarket waralaba di Dusun prayan kulon, soropadan, sleman menimbulkan beragam persepsi dari masyarakat yang bermukim di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk: Mendeskripsikan keragaman persepsi masyarakat terhadap bisnis waralaba minimarket. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang memfokuskan pada analisis keragaman persepsi masyarakat terhadap bisnis waralaba minimarket melalui survey lapangan yang dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif yaitu observasi, wawancara secara mendalam (indepth interview) dan penelaahan dokumen untuk mendapatkan informasi di lapangan. Dari hasil kajian, diperoleh berbagai informasi yang berasal dari narasumber di lapangan. Terdapat penolakan dari warga terhadap pembangunan bisnis waralaba minimarket di wilayah tersebut. Penolakan itu disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: (1) Komunikasi dan Sosialisasi yang kurang baik, (2) Masalah Perizinan, (3) Kekhawatiran terjadi persaingan usaha yang tidak seimbang terhadap warung tradisional. Mengenai hal itu, masyarakat berupaya untuk menghentikan rencana pembangunan minimarket waralaba dengan berbagai upaya,yaitu: (1) Pendekatan persuasif, (2)Aksi Demonstrasi, (3)Membuat peraturan baru, (4)Sanksi Sosial. Seiring dengan pembangunan minimarket tersebut, ternyata eksistensi warung atau toko tradisional masih berjalan dengan baik karena sudah memiliki pelanggan yang setia. Disamping aksi penolakan itu, masih ada warga yang tidak khawatir dengan keberadaan minimarket di wilayahnya. Perlu adanya sinergi dari berbagai stakeholder seperti pemerintah daerah, perusahaan minimarket, dinas terkait, dan masyarakat agar tercipta situasi yang saling menguntungkan. Perusahaan minimarket sebaiknya menyertakan partisipasi masyarakat dalam hal pemberdayaan sumberdaya manusianya.

The growth of franchised minimarkets in the village of Prayan Kulon, Soropadan, Sleman, generates a variety of perception from many people residing in the area. The purpose of this research is to describe the variety of popular perceptions on franchised minimarket business. This research using qualitative approaches which is focused on the analysis of popular perceptions on franchised minimarkets. The research was conducted through field survey using qualitative descriptive analysis methods, including observation, in-depth interview, and document assessment, in order to obtain information on the field. The study summarized, much information can be taken from respondents in the field. Many villagers are not pleasant with the spread of franchised minimarkets in the area. Their resentment is caused by: (1) poor communication and understandings, (2) licensing problems, (3) widespread concern of unhealthy competition with traditional warungs. To address those issues, local villagers try to halt construction projects for future minimarkets by: (1) persuasive approach, (2) street protests, (3) new laws creation, (4) social sanctions. Although the growth is high, the presence of minimarket doesn’t affect pre-established warungs (traditional store) because the latter already have loyal customers. Aside from popular resentment, some villagers don’t care much with the presence of minimarket in the area. It needs cooperation between the stakeholders, including local government, minimarket franchisors, government institutions, and people in order to create mutual relationship. Minimarket franchisors should include local villagers in their business.

Kata Kunci : Persepsi, Masyarakat, Bisnis Waralaba Minimarket.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.