Laporkan Masalah

KAJIAN KERUANGAN PENGEMBANGAN AGROPOLITAN JAGUNG DI KABUPATEN POHUWATO PROVINSI GORONTALO

IR. ZULZAIN ILAHUDE, MP, Prof . Dr. SuratmanWorosuprodjo, M.Sc.

2014 | Disertasi | S3 Geografi

Pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo dilakukan sebagai upaya mempercepat pertumbuhan pembangunan wilayah perdesaan dengan menetapkan jagung sebagai komoditas utama. Tujuan penelitian adalah : 1) menganalisis sebaran pola keruangan penggunaan lahan saat sekarang di Kabupaten Pohuwato; 2) menganalisis kemampuan dan kesesuaian lahan untuk jagung di Kabupaten Pohuwato; 3) mengevaluasi pola keruangan infrastruktur pendukung agropolitan di Kabupaten Pohuwato; 4) mengkaji kondisi agropolitan sekarang dan arahan pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Satuan lahan sebagai unit analisis. Analisis kemampuan lahan dan kesesuaian lahan menggunakan perangkat lunak LCLP (Land Classification and Land Use Planning). Selanjutnya berdasarkan hasil tumpang susun antara analisis kemampuan lahan dan kesesuaian lahan, keunggulan komparatif wilayah, hirarki pengembangan wilayah, dan kapasitas pelayanan wilayah diperoleh wilayah fungsional (nodal), yaitu inti sebagai pusat pelayanan dan plasma sebagai hinterland. Hasil penelitian menunjukkan, pola keruangan penggunaan lahan tegalan menyebar di bagian selatan wilayah Kabupaten Pohuwato dari Kecamatan Dengilo, Paguat, Marisa, Duhiyadaa, Randangan, Patilanggio, Wanggarasi, sampai Popayato Barat. Komoditi jagung merupakan komoditi yang mendominasi lahan tegalan. Sebaran kemampuan lahan untuk pertanian di Kabapaten Pohuwato terdiri atas kelas I, III, dan IV dan kelas V. Sebaran wilayah yang sesuai untuk tanaman jagung, yaitu: a) klas S2 dengan kemampuan lahan klas III dan V seluas 16.753,39 Ha, dan b) klas S3 dengan kemampuan lahan klas I, III, IV, dan V seluas 26.580,43 ha, tersebar di Kecamatan Randangan, Patilanggio, Duhiyada’a, Paguat, serta di bagian barat seperti Kecamatan Lemito, Wanggarasi, Popayato Barat, Popayato Timur, dan Popayato. Secara hirarki, infrastruktur sebagai penyedia fasilitas lengkap dan aksesibilitasnya dapat dijangkau oleh masyarakat, penyebarannya mengelompok di Kecamatan Popayato Barat, Paguat dan Wanggarasi. Wilayah ini sebagai pusat aktivitas yang dapat melayani kecamatan di sekitarnya. Arahan pengembangan agropolitan di Kabupaten Pohuwato secara fungsional meliputi zona inti berada di Kecamatan Popayato Barat dengan tiga kota tani sebagai hinterland, yaitu : 1) Zona 1, kota tani utama sebagai pusat pelayanan sarana produksi jagung, pusatnya di Kecamatan Popayato, 2) Zona 2, sebagai sentra produksi dan industri pengolahan jagung, pusatnya di Kecamatan Patilanggio serta, 3) Zona 3, sebagai kota tani pelayanan jasa agribisnis dan pemasaran, pusatnya di Kecamatan Marisa.

Agropolitan development in Pohuwato distric of Gorontalo province as part of efforts to accelerate the growth of development of rural areas by setting corn as the main commodity. Research objectives are: 1) to analyze the spatial distribution patterns of land use in the present moment Pohuwato; 2) analyze the capability and suitability of land for corn in Pohuwato; 3) evaluate the spatial pattern of supporting infrastructure in Pohuwato Agropolitan; 4) assess current conditions and Agropolitan direction of development in Pohuwato Agropolitan. The method used is descriptive analysis. Land units as the unit of analysis. Analysis of land capability and suitability of land use LCLP software (Land Classification and Land Use Planning). Furthermore, based on the results of the overlay analysis of land capability and suitability of land, areas of comparative advantage, hierarchy of regional development, and service capacity region obtained functional area (nodal), the core of the plasma as a service center and hinterland. The results showed that the spatial pattern of land use in dry land the southern region of Sub Dengilo Pohuwato, Paguat, Marisa, Duhiyadaa, Randangan, Patilanggio, Wanggarasi, until Popayato West. Commodity corn is a commodity that dominates the dry land. Distribution of land capability for agriculture in Kabapaten Pohuwato consists of class I, III, and IV and class V. Distribution of sites suitable for corn, namely: a) S2 class with land capability class III and V area of 16753.39 hectares, and b) S3 class with land capability class I, III, IV, and V area of 26580.43 ha, spread in District Randangan, Patilanggio, Duhiyada'a, Paguat, as well as in the west such as Sub Lemito, Wanggarasi, Popayato West, East Popayato, and Popayato. Hierarchically, as a provider of infrastructure facilities acsessibility complete and accessible by the public, clumped distribution in the District of West Popayato, Paguat and Wanggarasi. Agropolitan development in Pohuwato functionally includes a core zone (nodal) located in the District of West Popayato as a farmer with three city hinterland, namely: 1) Zone 1, the main farm town as a service center corn production facilities, its center in the District Popayato, 2) Zone 2, as the center of corn production and processing industry, as well as its center in the District Patilanggio, 3) Zone 3, a city farm and agribusiness marketing services, headquartered in the District Marisa.

Kata Kunci : agropolitan, infrastruktur, kemampuan dan kesesuaian lahan, penggunaan lahan, kota tani, zona.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.