SIFAT-SIFAT TEKNIS CAMPURAN LAPIS ASPAL BETON (LASTON) DAN BIO ASPAL UNTUK KATEGORI LALULINTAS MENENGAH DENGAN PENGUJIAN MARSHALL IMMERSION
MOHAMMAD NUR FAUZY, Ir. Heru Budi Utomo, MT.
2014 | Tugas Akhir | D3 TEKNIK SIPILSalah satu unsur pembentuk perkerasan jalan ialah aspal. Aspal di Indonesia biasa menggunakan aspal PT Pertamina yang dihasilkan dari minyak mentah melalui proses destilasi minyak bumi. Perkerasan jalan yang semakin lama semakin berkembang pesat, menimbulkan pemikiran untuk mengurangi penggunaan aspal PT Pertamina dengan alternatif pengunaan bio aspal. Bio aspal dihasilkan dari proses destilasi asap cair. Asap cair sendiri berasal dari pirolisis cangkang kelapa sawit. Sampel pencampuran aspal dimulai dari pencampuran 1% bio aspal dengan 99% aspal PT Pertamina hingga mencapai 10% kandungan bio aspal dengan interval tiap 1%. Aspal yang telah dicampurkan kemudian dilakukan tahap pengujian yaitu uji penetrasi, berat jenis, titik lembek dan daktilitas. Pengujian-pengujian tersebut bertujuan untuk mendapatkan aspal yang memenuhi batasan minimal dari beberapa pengujian tersebut dan didapat angka 1% bio aspal yang memenuhi persyaratan. Untuk mengetahui berapa persen aspal yang dibutuhkan pada pengujian marshall immersion digunakan pengujian marshall untuk mencari kadar aspal optimum (KAO). Pengujian ini dibuat variasi kadar aspal mulai dari 4% - 7% dengan interval tiap 0,5 % dan didapat kadar aspal sebesar 7% dengan melihat nilai VIM, VFA, stabilitas, flow dan marshall quotient (MQ) yang memenuhi syarat tetapi mengabaikan nilai VMA karena tidak ada yang memenuhi syarat. Pengujian marshall immersion sebagai pengujian untuk mendapatkan nilai indeks ketahanan sisa (IKS) diperoleh dari nilai kadar aspal optimum (KAO) sebagai nilai yang menyatakan presentase aspal yang terkandung di dalam benda uji dan aspalnya merupakan aspal campuran dengan presentase bio aspal 1% dan aspal PT Pertamina 99%. Penumbukan yang dilakukan sejumlah 50 kali karena merupakan karakteristik lalulintas menengah. Hasil yang diperoleh menyatakan nilai indeks ketahanan sisa (IKS) sebesar 60,4% dari yang disyaratkan minimal ≥75% sehingga diperlukan pengujian lanjutan.
One of the elements forming the pavement is asphalt. Asphalt in Indonesia usually use PT Pertamina’s asphalt who produced from crude oil through distillation process. Pavement increasingly growing rapidly, cause thought to reduce the use of asphalt PT Pertamina with the use of alternative bio-asphalt. Bio-asphalt produced from the distillation of liquid smoke. Liquid smoke is derived from the pyrolysis of oil palm shell. Asphalt mixing samples starting from 1% bio-asphalt mixing with asphalt PT Pertamina 99% up to 10% bio content of asphalt with each 1% interval. Asphalt that has been mixed phase testing is then performed penetration tests, density, melting point and ductility. The tests aim to get asphalt that meets the minimum limits of some of these tests and obtained the 1% bio-asphalt that meets the requirements. To find out what percentage of asphalt required on testing marshall immersion is used to find the optimum asphalt content. This test is made of asphalt content variation ranging from 4% - 7% with each interval and gained 0.5% bitumen content of 7% by looking at the value of VIM, VFA, stability, flow and marshall quotient (MQ) are eligible but ignores the value of VMA because there is no qualified. Testing marshall immersion as a test to obtain the value of residual resistance index is obtained from the value of the optimum asphalt content is expressed as a percentage of the value of bitumen contained in the test specimen and the asphalt is asphalt mixture with 1% percentage of bio-asphalt and asphalt PT Pertamina 99%. Pulverization carried 50 times for a number of traffic characteristics of the medium. The results stated residual value of resistance index (IKS) for 60.4% of the required minimum of ≥ 75% that required further testing.
Kata Kunci : Marshall Immersion, KAO, bio aspal, destilasi, pirolisis dan cangkang kelapa sawit