Analisis produk domestik regional bruto di Propinsi Jawa Tengah
GUNAWATI, Endang Sri, Dr.Ir. Irham, M.Sc
2001 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianKeberhasilan pembangunan suatu daerah dapat diukur dengan menggunakan berbagai macam metode, yang paling umum dan baanyak digunakan adalah dengan menganalisis struktur dan perkembangan PDRB suatu daerah dari tahun ke tahun Dengan menganalisisnya akan diketahui sektor basis perekonmian di masa lalu dan dapat digunakan sebagai bahan peatimbangan dalam membuat peracanaan pmbangunan dimasa yang akan datang. Penelitian ini menggunakan metode purposive dalam penentuan sampel. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah PDRB menurut harga konstan tahun 1993. Berdasaakan hasil analisis LQ dan shift share untuk sektor primer, ada sepuluh daerah yang konsisten dalam pertumbuhannya adalah kabupaten: Purbalingga, Purworejo, Wonosobo, Sukoharjo, Wonogiri, Blora, Demak, Batang, Pemalarg dan Brebes. Sedangkan untuk sektor sekunder ada enam daerah yaitu kabupaten Sukoharjoo, Karanganyar, Semarang, Kendal serta kotamadya Surakarta dan Semarang Selanjutnya untuk sektorr tersier ada tiga daerah adalah kotamadya: Surakarta, Salatiga dan Semarang. Berdasarkan hasil analisis LQ dan Tipologi Klassen, maka daerah yang konsisten dalam pertumbuhannya untuk sektor primer yaitu kabupaten Wonosobo dan untuk sektor sekunda adalah kabupaten: Cilacap, Sukoharja, Karanganyar, Semarang Kendal serta kotamadya Surakarta dan Semarang. Selanjutnya untuk sektor tasier adalah kotamadya: Surakarta, Semarang, Salatiga dan Tegal. Berdasarkan hasil analisis LQ dan Mix and Share Analiysis untuk sektor primer, maka daerahaaerah yang konsisten dalam pertumbuhannya dengan nilai perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten positif dan dipengaruhi oleh komponen patumbuhan nasional/propinsi baik secara nasional maupun propinsi adalah kabupata: Banyumas, Banjarnegara, Kebumemen Magelang Boyolali, Sragen, Rembang, Pati, Jepara, Kendal dan Tegal. Daerah-daerah yang nilai perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupatm positif yang disebabkan kamu adanya pertumbuhan secafa nasional dan regional serta adanya regional share adalah kabupaten Purbalingga, Sukoharjo, Blora, Temaqgung, dan Batang. Daerah-daerah yang nilai perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten positif yang disebabkan adanya pertumbuhan secara nasional dan regional serta adanya regional share secara nasional dan propinsi adalah kapubaten: Purworejo, Wonosobo, Wonogiri, Demak, Pemalang dan Brebes. Dari hasil analisis LQ dan Mix and Share untuk sektor sekunder, maka kabupaten yang konsisten dalam pertumbuhannya, dengan nilai perrubahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten positif dan dipengaruhi oleh komponen pertumbuhan nasional/propinsi baik secara nasional maupun propinsi serta oleh komponen bauran sektoral baik secara nasional maupun propinsi yaitu hanya di kabupaten Cilacap. Daerah-daerah yang nilai perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten positif dan dalam pertumbuhannya dipengaruhi roleh nilai komponen pertumbuhan nasional/propinsi, komponen bauran sektoral serta regional share baik secara nasional maupun regional adalah kabupaten: Karanganyar, Semarang dan Kendal. Selanjutnya daerah-daerah yang nila peruhan PDRB tahun 1988-1999 di kabupaten dipengaruhi oleh komponen pertumbuhan nasiona/propinsi bak secara nasional maupun propinsi dan komponen bauran sektoral baik secara nasional maupun propinsi serta nilai regional share hanya pada tingkat propinsi, berada di kabuptm Sukoharja dan kotamadya Surakata serta Semarang. Berdasarkan hasil analisis LQ dan Mix and Share untuk sektor tersier, maka daerah yang konsisten dalam pertumbuhannya, dengan nilai perubahan PDRB tahun 1988-1999 di kotamadya dipngaruhi o1eh komponen pertumbuhan nasiona/ propinsi baik secara nasional maupun propinsi dan oleh komponen bauran sektoral pada tingkat propinsi serta nilai regional2 shun pada tangkat nasional dan propinsi adalah di kotamadya: Surakarta, Salatiga dan Semarang. Rata-rata inefisiensi pendapatan di propinsi Jawa Tengah sebesar 1,5 persen yang arturya 98,5 persen pendapatan dari sektor basis berada di wilayah yang bersangakutan, dengan demikian tingkat efisiensi penclapatan tinggi. Rata-rata inefisiensi penclapatan untuk sektor sekunder di propinsi Jawa Tengah sebesar 1,2 persen dan sektor tersier sebesar 1,2 persen
