Efisiensi teknologi tabela jappok dan tapin pada usahatani padi sawah irigasi teknis di Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidenreng Rappang
MUSLIMIN, Prof.Dr.Ir. Sri Widodo, MSc
2001 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianCara tanam benih langsung (tabela/tabela Jappok) merupakan salah satu teknologi untuk meningkatkan produksi dan pendapatan padi sawah irigasi teknis. Untuk mengetahui pengaruh cara tanam tersebut terhadap produksi, pendapatan petani, dan bagaimana efisiensi penggunaan inputnya maka dilakukan penelitian di kecamatan Dua Pitue kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan pada tahun 2000. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan teknologi tabela jappok dan tapin (tanam pindah) padi sawah irigasi teknis pada efisiensi produksi dan pendapatan petani. Penelitian ini menggunakan data cross-section dengan mengambil sampel petani cara tabela jappok dan cara tapin masing-masing sebanyak 38 orang dan 62 orang. Untuk melihat pengaruhnya pada efisiensi produksi digunakan analisis fungsi produksi dan fungsi keuntungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Secara umum produksi padi sawah irigasi teknis masih dapat ditingkatkan melalui penambahan luas lahan, penambahan jumlah benih, serta pengurangan jumlah pupuk urea. (2) Secara teknis produksi padi sawah irigasi teknis cara tabela jappok lebih efisien dibandingkan cara tapin. (3) Produktivitas padi sawah irigasi teknis cara tabela jappok tidak berbeda dengan cara tapin, rata-rata produktivitas padi cara tabela jappok 5.204 kg/ha dan produktivitas path cara tapin 4.999 kg/ha. Produktivitas yang dicapai pada penelitian ini masih rendah dibandingkan produksi padi tabela jappok yang pernah dicapai (7,91 t/ha). Hal ini disebabkan oleh banyaknya tanaman mati karena banjir dan tingginya curah hujan pada waktu tanam. Padahal cara tabela jappok sangat peka terhadap genangan air mulai awal tanam sampai umur satu bulan. (4) Efisiensi usahatani padi sawah irigasi teknis cara tabela jappok tidak berbeda dengan cara tapin. Pendapatan petani cara tabela jappok sebesar Rp 2.163.604/ha sedangkan pendapatan petani cara tapin sebesar Rp 2.067.167 / ha. (5) Baik petani cara tabela jappok maupun petani cara tapin tidak mengalokasikan semua inputnya secara alokatif. Pada petani tabela jappok penggunaan pupuk urea, pupuk ZA, pupuk KC1 tidak efisien secara alokatif, sehingga penggunaannya perlu dikurangi. Sedangkan petani cara tapin penggunaan pupuk ZA, pupuk TSP, pupuk KC1, herbisida padat, dan tenaga kerja tidak efisien secara alokatif, sehingga penggunaannya perlu dikurangi. Teknologi tabela jappok dan tapin perlu dianjurkan sesuai dengan keadaan lahan dan tenaga kerja yang tersedia. Perlu penemuan alat tanam yang sederhana dengan harga terjangkau oleh petani.
Direct seeding (Tabela Jappok) is presently reconsidered as a method to increase yield of irrigated lowland rice and thus farmers' income. This study was conduted in Dua Pitue Sub-District, Regency of Sidenreng Rappang, South Sulawesi in 2000. The objectives are to know production effisiency and farmers' income of direct seeded and transplanted (Tapin) lowland rice at technical irrigation area. Cross-section data were collected from 38 and 62 random sample farmers of the two methods of planting, respectively. To know its effect of production efficiency, was used production function analysis and profit function analysis. The result showed that : (1) Yield of technical irrigated lowland rice, in general, still can be increased by enlarging farm size, more of seeds, and reduction of urea. (2) Technically, yield of direct seeded rice was more efficient than transplanted one. (3)Yield of technical irrigated, direct seeded lowland rice was not significantly than that of transplanted one as yield of the farmer was 5,204 kg/ha while the later was 4,999 kg/ha. Productivity observed in this study was a far below the one reported earlier of 7.91 t/ha. The difference might be attributed to flood and extremely high rainfall at planting time. The direct seeding is sensitive to flood during the first month. (4) The efficiency of the direct seeding was not different with transplanting one. Farmers' income at direct seeding was Rp 2,163,604/ha, while Rp 2,067,167/ha at transplanting. (5) Either farmers, direct seeded or transplanted, failed to allocate agricultural inputs allocatively. The use of urea, ammonium sulphate, and potassium chloride by direct seeding farmers is inefficient allocatively; that means their use should be reduced. On the other hand, the use of urea, super phosphate, potassium chloride, solid herbicides, and labor was allocatively inefficient for transplanting farmers, that means that the use should be reduced. The both method of transplanting and direct seeding should be recommended on the field condition and labor availability. A simple planting equipment is needed by farmers.
Kata Kunci : Padi, Tabela Jappok dan Tapin, Efisiensi Produksi, Produktivitas, Pendapatan dan efisiensi alokatif, Rice, Direct Seeding and Transplanting, Production efficiency, Productivity, Income and Allocation Efficiency