ANALISIS BEBAN KERJA MENTAL OPERATOR MESIN PRODUKSI (Studi di PT. Industri Sandang Nusantara Unit Patal Secang)
MARIA MURRASIHA ULYA, Dr. Ir. Adi Djoko Guritno, MSIE.
2014 | Skripsi | TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANSeluruh kegiatan pemintalan benang di PT. Industri Sandang Nusantara Unit Patal Secang telah menggunakan mesin. Manusia sebagai operator mesin tidak hanya menggunakan tenaga fisik, namun juga melakukan aktivitas menggunakan otak secara kognitif. Beban kerja mental dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengukur seberapa besar sumber daya kognitif manusia yang digunakan untuk melakukan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dimensi beban kerja mental yang paling dominan pada tiap stasiun kerja, menganalisis gap antara beban kerja mental sekarang dan harapan untuk setiap dimensi beban kerja mental, dan menentukan prioritas perbaikan aktivitas kerja pada operator mesin. Terdapat 3 metode pendekatan subjektif multidimensi untuk menganalisis beban kerja mental, yaitu NASA-TLX (National Aeronautics and Space Administration-Task Load Index), SWAT (Subjective Workload Assessment Technique), dan Workload Profile. Penelitian ini mengkombinasikan dimensidimensi yang telah dikembangkan dalam ketiga metode untuk dijadikan butirbutir pertanyaan dalam kuesioner. Objek penelitian adalah operator mesin produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi tuntutan mental dominan pada seluruh stasiun kerja. Pada stasiun kerja blowing nilai gap tertinggi antara beban kerja mental sekarang dan harapan terdapat pada dimensi tuntutan waktu, pada stasiun kerja drawing terdapat pada dimensi tuntutan mental, dan pada stasiun kerja ring spinning terdapat pada dimensi tuntutan fisik. Prioritas perbaikan aktivitas kerja pada stasiun kerja blowing adalah aktivitas menyalakan four chamber blender (4 CB) dan pin opener cleaner (POC). Prioritas perbaikan pada stasiun kerja drawing adalah aktivitas memeriksa tanda can, rangkapan sliver, dan warna lampu. Sedangkan prioritas perbaikan pada stasiun kerja ring spinning terdapat pada aktivitas mengganti roving.
All thread spinning activities in PT. Industri Sandang Nusantara Unit Patal Secang have used machine. Their operator not only used physical power but also brain in cognitively. Mental workload may be an alternative to measure human cognitive resource used in doing job. This research was intended to identify mental workload dimension that is most dominant in each working station, to analyze gap between current mental workload and expectation for each mental workload dimension and to determine working activity improvement priority in machine operator. There are three multidimensional subjective methods to analyze mental workload, consisting of NASA-TLX (National Aeronautics and Space Administration-Task Load Index), SWAT (Subjective Workload Assessment Technique) and Workload Profile. This research combined dimensions that have been developed in the three methods as question items in questionnaire. Research object is production machine operator. The result indicated that mental demand dimension is dominant in all working stations. In working station of blowing the highest gap between current and expected mental workloads is on time dement, in drawing working station it is on mental demand and in ring spinning working station it is in physical dement. Priority of working activity improvement in blowing working station is activity of igniting four chamber blender (4CB) and pin opener cleaner (POC). Improvement priority in drawing working station is in can sign examination, sliver duplex and lamp colour. In ring spinning working station, improvement priority should be done in activity of roving replacement.
Kata Kunci : Beban Kerja Mental, NASA-TLX, SWAT, Workload Profile.