The success of development programs of a r e o n can be measured by means of various methods, the most common of h c h , and widely use, is the one that analyses the structure and development of the p s s r e g i d domestic product (GRDP) of the region over the years A n a m the GRDP, one will find out the basic economic sector of the region m the past and the result could be considered in the development planning in the future The sample regions were taken accordugly to the purposive sampling method. The data analyzed in the research were the GRDP at 1993 constant price. The Location Quotient (LQ) and Shift Share analysis on primary sector indicated that there were ten region with consistent growth, namely PurbalinSga, Punvorejo, Wonosobo, Sukoharjo, WonOgiri Blora, Demak, Batang Pemalang and Brebes regencies. In secondilIy sector there were six regions, namely Sukoharjo, Karanganyar, Semarang Kendal, and the municipalities of Surakarta and Semarang. In tertiary sector there were three regions, namely the municipalities of Surakarta, Salatiga, and Semaxang Based on the LQ analysis and the Klassen Typology, the regions with consistent growth in primary sector was Wonosobo regency; in secondary sector were Cilacap, Sukuharjo, Karanganyar, Semarang Kendal, and the municipalities of Surakarta and Semaraqg In tertiary sector were the municipalities of Surakarta, Semarang, Salatiga, and Based on the LQ and the Mix and Share analysis, the regions with consistent gropwth in the primary sector having positive changes in GRDP dumg the period of 1988-1999 and were affeded by the nationaYprovincia1. gropwth cumponent were Banyumas, Banjamegara, Kebumen, Magelang, Boyolali, Sragen, Rembang, Pati, Jepara, KmM, and Tegal regencies. The regions with positive changes in GRDP dunng the period of 1988-1999 caused by the national and regional growth and the regional share were Malhgg& Sulcohaqo, Blora, Temangyng, and Batang. The regions With positive changes in GRDP dunng the period of 1988-1999 caused by national and regional growths and regional share, nationally and provincially, were Purworejo, Wonosobo, Wonogin, Dean& Pemalang. and Brebes regencies. Based on the LQ and Mix and Share analysis in the secondaty sector, the regencies with the consistent growth having positive changes in GRDP dunng the perrod of 1988-1999 and whose gowth were affected by the naticmal/provincially, were Karanganyar, Sesnarang, and K d mgencies. The regions with changes in its GRDP affected by the national/provkial growth component, both nationally and provincially, and by sector mix components, both nationally and pmvincially, and by the regional share only in provincial level, were Sukoharjo regency and the municipahties of Surakarta and Semarang. Based on the LQ and Mix and Share analysis m tertiary sector, the regions with consistent growth with positive changes in GRDP affectad by the naticmal/pvincial growth cornperits, either natiodly or provincially, and by the sectoral & components at propincia level by the regional share at the national and provincial levels were the municipalities of' Surakarta, Salatiga, and Semarang. The average income mefficiency in the province of Central Java was 1,s percent which implied that 983 percent of the inccHne from basic sect^ were in the region itsel Thus, the rate of income effiency was high. The aver- income efficiency of the sccondafy sector in the province of Central Java was 1,2 percent and that of the tertisny sector was 1,2 percent.
Kata Kunci : Ekonomi Pertanian,PDRB,Perencanaan Pembangunan, GRDP ( p s s regional domestic productx Basic Sector, Inconne Inefficiency.