PEREMAJAAN KAWASAN TEPIAN SUNGAI WINONGO KAMPUNG BADRAN YANG BERWAWASAN KOTA HIJAU (GREEN CITY)
FATIMAH AZZAHRAA, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D
2014 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAKota Yogyakarta telah tumbuh menjadi wilayah yang padat permukiman karena kondisi tata ruang yang kurang terkoordinasi sehingga menekan kawasan konservasi seperti kawasan tepian sungai. Kondisi ini sangat bertentangan dengan peraturan RI No 26 Tahun 2008 Pasal 56 Ayat 2 tentang sempadan sungai yang menyebutkan bahwa kawasan sempadan sungai merupakan kawasan perlindungan setempat. Perubahan fungsi guna lahan di area tepian sungai juga terjadi pada kawasan permukiman Kampung Badran di Kota Yogyakarta yang menempati sebagian area tepian Sungai Winongo sehingga menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Permasalahan utama yang ditemukan di kawasan seperti tingkat kepadatan tinggi bangunan yang mengurangi ketersediaan ruang terbuka hijau, kondisi tepian sungai yang curam dan rawan longsor, dan adanya penyalahgunaan fungsi guna lahan di Kawasan Tepian Sungai Winongo. Tujuan perencanaan di Kawasan Tepian Sungai Winongo Kampung Badran adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis potensi dan permasalahan yang terdapat di kawasan ini serta menyusun arahan rencana Peremajaan Kawasan Tepi Sungai Winongo Kampung Badran dengan konsep kota ekologis (green city) tanpa menghilangkan identitasnya sebagai “kampung kotaâ€. Adapun metode perencanaannya menggunakan metode perencanaan partisipatif yang turut melibatkan salah satu elemen masyarakat yaitu para remaja Kampung Badran. Berdasarkan potensi dan permasalahan maka diusulkan perencanaan ruang hijau terpadu sebagai upaya mitigasi bencana, perencanaan kawasan hunian yang layak dan ramah lingkungan, serta pengembangan komunitas masyarakat yang peduli lingkungan (green community). Selama pelaksanaan perencanaan dapat diambil beberapa pembelajaran dari proses perencanaan partisipatif yang melibatkan para remaja seperti mekanisme pertemuan focus group disscussion (FGD) disesuaikan dengan jadwal pertemuan warga, para remaja hanya berperan sebagai pengusul rencana melalui diskusi secara langsung maupun media sosial, dan pelaksanaan focus group disscussion tidak sepenuhnya sesuai dengan teori yang ada.
Yogyakarta City has grown into a dense residential area because of its uncoordinated land management so it disturbs the conservation areas such as riverbank areas. This condition contradicts with the applicable government regulation article number 2 of Section 56 of PP No. 26/ 2008 which stipulate that riverbank area is functioned as a local protected areas. The changes in land use functions at riverbank areas also occur in residential areas of Kampung Badran in Yogyakarta City which occupies most of area along the riverbank of Winongo causing some environmental problems. The main problems found in the area are high building density that reduces the availability of green open spaces, steep riverbank and landslide danger, and the abuse of land use function in the riverbank areas of Winongo. The objectives of the planning in the Riverbank Areas of Winongo Kampung Badran are to identify and to analyze the potency and the problems in the region and to develop a plan for “Renewal of The Riverbank Areas of Winongo Kampung Badran†through ecological city (green city) concept without losing its identity as a “Kampung Kotaâ€. The planning method used was participatory planning by involving one element of the community, who are teenagers of Kampung Badran. Based on the potency and the problem, the plan proposed an integrated planning of green space as mitigation, proper residential areas and comfortably environmental planning, and the development of an environmentally cared community (green community). During the implementation of the plan, a few lessons can be learned from participatory planning process involving teenagers, such as the mechanism of focus group disscussion (FGD) meeting adapted to a community meeting schedule, the teenagers act as the plan proposer both through a direct discussions and social media, and the implementation of the focus group disscussion are not fully accordance with the existing theory.
Kata Kunci : permukiman, kawasan sempadan sungai, peremajaan