Laporkan Masalah

MAKNA PUISI “Al-HIRSU LU’MUN WA MIṠ|LUHU AT-TAMA’U” DALAM DῙWᾹN ABῙ AL-‘ATᾹHIYYAH SUNTINGAN MAJῙD TARᾹD: ANALISIS SEMIOTIK RIFFATERRE

MUHAMMAD LAUDZAI W., Dra. Hindun, M.Hum.

2014 | Skripsi | SASTRA ARAB

Skripsi ini meneliti makna puisi “al-H}irs}u Lu’mun wa Mis\luhu at}- T{ama’u” karya Abu al-‘Ata>hiyyah yang merupakan salah satu penyair terkenal pada masa Abbasiyyah. Untuk mengetahui makna puisi tersebut, penelitian ini menggunakan teori dan metode semiotik yang dikemukakan oleh Riffaterre. Semiotik merupakan model penelitian dengan memperhatikan tanda-tanda yang tanda-tanda tersebut dapat ditemukan lewat bahasa yang digunakan dalam karya sastra. Setelah dilakukan analisis, puisi “al-H}irs}u Lu’mun wa Mis\luhu at}- T{ama’u” merupakan puisi yang berisi nasihat kepada manusia untuk memiliki sifat wara’, qana’ah dan sabar dalam kehidupanya. Pemilik sifat-sifat itu akan menampakkan suatu pribadi yang mulia baik di mata Allah swt. maupun dimata manusia pada umumnya. Kemuliaan seseorang karena sifat-sifat tersebut didasarkan karena adanya ketaatan, ketaqwaan, dan sifat tidak berlebih-lebihan dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi, banyak orang yang tidak berusaha, bahkan sekedar untuk mencapai sifat-sifat terpuji itu karena mereka tidak mau mendengarkan nasihat kebenaran meskipun mereka tahu hakikat kebenarannya. Selain itu, puisi ini juga menjelaskan bahwa sifat wara’, qana’ah dan sabar tidaklah mungkin dapat bisa bersatu dengan sifat-sifat tercela dalam diri seseorang, seperti sifat serakah dan rakus. Hal ini bukan berarti bahwa orang yang mempunyai sifat wara’, qana’ah, dan sabar tidak pernah mempunyai sifat serakah dan rakus. Akan tetapi, sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh seseorang tersebut tidak selalu terdapat dalam diri seseorang di setiap waktu dan kejadian. Hanya orang-orang yang khusyu dan sungguh-sungguhlah yang mampu menjaga sifat-sifat tersebut demi meraih ridha Allah swt.. Walaupun begitu, manusia haruslah berusaha untuk tetap menjaga sifat wara’, qana’ah dan sabar yang ada pada dirinya.

This research analizes poetry’s meaning of meaning “al-h}irs}u lu’mun wa mis\luhu at}-t}ama’u” written by Abu> al-‘Ata>hiyyah whom the one of famous poet in ‘Abbasiyyah. To find out the kind meaning of meaning in this poetry, this research uses theory semiotik whom revealed by Michael Riffaterre’s. Semiotic is a research model which takes note of the symbols. These symbols was found from the language which used in the literature’s work. This research shows that poetry “al-h}irs}u lu’mun wa mis\luhu at}-t}ama’u” content advise to every man to have wara’ (devout), qana’ah (satisfied) and patient characteristic in their life. The man who have those characteristic will show sign of glory in the side of Allah swt. and another. It is because those characteristic based on obedient, pious, and not profuse nature in their life. But many people does not try or even to reach those characteristic because they do not want listen sound of truth although they know the truth one. Beside those characteristic can not be unite with evil behavior such as greedy and cupidity. In this case not mean people who have wara’, qana’ah and patient characteristic never have evil behavior one, but both of those characteristic may not always be in man with every condition. Just man who have devote behave that can always keep this character before Allah and hope for Allah’s willing. Eventhough that is very difficult thing, people must try to keep that characteristic in their life.

Kata Kunci : Puisi, Abu al-‘Ata>hiyyah, al-H{irs}u, semiotik, sifat-sifat terpuji


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.