KEMAMPUAN REGENERASI KALUS EMPAT KLON TEBU (Saccharum officinarum L.)
RIZA LUTHFIAH, Dr. Ir. Taryono, M.Sc.
2014 | Skripsi | PEMULIAAN TANAMANTebu merupakan salah satu komoditas penting pertanian karena memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai bahan baku industri gula. Salah satu masalah yang dihadapi adalah pengadaan bibit tebu skala besar karena ketersediaan lahan sebagai kebun bibit tebu yang semakin terbatas. Budidaya jaringan tanaman menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Budidaya kalus dan regenerasi tanaman merupakan faktor pendukung dalam budidaya jaringan tanaman, namun terdapat permasalahan dalam penyimpanan kalus jangka panjang yaitu penurunan kemampuan regenerasi kalus setelah mengalami pindah tanam (subculture). Penelitian ini menggunakan dua tahap penelitian yaitu tahap (1) induksi kalus dengan Rancangan Acak Lengkap satu faktor yaitu klon tebu, dan (2) tahap regenerasi tunas dengan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor perlakuan 5 ulangan. Faktor pertama yaitu 4 klon tebu (PS 862, PS 864, PS 881, VMC 86-550) dan faktor kedua yaitu frekuensi pindah tanam pada minggu ketiga, keenam, kesembilan, dan keduabelas. Eksplan yang digunakan adalah pucuk tebu yang berumur (3 – 4) bulan. Media yang digunakan pada tahap induksi kalus dan pindah tanam kalus adalah media MS + 1,5 mg/l 2,4-D, sedangkan regenerasi tunas dengan media MS + 2,0 mg/l IAA + 2,0 mg/l IBA + 2,0 mg/l kinetin. Pengamatan yang dilakukan pada tahap induksi kalus adalah kecepatan muncul kalus dan pada tahap regenerasi tunas adalah kecepatan tumbuh tunas dan jumlah tunas terbentuk. Analisis data secara statistik menggunakan uji ANOVA menunjukkan terdapat beda nyata pada perlakuan klon tebu untuk kecepatan muncul kalus. Kalus klon PS 862 memiliki kemampuan membentuk kalus paling cepat dan pada tahap regenerasi tunas, kalus klon PS 862 juga memiliki kemampuan membentuk tunas paling cepat serta jumlah tunas yang paling banyak. Terdapat interaksi antara klon dan frekuensi pindah tanam pada variabel waktu tumbuh tunas dan jumlah tunas berdasarkan analisis variannya.
Sugarcane is one of the important agricultural commodity that has high economic value as raw material for sugar industry. One of the obstacle is large scale seed availability due to the limitation of planting material’s area. Plant tissue culture is an alternative to overcome the problems. Callus culture and shoot regeneration are a contributing factor in plant tissue culture, but there is a problem in the long-term maintenance of callus which is the decreasing callus regeneration potential. This research used two stages, (1) callus induction with single factor experiment arranged in Completely Randomized Design, and (2) shoot regeneration using 2 factors experiment in Completely Randomized Design and 5 replications. The first factor is sugarcane clones (PS 862, PS 864, PS 881, and VMC 86-550), and the second factor is subculture frequencies which is transferred in every three weeks i.e. third, sixth, ninth, and twelfth week. The explant source used is an immature leaves roll sugarcane (3 – 4 month). Callus induction and subculture used MS medium + 1.5 mg/l 2,4-D, whereas shoot regeneration used MS medium + 2.0 mg/l IAA + 2.0 mg/l IBA + 2.0 mg/l kinetin. Observed variables includes callus emerge, shoots regeneration rate and number of shoot. Statistical analysis using ANOVA showed significant difference in the rate of callus induction. PS 862 clones has the fastest callus emerge, shoots growth, and the largest number of shoots. Interaction between clones and subculture frequency occurs in time and number of shoots.
Kata Kunci : tebu, kalus, pindah tanam, regenerasi.