Laporkan Masalah

ANALISIS KUALITAS JARING PANTAU VERTIKAL CANDI BOROBUDUR UNTUK STUDI DEFORMASI

AGHUTS SALIM, Dwi Lestari, ST., ME.

2013 | Skripsi | TEKNIK GEODESI

Candi Borobudur sebagai salah satu peninggalan sejarah dunia perlu dijaga kelestariannya. Salah satu bentuk pemeliharaan candi adalah dengan melakukan kegiatan pemantauan stabilitas struktur tanah dan bangunan candi. Pemantauan stabilitas vertikal Candi Borobudur secara geodetik dilakukan dengan pengamatan secara periodik posisi vertikal titik-titik jaring pemantau candi dengan menggunakan alat sipat datar. Pada tahun 2012 pengamatan dicoba menggunakan alat ukur Total Station dengan bentuk jaring yang berbeda dengan jaring sipat datar. Penggunaan alat dan bentuk jaring yang berbeda bisa berpengaruh pada ketelitian estimasi tinggi titik yang diamat. Pada penelitian ini dilakukan analisis kualitas jaring berdasarkan perbedaan alat dan bentuk geometrinya serta analisis pergeseran vertikal pada kedua jaring tersebut. Leica Sprinter M Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data pengamatan tinggi jaring pemantau vertikal Candi Borobudur menggunakan sipat datar otomatis ( -100) tahun 2011 dan data pengamatan tinggi dengan Total Station (Nikon DTM-322) tahun 2012. Estimasi tinggi titik pertahun dihitung menggunakan hitungan perataan kuadrat terkecil metode parameter dengan minimal constraint. Uji statistik hasil hitung perataan dilakukan dengan Pope’s Tau data snooping dengan tingkat kepercayaan 95%. Selanjutnya analisis kualitas jaring dilakukan dengan memperhatikan ketelitian estimasi tinggi serta kekuatan geometri jaring berdasarkan nilai korelasi antar parameter tinggi yang diperoleh. Analisis pergeseran titik dilakukan dengan uji statistik menggunakan student-t pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan estimasi tinggi jaring sipat datar memberikan tingkat ketelitian rerata 0,002 m sementara jaring dengan Total station keelitiannya 0,029 m. Ditinjau dari kesalahan penutup tinggi jaring sipat datar masuk pada kriteria kelas LAA sedangkan Total Station LA. Sementara itu evaluasi kekuatan geometri jaring, nilai korelasi jaring sipat datar secara umum lebih besar dibandingkan dengan jaring Total Station. Perbedaan nilai tinggi antara 2011 dan 2012 menunjukkan nilai pergeseran ke bawah antara -0,010 s.d -0,099 m, namun demikian uji statistik pergeseran titik menyatakan pergeseran tersebut tidak signifikan, hal ini disebabkan oleh besarnya nilai simpangan baku pergeseran. Dari sini dapat disimpulkan jaring total station yang digunakan pada tahun 2012 belum memenuhi kriteria untuk analisis deformasi vertikal Candi Borobudur sehingga perlu dilakukan kajian lebih lanjut.

Borobudur is one of the world heritages that should be preserved. Maintaining the temple could be done by monitoring the stability of the soil and construction structure of the temple. Geodetic method has been employed to monitor the vertical stability of the Borobudur temple by measuring vertical position of the monitoring network points periodically using waterpass (leveling). In 2012 instead of using waterpass, trigonometric leveling was applied to measure the height differences between points with some modification on the network geometry. The instrument and network geometry changes could affect the precision of the observed point. This research focused on analyzing the quality and strength of figure of the trigonometric leveling network observed using waterpass and Total Station and also analyzing the vertical displacement at these networks. This study used leveling network data observed in 2011 measured using automatic waterpass Leica Sprinter M-100 and trigonometric leveling data in 2012 measured using Nikon DTM 322 Total Station. Height estimation of the network points was done using least squares adjustment methods using observation model with minimum constraint. Pope’s Tau data snooping was performed with 95 % level of confidence to evaluate the result. Network quality analysis was then undertaken by evaluating the precision of the estimated height and the correlation number between estimated parameters was used to analyze the strength of figure. Furthermore, point displacement analysis was performed using student-t statistical test with 95% level of confidence. The results showed that the average precision of the leveling network in 2011 was 0.003 while the trigonometric leveling in 2012 was 0.029. Based on the height closure error value, the leveling network met the the LAA class while the trigonometric leveling met the LA class. Strenght of figure analysis indicated that in general the correlation value between estimated parameters in leveling network was bigger than Total Station network. Furthermore, the height differences between 2011 and 2012 showed the displacement between -0.010 to -0.099 m, but the statistical test indicated that these displacements were insignificant. It can be concluded that the trigonometric leveling network using Total Station in this study has not meet the required precision for Borobudur deformation study.

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.