MODAL SOSIAL PERAJIN BAMBU DI DESA GILANGHARJO PANDAK BANTUL
SAMBAS BAHRUDIN, Drs. Soetomo. M.Si
2013 | Skripsi | ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Usaha kerajinan bambu di Desa Gilangharjo sudah ada sejak tahun 1970- an berawal dari maraknya usaha peternakan ayam petelur. Untuk memenuhi kebutuhan kandang, peternak membuat kandang ayam petelur sendiri untuk menghemat modal yang dikeluarkan. Sejak saat itu beberapa masyarakat di Desa Gilangharjo khususnya Dusun Daleman, Dusun Jodog dan Dusun Karangasem memilih bekerja menjadi perajin bambu khususnya kandang. Permintaan kandang ayam petelur saat ini tidaklah banyak seperti dulu sehingga banyak perajin yang melakukan inovasi dengan membuat kandang jenis lain. Usaha kerajinan bambu sampai saat ini masih menjadi salah satu pilihan pekerjaan yang dirasa perajin bambu cukup menguntungkan dibandingkan sektor pekerjaan lainnya. Untuk menjaga konsistensi usaha kerajinan bambu perajin tentunya melakukan kerjasama dengan perajin bambu yang lainnya. Kerjasama yang terjalin antara perajin bambu membuktikan adanya modal sosial dilingkungan perajin bambu di Desa Gilangharjo. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran bagaimana bentuk modal sosial perajin bambu di Desa Gilangharjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penulis melakukan wawancara mendalam dan mengumpulkan data serta dokumentasi yang digunakan untuk mengambil kesimpulan akhir. Teknik penelitian yang digunakan adalah purposive sampling (sampel bertujuan). Adapun informannya adalah pemerintah Desa Gilangharjo dan perajin bambu yang berada di Dusun Daleman, Dusun Jodog dan Dusun Karangasem. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa Usaha kerajinan bambu di Desa Gilangharjo mampu berkembang dikarenakan adanya modal sosial yang terjalin. Modal sosial yang terdiri dari kepercayaan, jaringan dan normanorma memang ada dan berlaku di kalangan perajin bambu di Desa Gilangharjo. Kepercayaan dapat terlihat dari adanya kepercayaan perajin dengan pekerjanya, dengan sesama perajin bambu ataupun kepercayaan dari konsumen. Dilihat dari segi jaringan maka perajin bambu memiliki jaringan yang lumayan bagus yaitu pada tahapan penyediaan bahan baku dan pemasaran hasil produksinya. Normanorma yang berlaku di kalangan perajin seperti menjaga persaingan agar selalu sehat, kerja keras dan kejujuran menjadi pedoman dasar perajin bambu di Desa Gilangharjo
Bamboo handicraft business in Gilangharjo Village has existed since the 1970s began with the rise of poultry fram business. To meet the needs of cages, breeder cages laying hens make their own to save the issued capital. Since then several people in the village, especially Daleman, Jodog and Karangasem in Gilangharjo choose to work as artisans especially bamboo cage. Request for laying hens cage today is not much like it used to so many artisans who make innovations to create other types of enclosures. Bamboo handicraft business is still be one of the bamboo artisans work deemed sufficiently profitable compared to other employment sectors. To maintain consistency of effort is certainly bamboo handucraft artisans in cooperation with order bamboo artisans. Cooperations that exsits between the bamboo craftsmen prove the existence of sosial capital within the bamboo artisans in the village of Gilangharjo. This study aims to provide an overview of how forms of sosial capital bamboo artisans in the village of Gilangharjo. The method used in this study is a qualitative research method with a descriptive approach. The author conducted indepth interviews and collect data and documentation used to take a final conclusion. The technique used in this study was purposive sampling (sampels intended). The informant is Gilangharjo village govermment and bamboo artisans residing in Daleman, Jodog and Karangasem. The results showed that the research conducted of bamboo handicraft businesses in the village Gilangharjo able to thrive due to the social capital that exsist. Social capital consists of trus, network and nomrs do exist and prevail among the bamboo artisans in the village of Gilangharjo. Trust can be seen from the artisans of trus with workers, with fellow crafters bamboo or trus of consumers. In terms of the network has at network of bamboo artisans are pretty good that at this stage of the supply of raw materials and marketing of their products. Prevailing norms among crafters like to always keep a healthy competition, hard work and honesty becoming a basic guideline bamboo artisans in the village of Gilangharjo
Kata Kunci : perajin bambu, modal sosial, kepercayaan, jaringan, norma-norma