Laporkan Masalah

GAYA HIDUP DAN PEMBENTUKAN IDENTITAS HIJABERS YOGYAKARTA SEBAGAI POTRET KELAS MENENGAH MUSLIM PERKOTAAN

DESI WULANDARI, -

2013 | Skripsi | Sosiologi

Di tengah maraknya trend perburuan „penampilan‟, tanpa sadar trend ini telah menjadikan manusia modern terjerat dan terjebak pada budaya konsumeris. Konsumerisme, pada masa sekarang telah menjadi ideologi baru kita. Ideologi secara aktif memberi makna tentang hidup melalui mengkonsumsi material. Bahkan ideology tersebut mendasari rasionalitas masyarakat kita sekarang, sehingga segala sesuatu yang dipikirkan atau dilakukan diukur dengan pertimbangan material. Penentuan “siapa aku” atau status diri ditentukan dengan mengkonsumsi produk yang citra luarnya bisa mengangkat derajat identitas dirinya. Sedangkan identitas diluar disini adalah hubungan antara harga yang mahal dan merek yang terkenal dan unik. Dalam kajian budaya perkotaan, kota dengan consumer space diperuntukkan bagi kelas menengah baru sebagai tanda transformasi estetis. Proses konsumsi simbolis sebagai tanda penting dari pembentukan gaya hidup yang simbol konsumsi lebih ditekankan dari pada fungsi dan utilitas komoditas yang dikonsumsi yang mana menurut agama disebut komodivikasi. Di dalam Hijabers CommunityYogyakarta, konsumsi busana muslim menunjukkan pembedaan sosial seseorang di masyarakat. Makna busana ditafsirkan sebagai salah satu dari seluruh rentang penandaan yang paling jelas dari penampilan luar yang dengannya orang menempatkan diri mereka terpisah dari yang lain dan selanjutnya diidentifikasi oleh suatu keompok tertentu. Hal ini juga yang ditunjukkan oleh busana muslim Hijabers Community Yogyakarta yang dapat memiliki makna tertentu untuk mengungkapkan nilai prestis seseorang. Busana muslimah menjadi trend dan memakai jilbab mulai mencapai prestise tertentu yang mengkomunikasikan hasrat menjadi orang saleh dan sekaligus menjadi muslim modern, sehingga gaya berpakaian seseorang/komunitas menunjukkan adanya identifikasi seseorang (representasi) atas busana muslim untuk membedakan identitas dan nilai prestisius seseorang,dibentuk dan ditampilkan. Hijab sudah mengalami tarik ulur dari banyak nilai/kepentingan religius, ekonomi kapitalis serta prestis. Hijab tidak lagi memiliki pemaknaan yang tunggal melainkan makna yang sangat kompleks.

-

Kata Kunci : Hijab, gaya hidup, identitas, konsumsi, fashion


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.