Adopsi teknologi usahatani jagung di Kabupaten Minahasa
MATINDAS, Louise Anette, Dr.Ir. P. Wiryono, P.Sj
2001 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianJagung merupakan komoditas bahan pangan kedua yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia setelah padi. Kebutuhan jagung di Indonesia term mengalami peningkatan seiring dengan semakin besamya kebutuhan untuk bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Penerapan teknologi baru dibidang pertanian merupakan masalah yang mendapat perhatian cukup besar, terutama karena petani belum seluruhnya mampu menerapkan teknologi tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat adopsi teknologi usahatani jagung di Kabupaten Minahasa, faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi usahatani jagung dan untuk mengetahui hubungan antara tingkat adopsi teknologi dengan tingkat produksi jagung. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif, dilaksanakan di Kecamatan Kawangkoan Kabupaten Minahasa, selanjutnya dari kecamatan tersebut diambil satu desa yang dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan daerah introduksi teknologi jagung. Sampel dalam penelitian ini adalah petani jagung dimana penentuan petani dilakukan dengan cara simple random sampling, sebanyak 80 petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi teknologi usahatani jagung di Kabupaten Minahasa tergolong dalam klasifikasi rendah. Variabel yang secara bersama-ssma berpengaruh terhadap tingkat adopsi yaitu : tingkat pendidikan, pendapatan usahatani jagung, motivasi petani, jumlah tanggungan keluarga, persepsi terhadap inovasi, pengalaman berusahatani, kekosmopolitan dan intensitas penyuluhan serta ketersediaan sarana produksi. Tingkat adopsi dipengaruhi secara nyata oleh variabel pendapatan, jumlah tanggungan keluarga dan kekosmopolitan. Melalui model struktural hubungan antar variabel, menunjukkan besamya pengaruh langsung dari variabel pendapatan terhadap tingkat adopsi adalah 22,20 YO, jumlah tanggungan keluarga terhadap tingkat adopsi adalah 16,70 YO dan variabel kekosmopolitan terhadap tingkat adopsi adalah 18,62 %. Selain pengaruh langsung, terdapat pula pengaruh tidak langsung melalui variabel antara yakni pengaruh variabel pendapatan melalui variabel kekosmopolitan dan jumlah tanggungan keluarga, serta pengaruh tidak langsung variabel j umlah tanggungan keluarga melalui variabel kekosmopolitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa .terdapat hubungan yang positif antara tingkat adopsi teknologi dan tingkat prod&si j@ung. Untuk meningkatkan adopsi teknologi, perhatian dapat dipusatkk pada masalah pendapatan petani, khususnya bagaimana pengelolaan pendapatan bisa menunj ang sebaikbaiknya peningkatan adopsi teknologi jagung.
Corn is a second most important staple food after rice. Indonesian corn demand is increasing with the increase need of food, animal feed, and industrial raw material. Putting new technology in agriculture into practice is of great concern as farmers are in general unable to completely apply the new technology. The present study is done to find out the degree of farmer adoption of corn production technology in Minahasa Regency, to what factors it might be attributed to, and how farmer technology adoption level is related to farmer corn yield production. Using descriptive analysis, the study was done in Sub district of Kawangkoan, Minahasa Regency. A single village, to which corn is introduced, was purposively selected. A simple random sampling was used to select eighty corn growing farmers. Research results indicated that farmer adoption of corn production technology in Minahasa Regency might be classified as low. Education, net return from corn growing, motivation, family size, innovation perception, farming experience, cosmopolitanism, extension frequency, and availability of agricultural inputs were joint factors to which farmer adoption level might be associated with. On individual basis, technology adoption level was significantly affected by farmer income, family size and cosmopolitanism. From structural model relating inter variable relationship, direct effect of those three factors toward technology adoption were 22.20 %, 16.70 % and 18.62 YO,re spectively. In addition, an indirect effect of farmer income through cosmopolitanism and family size, and of family size through cosmopolitanism was also indicated. Corn production level was positive related to farmer adoption level of technology. To improve farmer adoption of corn production technology, attempts should be focused on farmer income, particularly on how to properly manage farmer income to support a better adoption of corn production technology.
Kata Kunci : Usahatani Jagung,Adopsi Teknologi, Adoption, technology, income, cosmopolitanism