Laporkan Masalah

TATA KELOLA SUPPLIER RELATIONS PT MADUBARU (PG-PS MADUKISMO) (UPAYA PG MADUKISMO DALAM MEMBANGUN DUKUNGAN PETANI TEBU PASCA PROGRAM SWASEMBADA GULA NASIONAL)

YUNGKI KANTIANA T, Drs. I Gusti Ngurah Putra, M.A.

2013 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Posisi pemasok sangat vital bagi keberlangsungan sebuah perusahaan. Pemasok juga merupakan salah satu mata rantai yang kritis bagi keuntungan perusahaan. Karena itu, kesadaran akan perlunya integrasi antara perusahaan dengan pemasok pun menjadi semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan terjadinya pergeseran paradigma akan hubungan pemasok itu sendiri. Hubungan pemasok yang dulu lebih dilihat sebagai sebuah hubungan transaksional sekarang sudah mulai bergeser ke arah yang lebih relasional, yang menekankan pada pentingnya pembangunan hubungan jangka panjang, koordinasi, dan komunikasi. Di titik inilah hubungan masyarakat dapat mengambil perannya sebagai fungsi manajemen. Gula merupakan bahan pangan pokok yang erat kaitannya dengan ketahanan pangan negara. Akan tetapi, Indonesia yang dulu merupakan eksportir gula terbesar kedua di dunia saat ini justru beralih menjadi importir gula. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri, pemerintah menjalankan Program Swasembada Gula Nasional yang ditargetkan terpenuhi pada tahun 2014. PT Madubaru (PG-PS Madukismo) merupakan satusatunya pabrik gula di Provinsi DIY yang mengemban tugas untuk menyukseskan program pengadaan pangan Nasional, khususnya gula pasir. Karena itu, pabrik gula ini berperan penting dalam pelaksanaan Program Swasembada Gula Nasional di wilayah ini. Pada pelaksanaannya, program pemerintah ini menemui berbagai kendala, terutama pada kurangnya jumlah pasokan tebu sebagai bahan baku gula. Dengan mayoritas pabrik gula di Indonesia yang terkonsentrasi di wilayah pulau Jawa, kendala yang dihadapi relatif sama. Animo masyarakat untuk menanam tebu sendiri termasuk rendah. Tebu seringkali kalah dengan budidaya tanaman lain dan ada persepsi negatif yang telah terbangun seputar budidaya tebu. Persepsi ini tidak dapat dilepaskan dari andil program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) dari pemerintah Orde Baru, yang akhirnya justru menjadi mekanisme untuk menekan petani. Meskipun TRI telah dihapus melalui Inpres No. 5 Tahun 1997 Jo Inpres No. 5 Tahun 1998 dan otonomi petani dijamin melalui Undang-undang budidaya (UU 12/1992), persepsi negatif petani akan budidaya tebu terlanjur melekat. Sedangkan, PG Madukismo dan mayoritas PG di Jawa bergantung sepenuhnya pada pasokan tebu dari petani. Karena itu, kesediaan dan kepercayaan petani menjadi sangat penting bagi keberlangsungan PG Madukismo. Maka, agar Program Swasembada Gula dapat berjalan, pembangunan hubungan dan dukungan pemasok pun mutlak diperlukan. Penelitian ini sendiri bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah supplier relations dijalankan oleh PG Madukismo paska Program Swasembada Gula dan strategi kehumasan apa saja yang digunakan dalam upaya membangun dukungan pemasoknya, yaitu petani tebu. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Dari penelitian yang dilakukan, supplier relations di PG Madukismo dijalankan oleh Bagian Tanaman dan menjadi salah satu prioritas perusahaan. Pembangunan hubungan dengan petani ini merupakan tugas dari Kepala Rayon di wilayah masing-masing dan jajaran di bawahnya, yaitu, Sinder Kebun Wilayah (SKW), Kemetir, dan Mandor, dengan bentuk hubungan berupa kemitraan (partnership). Di sini, PG Madukismo juga bekerjasama dengan kolaborator, yaitu APTRI, KPTRI dan Pemerintah Daerah. Meskipun PG Madukismo tidak memiliki divisi Humas tersendiri, namun, kegiatan hubungan masyarakat tetap dijalankan dan terintegrasi kedalam kegiatan organisasional yang lain. Komunikasi dengan petani sendiri dilakukan dengan pendekatan personal dan tatap muka. Hal ini disesuaikan dengan kapasitas sumberdaya perusahaan dan karakteristik dari petani tebu.

The supplier position is vital for a company's going concern. Supplier is also one of the critical chains of corporate profitability. Therefore, the awareness of the importance for the integration beetwen the company and suppliers are increasing. This leads paradigm shifting on the supplier relations itself. Supplier relation that used to be viewed as a transactional relations right now shift to a more relational one, which underlining the importance of long term relationship, coordination and communication. In this point, public relations could take its roles as a management functions. In most parts of the world, sugar is an important part of the human diet and closely related to the national food endurance. Indonesia, however, was once the second largest sugar exporter in the world, today it turned into a sugar importer. Therefore, to meet the domestic sugar needs, the government run National Sugar Self-Sufficiency Program that being targeted to be fulfilled in 2014. PT Madubaru (PG-PS Madukismo) is the only sugar factory in the province of Yogyakarta that is given the task of succeeding the national food self-suficient programs, especially sugar. Therefore, this company has important role in Sugar Self-Sufficiency Program in that area. In practice, this government programs have varieties constraints, especially in the shortage of supply of sugarcane as raw material in the sugar production. With the majority of sugar mills in Indonesia that concentrated in the region of the Java Island, the constraints that are faced relatively the same. Public interest to plant sugarcane is low. Sugarcane cultivation is often unable to compete with the others and there is a negative perception that has been built around the cultivation of sugarcane. This perception can’t be separated from the contribution of the Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) programs of the New Order regime, which eventually became a mechanism to force farmers. Although TRI has been removed through Presidential Decree No. 5 in 1997 Jo Presidential Decree No. 5 in 1998 and the autonomy of farmers is guaranteed through cultivation Act (Act 12/1992), the farmer’s negative perception of the cultivation of sugarcanes have already attached. Meanwhile, PG Madukismo and another sugar fabric in Java entirely rely on sugarcane farmer supply. Because of this, farmer’s willingness and trust is very important for the sustainability of Madukismo fabric. This study aims to determine how supplier relations is run by Madukismo fabric post National Sugar Self-Sufficiency Program and how public relation strategies are used in the effort to build its supplier supports. This research uses case study methods. From the research, supplier relations in PG Madukismo is run by Bagian Tanaman (Departement of plantation) and become one of the company priorities. The Company relationship with farmers is developed by Kepala Rayon in each area and their subordinates, which is Sinder Kebun Wilayah (SKW), Kemetir, and Mandor. Madukismo fabric is also working with collaborators like APTRI, KPTRI and Local Goverment. Although PG Madukismo doesn’t have any PR division, public relation activities are still exist and integrated into its other organizational activities. The communication-approaches with farmers are personal and face-to-face. This is adjusted to the company resources capacity and the character of sugarcane farmers itself.

Kata Kunci : Supplier Relationship Management, PT Madubaru (PG-PS Madukismo), Partnership, Swasembada Gula.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.