Laporkan Masalah

ANALISIS PENERAPAN MULTIDAUR DALAM PENGATURAN HASIL HUTAN TANAMAN JATI DI KPH RANDUBLATUNG, PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH

DESI INESSARI, Rohman, S.Hut., M.P.

2014 | Skripsi | MANAJEMEN HUTAN

Hutan tanaman jati yang dikelola Perum Perhutani dengan daur 60 tahun memiliki resiko kerusakan hutan untuk mencapai umur siap tebang. Keadaan ini dapat mempengaruhi potensi tegakan dan nilai tegakan. Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan multidaur dalam pengaturan hasil hutan dengan mempertimbangkan faktor resiko kerusakan. Penelitian ini dilaksanakan di BH (Bagian Hutan) Banyuurip dan bagian BH Randublatung yang masing-masing mengindikasikan kerusakan ringan dan berat. Faktor resiko kerusakan didekati dari data series 5 jangka terakhir. Skenario multidaur didasarkan pada casualty per cent dan tingkat gangguan kerusakan. Nilai tegakan multidaur dihitung untuk tiap sortimen dan kayu bakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiko kerusakan (casualty per cent) KU I untuk mencapai umur siap tebang sebesar 54,4% atau rata-rata 1,2% tiap tahun di BH Banyuurip dan 72,3% atau 1,9% tiap tahun di BH Randublatung. Rancangan multidaur di BH Banyuurip berkisar antara 26-91 tahun dan BH Randublatung berkisar antara 25-67 tahun. Nilai tegakan multidaur lebih tinggi dibanding dengan metode yang diterapkan di Perum Perhutani dengan nilai tegakan kayu pertukangan Rp 1.405.799.481.669,00 dan Rp 862.836.894,00 kayu bakar di BH Banyuurip, sedangkan BH Randublatung sebesar Rp 670.328.817.694,00 total kayu pertukangan dan Rp 586.090.799,00 kayu bakar.

Teak plantation forest with rotation of the 60 years has a risk of damage to reach the age of harvest ready. This condition can affect the stumpage potential and value. The aim of this study was to assess the implementation of the multirotation in yield regulation consedering the risk of damage factor. in This research was conducted in BH Banyuurip and BH Randublatung each indicating light and heavy damage. Damage risk factors were approached from the latest 5 term data series. Multirotation scenario was based on the casualty per cent, the degree of interference damage. The multirotation stand value was counted for every sortimen and firewood. The result of this research showed that the risk of damage (casualty per cent) of KU I to reach the age of harvest ready was 54.4%, or 1.2% in average per year in BH Banyuurip and 72.3% or 1.9% year in BH Randublatung. The planning of multirotation in BH Banyuurip was between 26-91 years and 25-67 years in BH Randublatung. The multirotation stumpage value was higher than the methods applied in Perum Perhutani with timber stumpage value of Rp 1,405,799,481,669.00 and Rp 862,836,894.00 of firewood in BH Banyuurip, while in BH Randublatung Rp 670,328,817,694.00 of total construction timber and firewood of Rp 586,090,799.00.

Kata Kunci : Instruksi 1974, casualty per cent, multidaur, nilai tegakan.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.